http://www.indomedia.com/bpost/122005/22/opini/opini1.htm
Siapa Bela Ibu? Oleh: Pribakti B Umumnya kelahiran seorang anak merupakan peristiwa penting yang dirayakan. Namun bagi ribuan perempuan, setiap kelahiran anaknya bukan pengalaman yang penuh kebahagiaan, melainkan peristiwa yang dapat mengantarkan mereka pada kematian. Pada kenyataannya, kematian ibu merupakan targedi yang ditemukan secara luas di negara berkembang dan seringkali terabaikan oleh penentu kebijaksanaan. Di Indonesia sendiri, Angka Kematian Ibu (AKI) masih tergolong tinggi, terutama bila dibandingkan dengan negara tetangga. Mengapa? Ada apa dengan bangsa kita? Bangsa yang konon mengagungkan seorang ibu --lihat saja dari berbagai istilah yang ada dalam bahasa Indonesia seperti Ibu Pertiwi, ibukota dan sebagainya-- ternyata memiliki AKI yang tinggi. Memang perhatian kita mengenai hal itu masih rendah. Hanya mereka yang benar-benar memahami yang peduli. Sebagian besar tidak dapat melihat kaitannya dengan tingkat kesehatan masyarakat, apalagi dengan pandangan mengenai gender. Kematian dalam kehamilan dan bersalin dianggap sebagai risiko dari suatu proses alamiah yang dijalani seorang perempuan. Padahal, hal itu dapat dicegah dan diatasi. Sesungguhnya betapa besar keuntungan yang dapat diperoleh bangsa ini jika proses tersebut berjalan dengan baik. Di sini diperlukan keterlibatan baik pemerintah, kalangan kesehatan dan terutama masyarakat. Selain peningkatan pelayanan kesehatan, perlu dilakukan upaya dalam bidang lain yang berkaitan. Apakah pemberdayaan perempuan jawabannya? Saya tidak tahu persis. Tapi sebagaimana sering didengungkan pejabat, perempuan sering dikatakan sebagai tiang negara agaknya pemberdayaan mereka juga tidak berlebihan. Banyak tulisan yang menyebutkan peran seorang ibu dan istri, berkaitan erat dengan pengembangan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Pada dasarnya kondisi kaum perempuan mencerminkan keadaan masyarakat secara keseluruhan. Peningkatan tingkat kehidupan perempuan dapat menjadi kunci bagi peningkatan taraf hidup secara keseluruhan. Lalu, apa saja usaha yang telah dilakukan Departemen Kesehatan? Bangga Jujur harus diakui, ditengah gegap gempitanya masyarakat kita menyuarakan tuntutan agar yang dicita-citakan reformasi dilaksanakan sungguh-sungguh, nasib separo penduduk Indonesia yang berkelamin perempuan seperti tidak berubah, bila tidak bisa dikatakan memburuk. AKI melahirkan --kematian yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan dan 42 hari pascapersalinan-- masih tetap tinggi, bahkan jumlahnya meningkat. Departemen Kesehatan mengklaim, pada 2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Besaran AKI itu memperlihatkan, nasib perempuan tidak sungguh-sungguh menjadi perhatian walaupun kita memiliki kementerian negara yang mengurusi perempuan. Malah untuk pihak yang menaruh perhatian pada persoalan kesehatan reproduksi, jika ditanya tentang AKI di Indonesia akan dengan mudah menjawab. Bahkan karena angkanya cukup tinggi, kita menjadi seolah bangga ketika menyebutkannya. Melalui media massa, pejabat Departemen Kesehatan juga selalu mengingatkan ada persoalan cukup kompleks terkait AKI. Pihak yang berkepentingan dengan kesehatan reproduksi juga menyadari, AKI yang 307 per 100.000 kelahiran hidup tertinggi di Asia Tenggara itu, merupakan persoalan besar yang berdampak pada kualitas SDM Indonesia. Yang menarik, menurut Departemen Kesehatan, tingginya AKI di Indonesia ini sekaligus merupakan indikator rendahnya derajat kesehatan reproduksi akibat terlalu banyaknya ibu hamil yang mempunyai keadaan 'empat terlalu' yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jarak kelahiran. Tentunya kondisi seperti rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan biaya persalinan yang relatif mahal bagi sebagian masyarakat kita, juga memberi kontribusi yang signifikan bagi tingginya AKI. Timbul pertanyaan, seberapa serius penanganan yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi tingginya AKI tersebut? Lalu, siapa membela ibu yang disebut-sebut ke'terlalu'an itu? Biaya Bicara soal AKI, Prof Dr Saparinah Sadli yang juga Ketua Kehormatan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan menyebutkan, melihat data tingginya AKI di Indonesia selama ini tampak jelas pemerintah kurang serius pada masalah yang tidak memberi dampak ekonomis secara langsung. Pendekatan pemerintah adalah seolah-olah keadaan akan membaik bila ekonomi membaik. Penelitian Ida Yustina (2003) misalnya, di Jawa Barat pada kelompok masyarakat yang bekerja sebagai buruh, nelayan dan petani menunjukkan, biaya persalinan yang relatif mahal menjadi alasan mereka memilih dukun beranak untuk membantu persalinan ibu. Meski dalam proses kehamilan mereka memeriksakan kehamilannya kepada bidan, namun dalam persalinan dukun beranak tetap saja menjadi pilihan karena tarifnya yang relatif murah: berbeda jauh dengan jasa bidan. Lebih dari itu, selain karena tarifnya murah, penanganan dukun beranak yang menggunakan pendekatan kultural dengan melakukan ritual tertentu, ternyata masih lebih diyakini mereka membawa keselamatan bagi bayi dan ibu yang melahirkan. Oleh karena itu, kita memang jadi seperti 'tidak membumi' ketika berbicara mengurangi AKI. Tetapi tidak menyentuh persoalan mendasar dari permasalahan yang dihadapi masyarakat, yakni faktor ekonomi. Sepanjang persoalan ini tidak disentuh untuk diatasi, AKI masih sulit dikurangi. Sebab, persoalan melahirkan tidak hanya menyangkut soal teknis kedokteran. Kalau jalan keluar untuk berbagai persoalan yang melingkupi tidak dicari jalan keluarnya secara serius, AKI di Indonesia akan tetap tinggi. Pertanyaannya sekarang, jika biaya yang menjadi penyebab tidak langsung AKI, mengapa pemerintah tidak memberi perhatian pada upaya menfasilitasi persalinan ibu hamil? Jika menggratiskan biaya menjadi suatu hal yang masih sulit dilakukan mengingat keterbatasan dana pemerintah, apakah tidak menungkinkan untuk membuat biaya persalinan semurah mungkin melalui subsidi? Kalaupun juga tidak bisa disubsidi dengan alasan anggaran kesehatan terbatas, mungkin lebih baik anggaran difokuskan kepada penyediaan kontrasepsi gratis saja daripada membangun sarana kesehatan. Puskemas memang didirikan di mana-mana, tetapi apakah diikuti dengan sarana yang memadai dan kesediaan tenaga yang cukup. Apalagi dengan adanya dampak penaikan harga BBM belakangan ini,maka wajar jika isi perut menjadi prioritas dibanding untuk membeli kontrasepsi. Suami Begitulah. Sebetulnya kalau saja komitmen pemerintah kuat untuk mengatasi AKI, bidan desa yang jumlahnya saat ini tinggal 63 persen dapat diberdayakan untuk melakukan upaya tersebut bekerja sama dengan Puskesmas di wilayah kerjanya. Terkait dengan desa yang kini tidak lagi mempunyai bidan desa, pemerintah harus mengadakannya kembali. Sebab, AKI bisa diturunkan kalau jumlah bidan di perdesaan tercukupi dan ada kerja sama yang baik antara bidan dan dukun beranak. Demikian halnya dengan upaya proaktif dan terintegrasi dari aparat di lapangan tentunya sangat diperlukan. Terhadap ibu hamil di wilayah masing-masing misalnya, diidentifikasi untuk kemudian difasilitasi proses kehamilan sampai persalinannya dengan biaya yang terjangkau. Untuk jangka pendek, jika hal itu dapat dilakukan, mudah-mudahan AKI dapat diturunkan, karena persoalannya di masyarakat memang biaya. Di lain pihak, pembentukan kelompok masyarakat yang memberi perhatian terhadap ibu hamil juga dapat menjadi sarana efektif dalam mendidik masyarakat untuk memahami kesehatan reproduksi dengan lebih baik. Melalui kelompok yang anggotanya juga diharapkan dari suami, mereka dapat diberi pengetahuan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan proses hamil dan persalinan. Sebagai contoh, tentang mengapa ibu hamil perlu makanan bergizi, mengapa kehamilan perlu diperiksakan ke pelayanan kesehatan, apa dampak dari persalinan yang tidak bersih, apa saja yang menjadi penyebab perdarahan ketika melahirkan dan sebagainya. Tanpa bantuan suami, percepatan penurunan AKI hamil dan bersalin di Indonesia akan jalan di tempat. Selanjutnya, kemajuan perempuan yang telah kita capai selama ini tidak lengkap. Tanpa kemajuan perempuan yang lengkap sebagaimana yang kita idamkan, maka kurang sempurna upaya kita dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Selamat Hari Ibu! * Spesialis Kandungan RSUD Ulin, tinggal di Banjarmasin [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

