http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/opini/2290332.htm

 
Dalang Tragedi 1965 

Baskara T Wardaya

Menarik sekali, akhir-akhir ini wacana Tragedi 1965 mencuat lagi ke permukaan. 
Hal itu terjadi antara lain berkat terbitnya buku terjemahan karya Antonie 
Dake, Sukarno File: Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan.

Telah timbul pro-kontra di masyarakat atas isi buku itu. Belum lama berselang 
harian ini juga menurunkan dua artikel dan satu surat pembaca yang secara lugas 
menanggapi buku itu (Kompas, 3 dan 13/12/2005).

Sedikit disayangkan, buku maupun kedua artikel itu lebih banyak berkisar pada 
pertanyaan-pertanyaan di seputar siapa sebenarnya dalang di balik operasi 
militer yang dilancarkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang menamakan diri 
Gerakan Tiga Puluh September pada 1 Oktober 1965.

Sebagaimana diketahui, di bawah pimpinan Letkol Untung kelompok itu menjemput 
paksa sejumlah perwira militer di Jakarta. Penjemputan paksa itu berujung pada 
tewasnya sejumlah perwira tinggi dan menengah Angkatan Darat, yakni Aipda KS 
Tubun, dan Ade Irma Surjani Nasution.

Siapa sebenarnya tokoh kunci operasi militer itu? Hingga kini masih merupakan 
misteri, dan hal itu telah menjadi fokus berbagai wacana, termasuk 
tulisan-tulisan di atas.

Ratusan ribu

Wacana demikian tentu amat perlu. Tetapi jika tidak hati-hati bisa menimbulkan 
kesan, tragedi tahun 1965 hanya terbunuhnya para tokoh itu. Padahal, tragedi 
tahun 1965 bukan hanya itu. Ada tragedi lain yang tidak kalah dahsyat, yakni 
dibunuhnya ratusan ribu warga masyarakat Indonesia beberapa saat setelah 
terjadinya peristiwa pembunuhan para petinggi militer itu apa pun 
justifikasinya. Mereka dibunuh di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan sejumlah 
tempat lain di Tanah Air. Kebanyakan dari mereka yang dibunuh itu adalah rakyat 
biasa yang kemungkinan besar tak ada sangkut paut dengan operasi militer yang 
dilakukan Letkol Untung dan kawan-kawan di Jakarta.

Dalam jumlah besar mereka dieksekusi tanpa melalui proses pengadilan, sementara 
yang lolos dari eksekusi ditangkap dan dipenjara selama bertahun-tahun, juga 
tanpa proses pengadilan.

Sejumlah tokoh militer dan politik yang diduga terkait operasi militer 1 
Oktober 1965 itu memang diadili oleh suatu mahkamah khusus, tetapi sejauh mana 
pengadilan itu fair masih merupakan tanda tanya. Jumlah yang dibunuh itu begitu 
besar sehingga bisa jadi merupakan pembunuhan warga sipil terbesar yang pernah 
terjadi dalam sejarah bangsa ini.

Lepas dari siapa yang benar atau salah, pembunuhan itu mengingatkan, dalam 
sejarahnya bangsa kita pernah melakukan pembantaian terhadap sesama warga 
dengan cara dan dalam jumlah yang amat mengerikan.

Karena itu, perlulah tragedi berdarah itu terus diteliti dan dipelajari 
sehingga tindakan di luar perikemanusiaan yang adil dan beradab seperti itu tak 
akan terulang di masa datang. Dalam konteks itu pula penting mencari tahu tidak 
hanya siapa dalang di balik pembunuhan 1 Oktober 1965, tetapi juga dalang di 
balik pembunuhan massal pada pekan-pekan terakhir tahun 1965. Penting pula 
mempelajari siapa yang terutama diuntungkan, serta apa saja dampak tragedi itu 
bagi Indonesia saat itu, kini dan di masa depan.

Dalang pembantaian

Secara teoretis, tampaknya tidak akan terlalu sulit menemukan dalang dari 
peristiwa itu, khususnya pada tingkat nasional. Fakta bahwa pembunuhan terjadi 
pada minggu ketiga Oktober di Jawa Tengah, bulan November di Jawa Timur, dan 
bulan Desember di Bali, menunjukkan, pembunuhan itu tidak terjadi secara 
spontan dan serempak. Terkesan ada koordinasi dan provokasi.

Dengan kata lain, ada unsur koordinatordan provokator, dan itu penting untuk 
segera diketahui publik. Seorang perwira militer memang pernah memimpin dan 
mengoordinasikan operasi pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan 
sebagainya, tetapi tampaknya dia lebih merupakan semacam komandan lapangan saja 
(Siregar: 1995).

Besar kemungkinan, ada komando yang datang dari pihak yang lebih tinggi 
daripada dia di Jakarta. Kemungkinan macam itu tentu amat penting untuk 
secepatnya dikaji masyarakat.

Jika dalam kasus operasi militer yang dilakukan Gerakan Tiga Puluh September 
dugaan tentang siapa dalangnya berkisar pada sejumlah pihak (seperti Bung 
Karno, PKI, Letkol Untung, Mayjen Soeharto, dan CIA), dalam kasus pembunuhan 
massal 1965 dugaan serupa bisa lebih dipersempit.

Bung Karno tentu bukan dalangnya karena tak ada tanda-tanda dia pernah 
berpikiran membunuh secara massal anggota Partai Komunis atau partai politik 
apa pun di negeri ini. Letkol Untung juga bukan, karena pada 2 Oktober 1965 
gerakan yang dipimpinnya telah gagal dan ia melarikan diri.

PKI juga tidak karena justru merekalah korban pembunuhan massal itu. Akhirnya 
yang tinggal hanya sedikit kemungkinan, dan itu mendesak untuk segera diteliti 
lebih lanjut. Dengan begitu, diharapkan penelitian dan wacana tentang tragedi 
1965 tidak lagi hanya berkisar pada pencarian dalang Gerakan Tiga Puluh 
September saja, tetapi juga dalang pembantaian massal 1965-1966. Dengan kata 
lain, bahkan jika dalang dari operasi militer 1 Oktober 1965 telah ditemukan, 
masyarakat masih harus mencari siapa sebenarnya dalang dari pembunuhan massal 
1965.

Akhir kata, terpulang kepada masyarakat Indonesia (bukan hanya peneliti asing) 
untuk mencari dan menemukan siapa sebenarnya tokoh kunci di balik pembunuhan 
berskala besar itu. Terpulang kepada masyarakat, langkah apa yang mau diambil 
jika tokoh itu akhirnya ditemukan.

Baskara T Wardaya Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke