http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/Politikhukum/2295828.htm

  

Thung Ju Lan dan Pembangunan Bangsa 

Imam prihadiyoko dan subur tjahjono



Tidak banyak orang seperti Dr Thung Ju Lan (47) menekuni bidang yang selama ini 
diklaim sebagai hak milik orang-orang Indonesia asli, yakni soal pembangunan 
bangsa (nation building), narasi besar yang terasa usang dewasa ini. Padahal, 
soal itu kembali menemukan relevansinya didiskusikan bersama untuk menemukan 
kembali keindonesiaan. Kasus Aceh dan Papua adalah contoh aktualnya.

Pergumulan perempuan peneliti di Pusat Penelitian Manusia dan Budaya Lembaga 
Ilmu Pengetahuan Indonesia ini dengan soal-soal pembangunan bangsa tak lepas 
dari kegundahan hatinya atas belum tuntasnya masalah China di Indonesia.

Namun, dalam perkembangannya, pergulatan intelektual putri sulung delapan 
bersaudara dari pasangan Thung Tjiang Hoa (alm) dan Ie Sok Tju ini tak lagi 
berkisar soal China dan pembangunan bangsa, tetapi dalam tiga tahun belakangan 
ini juga menekuni bidang resolusi konflik. Berbagai penelitian di tiga bidang 
itu digelutinya.

Ketika Kompas mewawancarainya di Bogor, Kamis (15/12), ia dan rekan setimnya 
tengah menyelesaikan laporan penelitian tentang etnisitas dan kesenjangan.

Berikut petikannya:

Mengapa meminati bidang pembangunan bangsa?

Saya kan lulusan Sastra China UI. Awalnya sih ingin meneliti soal China di 
Indonesia. Tetapi, kalau berbicara masalah China di Indonesia, ternyata terkait 
dengan pembangunan bangsa (nation building).

Soal China di Indonesia, isu sebelumnya terkonsentrasi masalah asimilasi. 
Padahal, persoalan etnis ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan semula. Saya 
kepaksa melihat ekonomi dan politik. Apalagi, sejak tahun 1998, saya lihat di 
mana-mana bermasalah.

Kenapa hingga sekarang kok belum selesai masalah etnisitas dan pembangunan 
bangsa itu?

Karena kita dari dulu pada awal-awal pendirian negara kan tujuannya ingin 
menjadi satu bangsa. Itu ada kecenderungan kita mencari kesamaan, mengabaikan 
perbedaan.

Setengah dipaksa?

Waktu itu sebetulnya tidak. Cita-citanya sama. Cuma dianggap perbedaan ini bisa 
diselesaikan belakangan. Tetapi sayangnya, setelah itu kita terus perang dan 
berantem sehingga tambah sulit menatanya. Setelah tahun 1967- 1968, Presiden 
Soeharto mengutamakan pertumbuhan ekonomi dulu, baru membereskan yang 
lain-lain. Akhirnya urusan pembangunan bangsa diabaikan sama sekali.

Karena saya berasal dari etnis China, saya melihat kayaknya etnis China 
meskipun dari awal sejarahnya sudah terintegrasi dan banyak hal yang mendukung 
mereka bagian dari Indonesia, mereka tetap diperlakukan sebagai orang luar.

Alasan mendasarnya kenapa?

Secara mendasar karena interpretasi dari UUD 1945. Waktu itu memang 
pembagiannya ada orang Indonesia asli dan peranakan Tionghoa dan peranakan 
Eropa. Itu semua dianggap disahkan menjadi warga negara Indonesia. Tetapi 
kelihatannya, interpretasi selanjutnya, pakai koma. Dalam arti warga negara 
adalah orang Indonesia asli, yang lain disahkan undang-undang.

Akhirnya interpretasinya pada waktu administrasi yang lain itu otomatis, tetapi 
yang luar ini adalah orang-orang asing yang disahkan. Jadi, naturalisasi 
menjadi penting.

Setelah memasuki era demokrasi ini, bagaimana nasib keturunan China? Sebagian 
membentuk partai....

Apa sih pengertian demokrasi? Sampai sekarang banyak orang tidak mengerti. Apa 
yang disebut modern saja terkait dengan rasionalisasi. Sebagian dari kita kalau 
pendidikannya kurang, jauh untuk demokrasi dalam arti sebenarnya.

Kalau Anda mau menerapkan demokrasi, Anda dan saya mestinya sederajat. Kalau 
Anda sudah merasa inferior, saya superior, mana bisa demokrasi? Demokrasi 
membutuhkan saling pertukaran ide dan membuat keputusan bersama. Bukan saya 
yang membuat keputusan atau Anda.

Makanya, demokrasi kita masih tahap awal. Menurut saya yang paling penting 
pendidikan. Kalau pendidikannya tak setara, Anda ngomong ke kiri, saya ngomong 
ke kanan, mana bisa kita mencari titik temu. Bukan soal menyamakan kepentingan, 
tetapi mencari titik temu supaya kepentingan kita berdua bisa dicapai dengan 
kompromi. Untuk rasionalisasi seperti itu kan jauh.

Kalau dari segi pendidikan, etnis China juga timpang kan? Sebagian besar 
pendidikannya ekonomi. Sebagian besar jadi profesional, seperti dokter dan 
insinyur. Jarang yang mengambil ilmu sosial karena kebanyakan nya dibutuhkannya 
oleh pemerintah. Orang China sendiri kalau masuk dalam pemerintahan tidak 
mungkinlah. Sampai hari ini anak-anak muda kalau jadi tentara diterima enggak 
ya?

Setelah tahun 1970-1980, orang China kalau mau masuk pegawai negeri dan 
tentara, itu enggak mungkin. Kalau mungkin, pasti kelas rendahan dan tak pernah 
bisa naik. Pola pikir seperti itu sudah menyebar ke sebagian besar orang China.

Di tingkat negara kan tidak ada diskriminasi seperti itu?

Secara formal legal tidak ada. Tetapi, orang tahu tentang diskriminasi kelompok 
di tingkat pegawai negerinya. Itu kenapa bukan hanya orang China yang 
terdiskriminasi. Kita lihat orang Dayak, Papua, juga merasa sama kan? Itu sudah 
menjadi rahasia umum, walaupun secara aturannya tidak ada departemen mana pun 
yang melarang orang China masuk ke sektor itu.

Bagaimana mengubah pola pikir itu semua?

Ya, lewat pendidikan. Pendidikan itu bukan sekadar bagaimana Anda menjadi 
sarjana semuanya, tetapi pendidikan kritis. Itu bisa tidak selalu dari sekolah. 
Bisa lewat lembaga swadaya masyarakat, juga dari media. Cuma persoalannya tidak 
direncanakan dan diarahkan dengan baik.

Saya tak mengatakan diatur negara pakai undang-undang, tetapi perencanaannya 
yang benar dan ada orang pintar yang memikirkannya. Misalnya dalam media itu 
bagaimana kita ingin membangkitkan semangat kebangsaan melalui media. Siapa 
memberi sumbangan apa.

Nasionalisme di Indonesia, tampak tidak pernah selesai. Ada yang bilang sudah 
usang, ada pula yang menganggap justru dibutuhkan.. Bagaimana Anda?

Persoalannya terletak pada cara pandang kita, terutama terkait dengan etnisitas 
dan pengelompokan sosial yang senang memperkuat stereotip. Padahal, etnisitas 
dan budaya itu selalu berkembang. Kalau kita tidak mengubah itu, maka muncul 
persoalan. Nasionalisme juga berkembang.

Sebagai konsep juga selalu berkembang sesuai dengan perkembangan yang terjadi 
di masyarakat. Kita harus selalu memodifikasi konsep nasionalisme itu sendiri, 
apalagi di tengah arus globalisasi.

Itu sebabnya saya tidak setuju penghapusan surat bukti kewarganegaraan Republik 
Indonesia (SBKRI). Tetapi, saya mengusulkan semua warga negara harus mendapat 
SBKRI sehingga akan memudahkan administrasi kewarganegaraan. Adil bagi semua 
warga negara.

Kita sebenarnya bisa melihat nasionalisme dalam dua konteks, yaitu ekonomi dan 
politik, yang sampai kapan pun tak pernah hilang. Tetapi, kalau variabel budaya 
tidak dibuat segregasi, maka tak akan menjadi soal dalam nasionalisme. Tetapi, 
pemerintah malah lebih sering memunculkan kembali label-label sosial budaya 
yang seharusnya tidak perlu.

Masalah nasionalisme juga karena kita cenderung menyeragamkan. Kalau menurut 
saya arti nasionalisme seperti ini, Anda juga harus seperti ini. Anda merasa 
sebagai orang Indonesia bagaimana? Kenapa Anda merasa orang Indonesia? Apa yang 
menyebabkan Anda merasa saya ini bukan orang Amerika?

Untuk saya, walaupun saya pernah tinggal di luar negeri, inilah saya punya 
Tanah Air. Tetapi persoalannya Anda jangan mengatakan saya harus nasionalis 
menurut ukuran para tentara dan ukuran para menteri. Bahwa kalau saya 
nasionalis harus ganti nama, saya harus mengubah mata sipit saya menjadi belo, 
harus kawin campur. Itu siapa yang mengatakan? Yang penting, saya merasakan ini 
negara saya. Kalau ada apa-apa saya siap membelanya. Itu kan?

Kalau sekarang bicara orang Aceh, orang Papua, diragukan juga nasionalismenya 
karena separatis. Dari mana ukurannya? Siapa yang bilang mereka mau berpisah? 
Orang mereka tidak pindah-pindah dari Aceh dan Papua. Ukuran separatisnya dari 
mana? Apakah mereka harus bikin barisan dan di perbatasan bilang orang 
Indonesia tak boleh masuk? Kita datang diterima kan?

Yang mereka ributkan adalah di mana Aceh dan Papua akan ditempatkan dalam 
nasionalisme Indonesia karena ukuran nasionalisme Indonesia di Jawa sini kan? 
Yang menentukan orang Jawa bahwa nasionalisme itu loyal pada Jakarta. Siapa 
bilang? Kalau dia loyal pada tanah Aceh, selama Aceh menjadi bagian kita, 
kenapa dia tak boleh dibilang nasionalis?

Masih bisakah Indonesia bertahan?

Selama orang yang mengaku Indonesia ada, negara ini masih ada. Tetapi, mulainya 
jangan dengan negara, tetapi bangsa. Sebagai bangsa, Indonesia tidak perlu 
dipikirkan ulang. Semua orang yang merasa, berbahasa, dan mencintai Indonesia 
dengan segenap daerah-daerahnya, dia adalah Indonesia.

Kalau bicara negara, sering kali dirancukan dengan pemerintah yang merasa lebih 
pintar dari seluruh Indonesia. Inilah yang merusak dalam bernegara. 
Implikasinya, pemerintah yang merasa tahu semua yang baik untuk warga negaranya 
main atur sendiri saja tanpa mempertimbangkan keberadaan dan kehendak rakyatnya.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke