http://www.indomedia.com/bpost/122005/17/opini/opini1.htm
Banjarmasin, Kota Yang Tidak Adil Pada Sungai Oleh: Jarkasi Sungai bagi masyarakat Banjar memiliki daya renung dan muatan filosofis yang dalam, baik karena sungai memiliki ideasi lanskap alam dan lingkungan ekologi yang khas atau pun karena sungai memang memiliki kontribusi terhadap sikap dan peradaban anak Banjar sejak masa lalu. Bambang Subiyakto dalam jurnal Sosiohumanika, 14 (1), Januari 2001 mengedepankan catatan, masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya adalah masyarakat yang sungai oriented atau masyarakat yang berkebudayaan sungai (river culture). Dalam catatan lain, Tjilik Riwut via Bambang Subiyakto juga mengemukakan, sekitar 1950-an dan 1960-an, masyarakat melakukan kegiatan berdagang, mencari ikan, ke kantor, ke sekolah, ke pasar, rekreasi, bertani, dan rupa-rupa aktivitas lainnya di lanskap sungai Banjarmasin. Bangsa Eropa yang cukup respek pada sungai di Banjarmasin adalah tuan kolonialis Belanda. Konon, menurut tetuha Banjar kita, orang Belanda pernah membuat peraturan agar masyarakat tidak boleh membangun apa pun di sepanjang bantaran sungai di Kota Banjarmasin tempo dulu. Orang-orang Belanda itu sudah mencermati, sungai memberi arti dan berkontribusi secara mendalam terhadap sikap sosial orang Banjar. Tetuha kita dulu juga berharap banyak terhadap sungai di Banjarmasin untuk selalu dijaga dan dipelihara, karena tipografinya yang sangat unik maupun jumlahnya yang begitu banyak. Peran sosial maupun politiknya cukup kental. Sebagian sungai itu juga cukup bersejarah membangun peradaban dan performans politik. Karena itu, tidak salah kalau orang memberi slogan Banjarmasin adalah Kota Seribu Sungai. Sungai memiliki estetika yang cukup kuat dalam membangun ketahanan budaya masyarakat kampung di Banjarmasin. Masyarakat kampung yang dihubungkan oleh aliran sungai lebih mudah harmonis dan tertata sebaik-baiknya secara alami. Pada umumnya, sikap sosial orang kampung sungai ini berinteraksi cukup harmonis dan kekeluargaan. Sifat air yang mengalir pelan, memasuki sungai yang membelah kampung, mencari tempat rendah, serta gerakannya yang mengikuti liukan parit dan memainkan lenggang-lenggok kangkung dan ilung, lalu melintas komunitas ke komunitas, menyimpan estetika sekaligus sugesti kepada penduduknya untuk berinteraksi antarorang dan menyambungkan antarkebiasaan masyarakat. Siapa saja orang Banjar atau dingsanak lain yang melewati sungai dari kampung yang berbeda, selalu menyapa dan meminta permisi ikut lewat di sungai itu. Demikian juga sebaliknya, sehingga keharmonisan itu selalu terbangun, saling membutuhkan dan karena itu mereka saling menyayangi. Meski juga ditemukan ada sebagian masyarakat yang menghina sungai dengan cara membuang kotoran dan sampah ke dalamnya, tapi sikap itu bisa diingatkan dan diperbaiki di kemudian hari. Masyarakat masa lalu amat memahami arti sungai, karena itu mereka menjaganya dan merasa malu kalau berbuat tidak senonoh terhadap sungai. Jangankan membuat rumah di pinggir sungai, membangun batang (tempat mandi) saja yang agak ke tengah sungai akan ditegur orang. Jika sungai dalam keadaan pampan (tertutup sampah) atau pun dangkal, masyarakat di sekitarnya bergotong royong menggeser sampah, ilung, dan sebagainya atau pun mangukut (menggali) lapisan Lumpur atau tanah yang menyebabkan kedangkalan. Secara naluriah tidak pernah terlintas di pikiran masyarakat dulu apalagi berpendapat, sungai itu sendiri yang disalahkan. Tapi orang sekarang justru sebaliknya, berpendapat sungai itulah yang salah. Karena itu, mereka beramai-ramai dan badahuluan menimbunnya dan memasukkan apa saja yang bisa ditimbai ke dalamnya. Sekarang kondisi sungai di kota ini sangat tragis, yang dulu lebarnya 15 meter --jukung tiung mampu berputar-- sekarang tidak bisa lagi. Jangankan jukung tiung, cucu jukung sudur saja tidak bisa berputar. Kota sekecil Banjarmasin ini, ternyata tidak bisa ditegasi oleh elit pemimpinnya memelihara sungai. Nah, masyarakat Banjar sekarang perlu mencermati setiap calon walikota Banjarmasin, yang hanya bermodal obsesi handak menjadi bukan handak menatanya secara baik, ambil duitnya aja kemudian pilih yang lain. Kota Banjarmasin memiliki slogan silih berganti; Kayuh Baimbai, Berintegrasi, Kota Seribu Sungai. Semua slogan ini yang lebih populer adalah Kayuh Baimbai, karena memiliki cognate pada sungai. Secara sadar, idiom itu mencoba menghubungkan beberapa indikator penting dari substansi dan pola perilaku yang diharapkan senada dengan hakikat air dan sungai. Tentu saja itu bukan 'harga mati', sebab realitas sosial budaya selalu bersifat dinamis. Tapi sadar atau tidak, kita telah memproyeksikan hakikat sungai dan menemukan paralel antara dunia tingkah laku dan lalu lintas benda di dalamnya dengan seni berkehidupan masyarakat yang ada di lingkungannya. Wajarlah sekarang cerminan rendahnya moral sosial atau etika berkehidupan, karena sungai masa lalu tidak lagi memberi sugesti terhadap inspirasi pergaulan masyarakat dan lingkungannya sekarang. Kita bisa menemukan hal yang sama pada pola pergaulan baik, skala keluarga, lingkungan kampung, maupun keterkaitan urusan antarwarga, bahkan manusia pada umumnya dalam skala yang lebih luas. Sekolah dan universitas hanya mengajarkan kepandaian, informasi, dan keterampilan mengejar kepentingan pribadi, tapi lupa memberi pada lanskap kota. Proyek pembangunan yang diselenggarakan walikota dan pemimpin kita lainnya di kota tertua ini --meminjam istilah Ir Subhan Syarif-- hanya menghidupsuburkan kapitalisme. Tidak ada keteladanan dan ketegasan yang berarti dari kaum birokrat terhadap eksistensi sungai di kota ini. Lebih parah lagi bahkan ada walikota yang sengaja mendera sungai dengan menyumbat nafas hidupnya, mempersempit jalan airnya, menimbuni kedalamannya, memberi izin membangun sesuatu di tengahnya, di pinggirnya. Besar kemungkinan, sebentar lagi anak sungai di samping jalan tembus Kampung Pengambangan juga akan tertutup urukan dan sedikit pun 'beliau' tidak memberi warning. Menjual sungai untuk bisa dibangun sesuatu di dalamnya. Ini betul-betul tidak mendidik generasi berikutnya agar memiliki kepekaan yang tinggi terhadap substansi sungai. Kemanusiaan kita menjadi angkuh dan mati dalam memahami keberadaan sungai. Sadar atau tidak, kita telah berbuat tidak adil terhadap sungai di kota ini. Kecuali sekelompok kecil orang yang selalu berjuang untuk memperbaiki lingkungan mengingatkan 'sungai'. Tapi tidak jarang aktivis ini juga sering dituding sebagai LSM yang hanya mengganggu eksistensi pembangunan di kota ini. Lucu! Yang memiriskan lagi, suara kritis mereka ditafsirkan sebagai provokasi, hanya untuk minta uang. Sungguh kejam memang bila walikota yang memimpin kota ini otodidak. Dia tidak mampu dan memang tidak mau mengerti aspek lingkungan. Mata pelajaran geografi yang didapatkannya dulu tidak membuatnya paham arti dan keberadaan sungai. Mata pelajaran itu diangganya tidak berperan dalam mengajarkan pembangunan lingkungan. Sungai --sebagaimana di Kota Banjarmasin-- secara budaya sesungguhnya telah membangun peradaban. Masyarakat kampung yang mengitari daerah sungai saling berintaraksi dan berhubungan dengan sungai. Mereka lebih mudah ditata dan diharmoniskan secara alami oleh keberadaan sungai. Sebagaimana sifat air dan tipografi sungai yang meliuk-liuk, demikian pula perasaan yang dimiliki masyarakat sungai, selalu bisa memahami keberadaan hidup bertetangga. Setidaknya, perasaan saling menolong dan membantu setiap orang yang dihubungkan oleh sungai selalu terbangun. Seiring perkembangan zaman, budaya matrialis dan individualis-praktis sudah demikian membedaki kehidupan orang di kota ini. Sungai yang tadinya membangun peradaban akhirnya tergeser seirama ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah terhadap sungai. Sungai tidak lagi menjadi inspirasi peradaban, orang tidak lagi peduli pada sungai. Demikian pula penguasa kota ini, dari periode ke periode tidak pernah mau peduli pada sungai. Sungai mereka anggap sesuatu yang mengganggu. Karena itu, banyak sungai mereka tutup, uruk, atau mereka anggap sebagai sarana untuk menampung segala macam benda afkiran ke dalamnya. Mereka semuanya tidak peduli. Kalau toh mereka membersihi sungai, itu hanya kepura-puraan. Bukti itu bisa kita perhatikan, tidak ada perda berkaitan dengan sungai. Tidak ada aturan yang khas berkenaan dengan sungai. Kalau toh juga ada perda, mungkin mereka semua tidak peduli, semua ditabrak saja. Sekarang kita merasakan, bagaimana hidup tanpa sungai. Harmoni antarmasyarakat semakin memudar. Interaksi antarwarga dalam lanskap tanpa sungai ini seakan berjalan sendiri-sendiri. Saling membantu sudah berkurang. Saling memahami orang lain sudah sangat menipis. Buktinya, di jalan kita seenaknya memutar kendaraan, menyalip, dan mendahului atau berhenti. Di sinilah, masyarakat kota ini, termasuk walikotanya, selalu salah dalam menentukan pilihan. Walikota dan masyarakatnya tidak adil pada keberadaan sungai di kota ini. Sekali lagi saya menyarankan, jangan memilih walikota yang tidak peduli terhadap sungai. Ada perubahan sikap dan tingkah laku warga kota dari yang biasanya hidup dengan inspirasi sungai, ke yang hidup dengan tidak peduli pada sungai. Egoisme dan individualisme alam tanpa sungai lebih tinggi. Gaung masyarakat kota dengan segala kemajuannya dapat menimbulkan keterpencilan atau bahkan keterasingan. Sikap tidak adil terhadap sungai dengan memperlakukannya semena-mena, menjadikan orang kota ini terlampau menyederhanakan arti pergaulan dengan sungai, yang berakibat pula penyepelean hak sesama warga. Ini satu kenyataan berjangkitnya wabah individualistik. Orang tidak pernah malu lagi, sesama tetangga menutup sungai baik dengan urukan atau mendirikan dan menambah bangunan, lebih-lebih tidak ada ketegasan pemerintah kota terhadap bangunan yang dalam kenyataannya masuk ke tubuh sungai. Mereka yang masih memiliki peta sungai pada 1950-an di kota ini atau pun catatan lanskap alamnya, bisa diduga sangat ngeri menyaksikan betapa sungai itu lenyap bagai ditelan bumi. Padahal dahulu, harmonisasi masyarakat dengan lanskap alam sungai jauh lebih tertata dibanding yang hidup tanpa tataan sungai saat ini. Namun, nostalgia ini ternyata tidak bisa dipertahankan oleh elit penguasa kota ini. Ada dugaan, rata-rata penduduk Banjarmasin merasakan sebagai orang pinggiran. Sebab daerah perkotaan telah ditumbuhi bangunan kokoh dengan masing-masing urukan, dan teristimewa halamannya tertutup beton atau jembatan yang dibuat menjadi halaman ruko. Betul tidak? Pengamat seni dan budaya, tinggal di Banjarmasin e-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

