http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/opini/2295549.htm

     

      Kebudayaan Nasional yang Demokratis 


      BI Purwantari



      Dalam sejarah Indonesia, nama Ki Hadjar Dewantara tercatat sebagai salah 
seorang tokoh pergerakan nasional dengan pemikiran-pemikiran antikolonialisme 
dan antifeodalisme.

      Salah satu warisan pentingnya adalah sekolah Taman Siswa dan sistem 
pendidikan yang membebaskan rakyat bumiputera dari cengkeraman kolonial. Tak 
hanya itu, pemikiran-pemikiran Ki Hadjar tentang kebudayaan nasional turut 
mewarnai perdebatan kaum intelektual bumiputera di paruh awal abad ke-20 dan 
menjadi basis bagi pembentukan rasa kebangsaan Indonesia.

      Pertanyaan tentang identitas nasional telah dilontarkan Ki Hadjar saat ia 
menulis sebuah artikel berjudul Als ik eens een Neerlander was (Andai Aku 
Seorang Belanda) pada tahun 1913. Artikel ini mengkritik keras rencana perayaan 
kemerdekaan Belanda yang akan dilaksanakan di Hindia Belanda dengan mewajibkan 
rakyat bumiputera yang menjadi jajahan Belanda memberikan sumbangan uang. Meski 
demikian, selain kritik keras terhadap sikap pemerintah kolonial, artikel 
tersebut telah pula mengajarkan tentang harapan dan aspirasi akan kemerdekaan 
bagi kaum bumiputera.

      Gagasan Ki Hadjar tentang nasionalisme selanjutnya ikut mewarnai gerakan 
sosial politik menentang kolonialisme Belanda. Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar 
bukan saja mendapat tentangan keras dari pemerintah kolonial, tetapi juga 
memicu perdebatan di kalangan intelektual bumiputera sendiri. Perdebatan 
tentang kebudayaan tersebut dikenal dengan sebutan Polemik Kebudayaan. Secara 
garis besar, perdebatan itu berlangsung di antara mereka yang disebut kaum 
modernis dengan kelompok yang dianggap mewakili kaum tradisionalis.

      Kumpulan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang kebudayaan itu termuat dalam 
buku berjudul Karja Ki Hadjar Dewantara Bagian II, Kebudayaan dan diterbitkan 
pertama kali oleh Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa pada tahun 1967. Buku 
ini sendiri merupakan seri lanjutan dari buku kumpulan pemikiran Ki Hadjar 
tentang pendidikan yang terbit enam tahun sebelumnya. Dengan tebal halaman 
sebanyak 392 halaman, buku ini mengelompokkan pemikiran Ki Hadjar ke dalam 
tema-tema seperti kebudayaan umum, kebudayaan dan pendidikan atau kesenian, 
kebudayaan dan kewanitaan, kebudayaan dan masyarakat, serta hubungan dan 
penghargaan kita.

      Konsep Tri-Kon

      Di buku kumpulan karya Ki Hadjar ini, ia menguraikan arti dasar 
kebudayaan sebagai buah budi manusia. Kata kebudayaan sendiri berasal dari kata 
cultura yang merupakan perbendaharaan bahasa Latin. Kata cultura itu merupakan 
perubahan dari kata colere yang berarti memelihara, memajukan serta 
memuja-muja. Ini berarti kata cultura itu tidak saja mengandung arti buah budi 
manusia, tetapi yang juga penting adalah arti memelihara dan memajukan. Itulah 
yang, menurut Ki Hajar, menjadi tujuan dari segala usaha kultural.

      Tujuan memelihara dan memajukan kehidupan manusia sering kali harus 
berhadapan dengan kekuatan alam yang menghambat ataupun pengaruh zaman yang 
merintangi usaha manusia tersebut. Ketika berjuang menghadapi kekuatan alam dan 
pengaruh zaman itu, manusia melahirkan kebudayaan baru. Dengan demikian, 
kebudayaan juga merupakan hasil perjuangan manusia dalam menaklukkan rintangan 
alam dan menyesuaikan diri dengan pengaruh zaman atau masyarakatnya. Selain 
itu, kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk abadi, tetapi terus-menerus 
berganti wujudnya karena perubahan alam dan zaman. Kebudayaan yang hidup di 
zaman lampau memajukan kehidupan manusia, boleh jadi di zaman sekarang justru 
mempersulit manusia. Zaman dahulu, misalnya, arca-arca sangat berfaedah sebagai 
alat pendidikan. Saat ini arca-arca itu hanya meninggalkan jejak-jejak kekunoan 
dan aspek keindahan.

      Pemikiran tentang kebudayaan nasional menjadi bahasan yang sering muncul 
di dalam buku ini. Menurut Ki Hadjar, kebudayaan selalu mempunyai sifat 
nasional, �karena rakyat yang menimbulkan kebudayaan tersebut ialah semua 
orang yang hidup di dalam satu lingkungan alam dan satu lingkungan zaman�. 
Orang-orang itu, meskipun sebenarnya memiliki kebudayaan yang saling berbeda, 
tetapi mereka saling berhubungan sehingga mau tidak mau akan terjadi pertukaran 
kebudayaan.

      Dalam kaitan dengan kebudayaan nasional, Ki Hadjar menuturkan bahwa 
kebudayaan nasional terbentuk dari puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang 
terdapat di seluruh wilayah Indonesia, baik kebudayaan lama maupun baru. Ia 
mencontohkan bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Melayu. Meskipun 
demikian, bahasa-bahasa daerah lainnya, dalam perkembangannya, turut menyumbang 
pertambahan kosa kata bahasa Indonesia. Hal yang sama terjadi di lapangan 
kesenian di mana unsur-unsur seni tiap daerah bisa saling memengaruhi satu sama 
lain.

      Perkembangan kebudayaan nasional, menurutnya, harus melalui jalan yang 
disebutnya tri-kon, yaitu memiliki kontinuitas dengan kebudayaan yang telah 
silam, menjalankan konvergensi dengan jalannya kebudayaan-kebudayaan lain, dan 
akhirnya bersifat konsentris dalam persatuan dengan kebudayaan dunia walaupun 
tetap mempertahankan kepribadian sendiri. Konsep tri-kon ini harus menjadi 
pedoman dalam pergaulan dengan kebudayaan asing. Dengan demikian, kebudayaan 
nasional tidak akan meninggalkan kepribadiannya, namun juga terbuka terhadap 
kebudayaan lain.

      Polemik Kebudayaan

      Gagasan-gagasan Ki Hajar Dewantara tersebut memicu perdebatan di kalangan 
penggagas Pujangga Baru, terutama Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Di dalam 
artikelnya yang berjudul Menudju Masjarakat dan Kebudajaan Baru Indonesia 
"Prae-Indonesia, Sutan Takdir menolak gagasan tentang kebudayaan Indonesia yang 
merupakan kontinuitas dari kebudayaan masa silam. Menurut STA, Indonesia jang 
ditjita-tjitakan oleh generasi baru bukan sambungan Mataram, bukan sambungan 
keradjaan Banten, bukan keradjaan Minangkabau atau Bandjarmasin. Kebudajaan 
Indonesia tiadalah mungkin sambungan kebudajaan Djawa, Melaju, Sunda, atau 
kebudajaan lainnya (Achdiat K Mihardja, Polemik Kebudajaan, 1954).

      Berbeda dengan Ki Hadjar yang mengusulkan untuk mengambil puncak-puncak 
kebudayaan daerah, baik lama ataupun baru, dan bersikap terbuka terhadap 
kebudayaan asing, STA meyakini bahwa kebudayaan Indonesia baru harus 
benar-benar bebas dari kebudayaan lama. Cita-cita masa depan bangsa menurutnya 
tidak berakar pada masa silam, melainkan pada harapan kemuliaan di kemudian 
hari. Ia juga menilai bahwa masyarakat kepulauan Nusantara ini telah 
berabad-abad statis, mati. Untuk mencapai cita-cita baru itu, mereka harus 
menjadi dinamis, hidup. Alat yang dapat dipakai untuk mencapai kondisi dinamis 
itu menurutnya adalah kebudayaan Barat.

      Pemujaan kepada kebudayaan Barat oleh STA ini berangkat dari analisisnya 
terhadap kondisi rakyat bumiputera pada tahun 1930-an. Menurutnya, semangat 
keindonesiaan yang menghidupkan kembali bangsa Indonesia yang berabad-abad mati 
pada hakikatnya diperoleh dari Barat: Budi Utomo dilahirkan oleh orang-orang 
yang mendapat didikan Barat; cara organisasi yang dipakai untuk mengganti 
persatuan berdasar keturunan diadopsi dari Barat; para tokoh pergerakan 
nasional sebagian besarnya mendapat didikan atau pengaruh Barat.

      Gagasan STA itu mendapat tentangan dari tokoh-tokoh seperti Sanusi Pane, 
Dr Sutomo, Purbatjaraka, Adinegoro, dan Ki Hajar Dewantara sendiri. Sanusi Pane 
membantah bahwa zaman Indonesia tidak boleh dianggap terusan zaman 
pra-Indonesia. Menurutnya, sejarah adalah rantai masa yang berada di 
belakangnya. Manusia tidak dapat tiba-tiba menjadi dewasa tanpa melalui masa 
kanak-kanaknya. Hal itu sama artinya dengan mengadakan barang dari yang tidak 
ada. Ia memberi contoh, Pujangga Baru lahir karena adanya Pujangga Lama. Tanpa 
adanya Pujangga Lama tidak akan lahir generasi baru yang merupakan hasil kritik 
terhadap generasi lama.

      Perdebatan ini sering kali disederhanakan sebagai perdebatan antara kubu 
modernis dan kubu tradisionalis. Padahal, apabila kita melihat lebih jauh, 
silang pendapat ini melibatkan tokoh-tokoh yang modernis, mereka menerima ilmu 
pengetahuan modern dan mengadopsi apa yang mereka pahami sebagai kebudayaan 
Barat. Mereka juga menentang tradisi feodalisme dan menolak jika kebudayaan 
Indonesia baru harus sepenuhnya diambil dari kebudayaan feodal ataupun 
mentah-mentah dari kebudayaan rakyat (Media Kerja Budaya, edisi online).

      Perbedaan mendasar baru muncul ketika gagasan-gagasan ini dihubungkan 
dengan gerakan melawan kekuasaan kolonial. Tjipto Mangoenkoesoemo pernah 
menyatakan bahwa pertentangan fundamental itu bukan antara Timur dan Barat atau 
antara orang-orang Hindia dan non-Hindia, tetapi antara dominasi dan 
subordinasi, apa pun bentuknya. Pernyataan ini semakin jelas dengan argumen 
yang dikemukakan Ki Hadjar dalam menanggapi pandangan STA.

      Ki Hadjar melihat bahwa pendidikan barat yang dilaksanakan di Hindia 
Belanda bersifat sangat elitis sehingga tidak menjangkau rakyat jelata. 
Pendidikan itu sendiri juga berorientasi ke negeri Belanda. Akibatnya, elite 
bumiputera yang mengenyam pendidikan Belanda itu dijauhkan dari realitas 
bangsanya sendiri dan pada gilirannya akan menumpulkan pembentukan kesadaran 
kolektif bangsa. Lebih jauh lagi, menurut Ki Hadjar, tanpa kebanggaan dan 
pengetahuan yang cukup tentang masa lalu dan kebudayaan sendiri, apa yang bisa 
diharap selain ketundukan dan kekaguman berlebihan pada kebudayaan yang lebih 
berkuasa, kebudayaan sang penjajah? (Media Kerja Budaya, edisi online).

      Jelas bahwa yang diinginkan Ki Hadjar bukan sekadar membangga-banggakan 
kebudayaan masa silam sambil membuka diri kepada kebudayaan asing. Lebih jauh, 
Ki Hadjar menganggap penting adanya perkawinan budaya yang demokratis antara 
pihak-pihak yang berasimilasi. Tanpa demokrasi, yang terjadi adalah kemunduran 
dan kematian salah satu kebudayaan, atau penjajahan satu kebudayaan oleh 
kebudayaan lainnya.

      Ironisnya, cita-cita Ki Hadjar menciptakan kebudayaan Indonesia yang 
demokratis itu saat ini harus berhadapan dengan musuh yang dahulu dengan gigih 
dilawannya, yaitu kolonialisme yang mengambil bentuk baru: imperialisme ekonomi 
dan budaya. Kekhawatiran Ki Hadjar dahulu justru mendapatkan wujud konkretnya. 
(BI Purwantari/Litbang Kompas)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke