Refleksi: Kalau formalin berbahaya untuk kesehatan manusia, mengapa pemerintah Indonesia tidak menangkap tangkap dan menghukum pengusaha yang memakai formalin sebagai pengawet bahan makanan yang dijual untuk umum? Apakah hal ini karena penguasa negara Indonesia dipegang oleh para pengusaha?
http://www.harianterbit.com/artikel.php?kategori=HEADLINE&id=35070 28 December 2005 - 11:32 Formalin rusak jaringan otak JAKARTA - Mengapa pengawet formalin dilarang dicampur dalam makanan dan seberapa jauh bahayanya bagi kesehatan? Farmakolog Prof Iwan Darmansyah mengatakan secara garis besar jika formalin dikonsumsi dalam dosis besar sel-sel tubuh manusia menjadi mati termasuk semua protein menjadi lumpuh. Sementara, pakar biokimia Ernawati Sinaga mengatakan ancaman utama dari formalin yaitu merusak ginjal dan jaringan hati manusia sekaligus ancaman penyakit kanker. Diwawacarai Harian Terbit di Jakarta, Rabu Erna mengatakan formalin merupakan zat beracun yang sudah tetap (establish). Zat ini dapat mengawetkan jaringan mahluk hidup secara tetap karena itu dipakai untuk mengawetkan mayat. Kalau zat ini sering dikonsumsi manusia maka reaksi jaringan atau sel-sel dalam tubuh manusia menjadi mati atau setidaknya reaksinya terhambat. Padahal, jaringan tubuh manusia memerlukan perubahan. Dalam kondisi demikian, katanya, organ penting yang pertama terganggu adalah hati sebagai pusat pengendali metabolisme. Organ penting selanjutnya yang terganggu yaitu ginjal yang berfungsi menetralisir racun dalam tubuh manusia. Selain itu, formalin juga merusak jantung bahkan jaringan otak manusia. Selanjutnya kalau pertumbuhan sel sudah terganggu bisa pula mengakibatkan penyakit kanker. Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMI) Thomas Darmawan dihubungi terpisah mengatakan pemerintah bersama pengusaha harus bekerjasama mencari alternatif pengganti formalin sebagai bahan pengawet makanan. "Kalau tidak maka dikhawatirkan penggunaan formalin di lingkungan pengusaha makanan tetap tinggi," katanya pada Harian Terbit. Diakui, banyaknya perusahaan yang menggunakan formalin sebagai bahan pengawet karena tidak tersedianya bahan alternatif sebagai pengganti. Kalau hal ini dibiarkan terus maka bakal membahayakan kesehatan konsumen. "Sebab itu, pemerintah dan pengusaha harus bekerjasama mencari bahan pengganti. Kalau hanya melarang pengusaha tidak menggunakan formalin tanpa pemerintah menyediakan bahan pengganti maka ini artinya sama saja dengan membunuh industri makanan." Menurut Thomas, saat ini ada sekitar 950.000 perusahaan yang memproduksi makanan di tanah air. Dari jumlah itu hanya sekitar 4.500 perusahaan makanan sebagai industri besar. Jadi, kalau pemerintah tidak menyediakan bahan pengganti maka banyak dari usaha kecil dan menengah bakal gulung tikar. Tidak hanya itu, gulung tikarnya usaha kecil dan menengah karena produk mereka tidak laku akibat konsumen takut menkonsumsi maka otomatis tingkat pengangguran di tanah air semakin tinggi. "Karena itu, jalan keluar satu-satunya adalah harus ada bahan pengawet pengganti formalin." Ditanya apakah perlu penjualan formalin ini diperketat agar perusahaan makanan tidak menggunakannya sebagai bahan pengawet, dengan tegas Thomas mengatakan, itu merupakan salah satu langkah saja. "Yang penting selain harus disiapkan bahan pengganti, juga perlu peningkatan peran badan pengawas yang ada pada masing-masing departemen. Selama ini badan pengawas itu tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya banyak perusahaan makanan yang menggunakan formalin karena tidak tersedianya bahan pengawet atternatif. (art/lam) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

