http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/opini/2276201.htm


Soekarno yang Saya Kenal 
Sidarto Danusubroto



Terbitnya buku Antonie CA Dake, Sukarno File, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, 
mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak.

Dalam bukunya, Dake menyatakan, berdasarkan bahan-bahan yang terkumpul semasa 
1965- 1967, Soekarno adalah pelaku dan disebut sebagai pihak yang paling 
bertanggung jawab atas peristiwa berdarah itu.

Dake bukan yang pertama menulis peristiwa itu. Dapat disebut di sini, antara 
lain Buku Putih Pemerintah Orde Baru dan Arnold Brackman (pelaku utama adalah 
PKI dan biro khususnya), Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson (pelaku utama 
adalah CIA/Pemerintah Amerika Serikat (AS); Cornell Paper (Ben Anderson dan 
Ruth McVey), WF Wartheim, MR Siregar, Coen Holtzappel (adanya faksionalisasi 
(klik) dalam Angkatan Darat (AD); Greg Poulgrain (rencana Inggris bertemu 
dengan skenario besar CIA); Antonie Dake dan John Hughes (pelaku utama adalah 
Soekarno); William Oltman, Prof Scott, dan pleidoi Kol Latief (pelaku utama 
Soeharto).

Dari berbagai karya ilmiah itu, berkembang berbagai spekulasi, terutama 
perdebatan siapa dalang dari peristiwa itu. Pemerintah Indonesia telah resmi 
menerbitkan beberapa buku yang menjelaskan masalah sekitar peristiwa itu dan 
menyatakan, dalang pelakunya adalah PKI.

Kita memahami, terbitnya buku-buku tentang peristiwa 1965 adalah bagian dari 
kebebasan menyatakan pikiran dan wacana yang berkembang di kalangan 
intelektual. Aneka pemikiran yang lahir dalam dunia akademis merupakan 
sumbangsih bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Di sisi lain, perlu 
diperhatikan agar kebebasan itu jangan dijadikan sarana mendiskreditkan atau 
menjatuhkan vonis bagi tokoh yang telah berjasa besar bagi bangsa dan negara 
ini.

Sejarah panjang

Untuk dapat memahami Soekarno secara benar dan utuh, harus dilihat dari sejarah 
panjang perjuangannya bagi bangsa Indonesia. Soekarno adalah orang yang amat 
idealis, yang tidak pernah mementingkan diri, tetapi selalu memikirkan 
kepentingan bangsa. Sejak muda Soekarno aktif berjuang melawan Belanda.

Ketika jumlah elite bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan masih sedikit, 
Soekarno telah mengorbankan waktu, tenaga, dan masa depan sejak menjadi 
mahasiswa di ITB, tanpa menghitung untung-rugi perjuangannya. Sebagai insinyur, 
Soekarno sebenarnya memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang menjanjikan 
penghasilan dan fasilitas materi memuaskan. Namun, semua itu tidak digunakan, 
bahkan Soekarno mengorbankan masa-masa mudanya dan sering kelua masuk penjara 
untuk Indonesia merdeka.

Inilah era pantang menyerah Soekarno-Hatta dalam perjuangan menghadapi 
kolonialisme dan imperialisme di Indonesia dan di sebagian besar negara-negara 
Asia Afrika. Masuk keluar penjara dan hidup dalam pembuangan selama belasan 
tahun sama sekali tidak mengubah sikap perjuangan politiknya untuk mencapai 
Indonesia merdeka.

Ketika menjabat Kepala Polda Jabar 1988-1991, sebagai Muspida Jabar, saya 
sempat mengantar Nelson Mandela yang datang ke Bandung untuk bernostalgia 
mengunjungi Gedung Asia Afrika. Gedung itu pernah dihadiri Mandela saat masih 
anggota pemuda ANC (African National Congress), sebelum menjalani hukuman 
selama 27 tahun. Pada kunjungan itu (1989) beliau sulit menemukan gambar 
Soekarno di Museum Asia Afrika (bekas gedung konferensi). Yang ditampilkan saat 
itu gambar Soenario, Ali Sastroamijoyo, dan Roeslan Abdulgani, sebagai pejabat 
yang terlibat Konferensi Asia Afrika.

Mandela menanyakan kepada anggota muspida, Where is the picture of Soekarno. 
Eevery leaders from Asia Africa came to Bandung because of Soekarno, where is 
His picture? Kami kerepotan menjawab pertanyaan itu sebab gambar Soekarno saat 
itu belum terpasang di tempat yang seharusnya. Padahal, Konferensi Asia Afrika 
tahun 1955, di mana banyak pemimpin Asia Afrika hadir, seperti Gamal Abdel 
Nasser, Jawaharlal Nehru, Chou En Lai, Ho Chi Minh, Nkrumah, Norodom Sihanouk, 
dan lainnya adalah bukti pengakuan bangsa Asia Afrika kepada kepemimpinan 
Soekarno-Hatta.

Mandiri

Hal menonjol lain dari pribadi Soekarno adalah sikap politik yang mandiri 
melalui ajaran Trisakti: Berdaulat dalam politik, Berdiri di atas kaki sendiri 
(berdikari) dalam ekonomi, dan Berkepribadian di bidang budaya.

Ketika Soekarno dalam status tahanan politik, dan saya masih bertugas sebagai 
ajudan, saya mengajukan pertanyaan mengapa Bapak tidak mengundang modal asing 
dalam keadaan ekonomi Indonesia makin merosot pada era pascatahun 1963-1964. 
Jawabnya, �Darto, saya bukannya antimodal asing, tetapi saya akan mengundang 
modal asing pada saat sistem dan SDM yang kita miliki sudah mampu 
menghadapinya. Karena, kalau belum kuat, saya khawatir suatu hari republik kita 
akan dikendalikan oleh kekuatan modal asing.�

Dan kekhawatiran Soekarno betul-betul menjadi kenyataan dan kini sedang kita 
hadapi. Sinyalemen Soekarno itu pula yang ditulis John Perkins dalam buku The 
Confession of Economic Hitman, yang merupakan best seller New York Times tahun 
2004. Keteguhan sikap ini membuat Soekarno mengalami tujuh kali percobaan 
pembunuhan dan pemberontakan sayap kiri (PKI Madiun 1948) maupun pemberontakan 
sayap kanan (PRRI/Permesta) yang keduanya mendapat dukungan kekuatan asing.

Tahun 1966 Soekarno tersingkir. Saat itu posisi Indonesia masih kaya dan 
perawan: the rich and virgin archipelago; utang luar negeri 2,5 miliar dollar 
AS, kekuatan angkatan perang nomor dua terkuat di Asia, dan sumber daya alam 
termasuk hutan yang masih perawan sama sekali belum tergali dan tersentuh modal 
asing.

Mikul dhuwur

Dari uraian itu, kita perlu bersikap bijak dalam menempatkan para pemimpin 
bangsa yang telah banyak berkarya dan berjuang untuk negara. Napoleon mengalami 
kekalahan dalam pertempuran Waterloo, tetapi makamnya ada di pusat kota Paris 
dan namanya tetap merupakan legenda bagi bangsanya.

Mao Tse Tung juga membuat sejumlah kesalahan dalam kepemimpinannya, tetapi 
mausoleumnya di lapangan merah dikunjungi ribuan pejiarah setiap hari. Begitu 
juga makam Kennedy di taman nasional Arlington di Virginia, AS.

Last but not least, makam Bung Karno di Desa Bendo Gerit, Blitar, Jawa Timur, 
yang merupakan rezeki tersendiri bagi kota Blitar dengan ribuan pejiarah yang 
tidak pernah susut.

Sebagai bangsa, kita perlu mikul duwur mendem jero para pemimpin, menghormati 
jasa yang dibaktikan. Sikap demikian juga perlu diberikan kepada Soeharto, 
Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan nanti kepada Susilo Bambang Yudhoyono.

Sidarto Danusubroto Mantan Ajudan Presiden Soekarno


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke