http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/22/opini/2305277.htm
Memetik Pelajaran dari Yahukimo Suhardi Suryadi Bencana kelaparan yang terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua, telah menyita perhatian publik belakangan ini. Meski dengan cepat direspons dengan penyediaan bantuan bahan pangan-namun sebagaimana kasus busung lapar yang melanda sejumlah provinsi beberapa waktu lalu-reaksi pemerintah terkesan menyalahkan kondisi alam dan masyarakat, menyederhanakan persoalan, dan memberi solusi yang bersifat ad hoc. Kelaparan di Yahukimo oleh bupati justru dianggap karena ketidakmampuan masyarakat mengantisipasi kegiatan penanaman umbi-umbian sesuai dengan musim. Bahkan, ada kesan untuk menutupi masalah kelaparan ini oleh pemerintah, seperti pernyataan Menko Kesra yang menyebut bahwa apa yang terjadi di Yahukimo bukanlah peristiwa kelaparan besar, melainkan hanya gejala awal kelaparan. Pernyataan tersebut mengisyaratkan keterbatasan pemerintah di dalam memahami dan berusaha memahami realitas sosial yang ada. Ini tampak dari solusi yang ditawarkan untuk tidak mengulang terjadinya kelaparan yaitu dengan membangun lumbung pangan, memperbaiki cara cocok tanam, maupun introduksi tanaman baru yang bernilai ekonomi. Tawaran perubahan sistem pertanian dari konvensional menjadi modern belum tentu layak untuk diterapkan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat setempat. Hal ini seakan-akan melengkapi ketidakmampuan pemerintah memberikan akses pembangunan yang dapat menyejahterakan masyarakat miskin pedesaan di wilayah tertinggal, terisolir dan terpinggirkan. Kasus Yahukimo juga dapat dibaca sebagai penegasan atas problem sosial negara Indonesia yang semakin akut di mana masyarakat sangat rentan dan tidak memiliki jaminan sumber daya dalam menghadapi setiap bentuk bencana alam dan perkembangan ekonomi yang tidak adil. Standar kebijakan Sesungguhnya kelaparan yang dihadapi masyarakat bukan karena faktor kondisi alam semata, melainkan bisa juga terjadi karena sistem pembangunan ekonomi yang menciptakan ketimpangan. Arus globalisasi dalam aspek kehidupan ekonomi saat ini jelas akan memberikan implikasi berupa kompetisi di antara berbagai kepentingan yang pada akhirnya dapat merugikan dan memarjinalisasi kelompok ekonomi skala kecil yang serba terbatas sumber dayanya. Akumulasi ketidakadilan dapat menjadi pemicu dan potensi terjadinya kemiskinan dan kelaparan bagi masyarakat lapisan bawah. Kegagalan memberikan alternatif penyelesaian yang komprehensif dalam mengantisipasi ancaman dan potensi kelaparan oleh pemerintah akan menciptakan hilangnya potensi negara untuk menjamin hak-hak masyarakat dalam konteks peningkatan kesejahteraannya. Padahal, sesuai dengan kesepakatan masyarakat internasional, DPR telah meratifikasi Kovenan tentang hak ekonomi, sosial, dan budaya pada bulan September 2005. Dengan meratifikasi ini, negara mempunyai kewajiban penuh untuk menyantuni hak sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Maka, sangatlah ironis jika ternyata masih dijumpai kasus gizi buruk, busung lapar, hingga kelaparan. Karena itu, masalah pangan haruslah menjadi kebijakan pangan nasional yang standar dan dioperasionalkan menurut konteks sosial budaya daerah setempat. Penerjemah budaya Sebagaimana di Kabupaten Yahukimo, kurang lebih seperempat penduduk Indonesia tinggal dan hidup di daerah terisolir dan pinggiran, terutama di lahan tandus, lahan kering, dan pegunungan. Masyarakat ini sangat rentan terhadap kelaparan karena kendala kondisi alam dan keterbatasan infrastruktur serta informasi. Karena itu, dalam mengatasi potensi kelaparan, rawan pangan, dan busung lapar adalah bagaimana mendorong komunitas ini dapat memunculkan ide untuk mengatasi masalah sosial-ekonominya. Bukan menerapkan sistem baru di bidang pertanian yang sesungguhnya asing bagi kehidupannya. Jadi, yang diperlukan adalah adanya kebijakan, program, dan tenaga yang dapat menjembatani kepentingan masyarakat pinggiran dengan menerjemahkan nilai-nilai sosial-budayanya ke dalam langkah nyata untuk memperbaiki kehidupannya. Suatu harapan yang biasanya sulit dilakukan karena pemerintah sering kali lebih menyukai pendekatan yang instan. Suhardi Suryadi Direktur LP3ES Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

