REFLEKSI: Agaknya tak cocok kalau judul orang miskin tambah banyak dikaitkan 
dengan haji, sebab misalnya tahun ini kurang lebih 200.000 orang pergi 
melakukan ibadah suci. Masing-masing anggota jemah haji paling kurang 
mengeluarkan US$ 3.000,-- untuk ticket dan uang saku. Bukankah kalau dihitung 
jumlah uang yang dikeluarkan  200.000 x US$ 3.000,-- = US$ 600.000.000,--  
suatu jumlah yang tidak sedikit bagi yang dikatakan miskin? Kelirukah tanggapan 
demikian?


REPUBLIKA
Jumat, 16 Desember 2005


Orang Miskin Tambah Banyak (7) 
Haji & Pemberdayaan 

Oleh : Zaim Uchrowi 


"Mohon maaf dan doa. Insya Allah kami akan menunaikan ibadah haji." Kertas 
kecil bergambar Ka'bah itu sudah tergeletak di meja. Pengirim pesan itu, 
seorang kawan, segera berangkat berhaji. Di mata saya, ia sudah sangat layak 
menjalankan ibadah agung yang dicontohkan Rasulullah SAW sekali sepanjang 
hidupnya, yakni di tahun terakhir menjelang tutup usia. Dengan kualitas 
pribadinya, insya Allah tak sulit bagi kawan saya ini untuk dapat menjadi 
pribadi ideal seperti hasil yang diharapkan dari proses berhaji.

Dalam kesehariannya, ia telah beragama secara relatif kaffah. Ibadahnya tentu 
saja sudah sangat terjaga. Bukan hanya yang wajib, namun juga yang sunah 
termasuk ibadah malam. Alquran selalu menyertainya pergi. Ketika ada waktu 
luang, ia akan sempatkan diri menyimak kalam Tuhan. Ibadah horizontalnya juga 
sepadan dengan ibadah vertikalnya. Ia tak menutup rapat pintu rumahnya yang 
terletak di kompleks yang relatif atas. Secara rutin ia terus berbagi rezeki 
dengan orang-orang biasa di lingkungannya. Ia bukan sekadar seorang yang punya 
uang buat membiayai diri pergi berhaji, namun seorang yang telah mempunyai 
kematangan dalam hidup.

Bagi sosok seperti dia, haji akan menempati posisi yang semestinya. Yakni, 
sebagai ibadah puncak setelah kita menuntaskan seluruh ibadah lain secara 
relatif baik. Ibarat pendidikan formal, haji seperti program doktoral yang 
harus ditempuh setelah seseorang menamatkan seluruh sekolahnya dari SD hingga 
S-2 secara sah. Dengan posisi seperti itu, haji bukan semata wisata rohani 
(rihlah ruhiyah) seperti yang terjadi pada banyak orang lain, dan jelas bukan 
lagi ritual prestise apalagi politis. Berhaji akan menjadi proses penyempurnaan 
diri dengan meneladani sikap dan perilaku Ibrahim AS, seperti yang dicontohkan 
Rasulullah SAW.

Dalam Alquran (22:78) Allah SWT meminta kita berjihad dengan "sesungguhnya 
jihad." Bentuk jihad di situ adalah meneladani Ibrahim AS yang diistilahkan 
sebagai 'Bapak kalian'. Kita tahu, perjalanan hidup Ibrahim AS adalah 
perjalanan membebaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan. Perjalanan itu 
adalah perjalanan menjadi manusia 100 persen merdeka. Hanya manusia merdeka 
yang akan mampu mengatasi persoalan hidupnya. Hanya manusia merdeka yang dapat 
meraih sukses sejati. Hal tersebut akan terwujud bila kita mampu menyingkirkan 
segala bentuk keterjajahan diri sendiri dengan bergantung HANYA pada Sang 
Khalik. 

Ibrahim AS telah membuktikan itu. Ia bebaskan diri dari penjajahan berupa 
pengagungan berhala. Ia bebaskan diri dari penjajahan logika bahwa seorang ibu 
dan bayi kecilnya pasti akan mati kering bila ditinggalkan di tengah lembah 
gurun tanpa penaung, tanpa sebutir makanan dan setetes minuman pun. Ia hanya 
berpegang pada satu keyakinan: ada Tuhan yang tak akan membiarkan hambanya yang 
baik serta bersungguh-sungguh dalam berusaha. Dengan satu modal itu, Ibrahim AS 
menjadi manusia merdeka. Menjadi manusia sukses sejati.

Menjadi merdeka adalah kunci kejayaan. Karena itu, setiap orang harus merdeka. 
Kemerdekan itu tidak akan tercapai bila manusia masih menuhankan apa pun 
(termasuk paham keberagamaannya sendiri) selain Allah SWT. Manusia sejati 
adalah manusia yang terbebas dari bayang-bayang apa pun. Itulah nilai dasar 
Islam. Paulo Freire mengingatkan bahwa persoalan kemanusiaan termasuk 
kemiskinan adalah persoalan keterjajahan. Pembebasan manusia menjadi merdeka 
merupakan solusinya. Ibrahim AS, sekali lagi, sudah membuktikan itu. Dan 
berhaji adalah peneladanan terhadap bukti sejarah tersebut. 

Berkesadaran penuh meneladani Ibrahim AS dalam berhaji merupakan proses 
penyempurnaan diri sebagai manusia. Bila terwujud, hasilnya adalah manusia 
dengan karakter ith'amut tha'am wa liinul kalam. Manusia yang akan selalu 
memberdayakan orang lain hingga mampu memenuhi nafkahnya sendiri. Manusia 
seperti itu juga akan selalu bijak dalam berkata-kata.

Orang miskin tambah banyak (OMTB). Di Jawa Barat saja, saban tahun jumlah warga 
miskin bertambah sekitar 100 ribu keluarga. Belum lagi di wilayah lainnya. Itu 
persoalan sangat serius. Ibadah haji tahun ini semoga tak sekadar menjadi 
ibadah pengguguran kewajiban, melainkan punya makna mendalam bagi pembebasan 
kaum miskin untuk menjadi orang berdaya. Spirit haji punya arti besar 
pemberdayaan tersebut. Maka, saya merasa perlu berdoa untuk kawan itu, juga 
buat Anda semua yang berhaji tahun ini, semoga dapat berhaji sebenar-benarnya 
buat meneladani Ibrahim AS.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/wlSUMA/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke