http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/17/opi3.htm

Tragedi Kelaparan Yahukimo
Oleh Toto Subandriyo 
BEBERAPA hari terakhir ini nurani kita kembali disentakkan oleh kabar yang 
banyak dilansir media massa cetak maupun elektronik, soal kelaparan yang 
melanda Kabupaten Yahukimo, Papua. Kasus yang terjadi sejak pertengahan 
November 2005 lalu itu telah merenggut nyawa 55 orang dan 112 orang lainnya 
dalam keadaan kritis.

Saat ini nyaris tak ada lagi air mata tersisa di Republik ini, semuanya sudah 
terkuras. Bencana demi bencana datang silih berganti hampir tanpa jeda. Negeri 
yang penuh legenda ini sepertinya telah berubah menjadi negeri bencana. 

Duka amat dahsyat terjadi akibat gempa bumi dan tsunami, banjir bandang, tanah 
longsor, kecelakaan pesawat, tabrakan kereta api, kekeringan, penyakit demam 
berdarah dengue (DBD), wabah polio, lumpuh layuh, busung lapar, marasmus, serta 
virus flu burung.

Berita kelaparan di Papua itu menjadi sangat menarik, namun sekaligus juga 
sangat ironis. Saat ini beberapa elemen masyarakat di Pulau Jawa sedang gencar 
melakukan unjuk rasa menentang kebijakan impor beras. Menurut data Angka 
Ramalan III BPS, produksi padi tahun ini mencapai hampir 54 juta ton gabah 
kering giling (GKG).

Pada tingkat produksi sebesar itu, menurut perhitungan di atas kertas, negeri 
ini surplus beras tidak kurang dari 1,6 juta ton. Menurut mereka, kebijakan 
pemerintah untuk membuka kran impor beras secara logika tidak dapat diterima. 
Namun, tentunya kita semua tahu, hampir 70 persen produksi beras nasional 
terkonsentrasi di Pulau Jawa. 

Jadi, surplus persediaan bahan pangan hanya terjadi di Pulau Jawa, sedang 
daerah di luar Pulau Jawa mengalami permasalahan pangan.

Barangkali inilah fenomena yang pernah digambarkan oleh Rudolf H Strahm, ahli 
ekonomi politik Swiss, sebagai situasi yang berlimpah dan yang merana (uber 
entwicklung, unter entwicklung).

Akses

Kenyataan seperti ini sekali lagi menjadi bukti tak terbantahkan terhadap tesis 
yang pernah disampaikan oleh Amartya Sen, penerima penghargaan Nobel Bidang 
Ekonomi tahun 1998. Tragedi kelaparan di suatu negara bukan saja disebabkan 
oleh kurangnya ketersediaan bahan makanan, tetapi juga karena tiadanya ak-ses 
untuk memperoleh bahan pangan tersebut. 

Fenomena kelaparan yang terjadi di NTT, NTB, dan Papua memberikan sinyal kepada 
kita akan arti penting kebijakan pangan dan pertanian yang tidak lagi terpusat. 
Kebijakan pangan harus bertumpu pada spesifik daerah. Argumentasi cukup 
sederhana, permasalahan pangan dan pertanian di satu daerah tidak sama dengan 
daerah lainnya.

Selama ini, kalau berbicara masalah pangan sumber karbohidrat, kiblat 
masyarakat selalu pada beras. Sumber pangan karbohidrat lain yang sangat banyak 
variannya di Indonesia ditempatkan pada posisi inferior. Akibatnya, tekanan 
terhadap produksi beras menjadi sangat berat. Berbagai permasalahan yang 
melingkupi produksi beras selalu saja bergulir bagaikan lingkaran setan yang 
tak pernah terpecahkan dari musim ke musim, dari tahun ke tahun.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 
68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan mendefinisikan ketahanan pangan sebagai 
kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya 
pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Kalau kita berbicara tentang ketahanan pangan, maka kita tidak hanya berhenti 
pada masalah kuantitas penyediaan bahan pangan semata, namun juga masalah 
distribusi dan konsumsi. Dari segi kuantitas, ketersediaan pangan mungkin 
memenuhi kebutuhan nasional, namun dari segi distribusi terjadi disparitas di 
berbagai daerah. 

Timbulnya masalah pangan seperti fenomena busung lapar di NTB dan NTT, serta 
kelaparan di Yahukimo, Papua, tidak terlepas dari lemahnya upaya pencegahan 
masalah pangan yang dilaksanakan pemerintah daerah. 

Sebagaimana ditegaskan dalam PP Nomor 68/2002, pasal 10, butir (2), pencegahan 
masalah pangan antara lain dilakukan dengan memantau, menganalisis, dan 
mengevaluasi ketersediaan pangan, serta mengevaluasi faktor yang memengaruhi 
ketersediaan pangan.

Bencana kelaparan yang terjadi di suatu daerah tidak berlangsung secara 
tiba-tiba. Ada tenggang waktu cukup lama ketika tanda-tanda kelaparan mulai 
melanda hingga jatuhnya korban jiwa. Tragedi kelaparan Yahukimo ini menujukkan 
lemahnya antisimasi pemerintah daerah setempat, termasuk keterlambatannya 
meminta bantuan pangan dari pemerintah pusat.

Kelemahan ini antara lain dipicu oleh lemahnya akses data dan informasi yang 
menyangkut masalah pangan. Pemetaan masalah pangan, yang meliputi lokasi serta 
jumlah rumah tangga yang mengalami masalah pangan, belum semuanya tersedia 
secara lengkap dan akurat di semua daerah. 

Kondisi ini lebih diperparah dengan sulitnya medan untuk dijangkau karena 
kurangnya infrastruktur untuk mencapai lokasi bermasalah. Apa yang terjadi di 
Kabupaten Yahukimo menjadi contoh premis ini. Akses ke daerah ini, menurut 
informasi, hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang.

Tidak Linier

Sebenarnya sinyal tentang disparitas ketersediaan dan konsumsi pangan sudah 
lama ada. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG VIII) yang berlangsung 
bulan Mei 2004 di Jakarta telah menemukan fenomena ini. Terjadi kurang gizi 
pada masyarakat miskin, dan gizi lebih pada masyarakat golongan kaya.

Ketersediaan energi pada tahun 2003 lalu sebesar 3.076 kilokalori (kkal), atau 
120,6 persen dari standar kecukupan gizi energi sebesar 2.200 kkal/kapita/hari. 
Namun rata-rata konsumsi energi masyarakat tahun tersebut hanya 1.986 
kkal/kapita/hari, atau 90,4 persen dari standar kecukupan.

Pada tahun tersebut terdapat sekitar 127,9 juta jiwa penduduk atau 60 persen 
dari jumlah penduduk Indonesia mengonsumsi energi antara 1.322 hingga 1.998 
kkal/kapita/hari. Dari angka-angka tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa 
meskipun pertumbuhan produksi sektor pertanian telah berhasil keluar dari 
perangkap spiral pertumbuhan rendah, namun bukan menjadi jaminan peningkatan 
kualitas gizi masyarakat secara keseluruhan. Dengan lain perkataan, pertumbuhan 
yang menggembirakan di sektor pangan dan pertanian tidak diikuti secara linier 
oleh peningkatan akses pangan masyarakat.

Tragedi kelaparan di Kabupaten Yahukimo menjadi bukti betapa rapuh ketahanan 
pangan masyarakat. Tidak ada kalimat lain untuk mengatasi bencana ini, selain 
pemerintah harus segera mencurahkan seluruh energi yang ada guna membantu 
mereka. Termasuk mengantisipasi agar kasus ini tidak di blow up menjadi 
benih-benih disintegrasi bangsa.

Kejadian ini tentunya juga sangat mengusik hati nurani seluruh warga bangsa. 
Mengulurkan tangan bagi saudara-saudara yang mengalami musibah sudah menjadi 
panggilan luhur bangsa ini. (24)

-Toto Subandriyo, Kabid Pertanian & Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke