selamat jeng tylla, sudah tampil di kompas (kendati salah nama)
karena mengkritik presiden langsung di depan hidungnya....

dengan nyali seperti itu, saya optimistis tylla bisa menjadi
seseorang kelak di kemudian hari....

salam,


Marah sampai Tua

Anda tinggal mengetik nama Tya Subiantoro pada mesin pencari di internet, 
Google.com. Oh, rupanya Tila yang lulusan Universitas Indonesia itu nama 
mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas New 
Delhi, India.

Tya adalah salah seorang peserta yang hadir dalam pertemuan antara sekitar 
100 orang Indonesia di India dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 
November 2005 di New Delhi. Seperti presiden-presiden sebelumnya, Presiden 
Yudhoyono tak pernah lupa mengadakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia 
setiap kali berkunjung ke luar negeri.

Dalam acara tanya jawab Tya ikut memberikan masukan. Ia mengemukakan 
harapan agar Pemerintah Indonesia mencontoh India yang menerapkan sistem 
pendidikan yang murah, tetapi berkualitas.

Tya yang lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas 
Indonesia itu mengatakan, pendidikan di India jauh lebih murah. Itulah yang 
membuat sumber daya manusia (SDM) India unggul.

Tya memberikan contoh, untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi di tempat 
studinya sekarang, ia hanya membayar 600 dollar AS per tahun atau sekitar 
Rp 6 juta. Saya berharap Pemerintah Indonesia benar-benar memerhatikan 
masalah pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat, katanya.

Berita tentang acara tanya jawab itu disiarkan luas oleh media massa cetak 
di sini. Lewat Google.com, Anda dapat membaca saran positif Tila di kantor 
berita Antara, surat kabar Republika, Suara Karya, dan Media Indonesia.

Nah, masukan dari Tya itu dikritik Presiden Yudhoyono lewat berita berjudul 
Presiden Kritik Para Pengkritiknya di harian ini edisi 9 Desember. Presiden 
Yudhoyono mengkritik balik cara-cara yang digunakan para pengkritik 
pemerintah yang dipimpinnya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Presiden menyesalkan kritik yang disampaikan dengan cara menjelek-jelekkan 
keadaan bangsa dan negara sendiri. Saat berdialog dengan masyarakat 
Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai 
menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji-muji luar negeri. Orang itu bicara 
di depan saya. Saya menyesalkan, ujarnya.

Waktu mengumumkan perombakan kabinet, Presiden Yudhoyono juga tampak geram 
menanggapi kritik. Wajar ia marah karena salah satu kritik yang dilancarkan 
nadanya bersifat personal ukan dalam konteks perombakan itu sendiri.

Jusuf Kalla juga marah ketika mendengarkan puisi yang dibacakan Winarno 
Surachmad dalam peringatan HUT Ke-60 PGRI di Solo. Janganlah kita semua 
mengejek-ejek bangsa ini. Bangsa ini perlu semangat membangun. Guru 
pembentuk jiwa dan semangat bangsa. Saya tidak suka itu. Masak guru besar 
seperti itu, katanya.

Tak kurang dari mantan Presiden Megawati Soekarnoputri menyorot soal ini. 
Pesan Megawati dan mantan-mantan presiden/tokoh nasional cukup mengena: 
setiap presiden mestinya mampu memelihara rasa humor dan senang berguyon.

Waktu menjabat, Presiden Megawati tak pernah marah dikritik siapa pun. 
Apalagi Gus Dur yang gemar menanggapi kritik dengan guyonan, seperti waktu 
menanggapi kritik DPR dengan menyebut lembaga legislatif itu seperti taman 
kanak-kanak.

Kenapa presiden Indonesia suka marah? Sebelum menjawab pertanyaan itu 
sebuah hal harus dicamkan: secara kultural kita sebetulnya bukan bangsa 
pemarah, melainkan peramah.

Coba kalau kita bertanya, Marah nih bos?
Oh, enggaaak..., jawab si bos panjang.

Kenapa presiden Indonesia suka marah?
Pertama, presiden Indonesia biasanya marah karena perutnya lapar. 
Kepala-kepala biro protokol dan rumah tangga di kantor presiden dan wakil 
presiden wajib menyetok, membawa, dan menyiapkan bekal untuk bos 
masing-masing setiap kali mereka berkunjung ke luar kota atau ke luar negeri.

Bisa jadi KBRI di New Delhi terlambat menyediakan makanan untuk presiden 
yang perutnya sudah berbunyi seperti suara burung tekukur pada saat 
mendengar pertanyaan Tya. Juga bukan tak mungkin panitia HUT guru tidak 
menyiapkan kue untuk camilan Wakil Presiden sebelum berpidato.
Kedua, pemimpin menjadi marah karena di rumah sedang ngambek kepada istri, 
suami, anak, menantu, besan, atau pembantu. Tanpa disadari, konflik 
internal itu terbawa ke tingkat nasional sehingga rakyat yang tak bersalah 
menjadi sasaran kemarahan.

Pemimpin juga manusia biasa yang tak luput dari hal seperti itu dan 
emosinya sering terombang-ambing cuma gara-gara soal yang sepele di rumah. 
Buktinya Presiden Soeharto dulu beberapa kali marah secara terbuka kalau 
bisnis putra-putrinya dikutak-kutik.

Ketiga, pemimpin biasanya marah karena beban pekerjaan berat di Istana. 
Jika di sekitar pemimpin terlalu banyak durna, atau ada juru bicara yang 
kalau ngomong suka serampangan, wajar jika sang bos marah.

Keempat, pemimpin kita belum paham benar bahwa kritik merupakan bagian yang 
sehat dari sistem demokrasi. Mereka telah terbiasa mendapat dukungan 
politik tanpa syarat dan pamrih, seolah-olah kita semua abdi dalem milik 
sang paduka.

Bung Karno kalau dikritik dengan tega menangkapi tokoh-tokoh oposisi yang 
notabene adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Pak Harto kalau marah bisa 
mengeluarkan kata-kata yang kasar, Nanti saya gebuk!

Makanya, Bung Karno menamakan diri sebagai penyambung lidah rakyat dan 
Soeharto sering berlagak pilon mengatakan, kalau rakyat menghendaki 
menjelang Sidang Umum MPR. Bagi mereka, kekuasaan merupakan hibah dari Yang 
di Atas Sana.

Kelima, presiden-presiden tidak pernah belajar tentang ilmu telinga. Kritik 
dari siapa pun harus dicegat di telinga luar, tanpa perlu memecahkan 
gendang telinga di telinga tengah, apalagi mengganggu saraf-saraf di 
telinga dalam yang sensitif itu.

Marah lagi, marah lagi, marah sampai tua, kata penyanyi cilik kita, Joan 
Tanamal, dalam lagu Marah Lagi....

(Politika BAZ di kompas hari ini)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke