Refleksi: Kalau formalin merusak saraf, maka tidak heran kalau petinggi negara 
Indonesia di semua lapangan dan tingkat adalah bandit, koruptor, penipu dan 
penindas, karena akibat makan makanan mengadung formalin saraf mereka telah 
rusak untuk bisa membedakan antara perilaku buruk dan baik. Kalau ginjal atau 
organ mereka sakit mereka bisa dirawat di rumah sakit kelas satu atau dikirim 
keluar negeri untuk berobat atas biaya negara, yang malang ialah rakyat biasa 
dan yang lebih celaka lagi ialah mereka yang miskin, seakan-akan telah dikutuki 
dengan hukuman mati sebelum dipanggil oleh malaekat jibrael.   

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/29/utama/2324548.htm

 
Kami Terpaksa Menggunakan Formalin 


Runik Sri Astuti

Tanpa sungkan atau malu-malu, jeriken kecil berisi cairan formalin itu dibawa 
seorang nelayan ketika hendak melaut. Mesin perahu sudah dihidupkan. Buritan 
kapal pun sudah mengarah ke tengah laut. Tak berselang lama, perahu nelayan itu 
pun memecah ombak, menerjang lautan.

Entah mengapa disebut pemutih. Namun, selain lebih tahan lama dan tak mudah 
busuk, ikan yang disiram formalin juga menjadi kelihatan lebih bersih. 
Sisik-sisiknya mengilat, sedangkan dagingnya agak kenyal. Mata dan insangnya 
merah, sementara bau yang ditimbulkan dari formalin menyebabkan lalat pun tak 
mau hinggap.

Kami terpaksa menggunakan pemutih, ujar seorang nelayan di Kabupaten Lamongan, 
pantai utara Jawa Timur, perlahan.

Tingginya harga solar dan mahalnya harga es batu untuk mengawetkan ikan sangat 
memengaruhi biaya operasional nelayan sekali melaut. Bayangkan saja, harga 
solar naik dua kali lipat dari Rp 2.100 per liter menjadi Rp 4.300 per liter. 
Begitu juga es balok, harganya naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 7.500 per balok. 
Padahal, jumlah yang dibutuhkan untuk sekali melaut tidak sedikit.

Untuk sekali melaut selama 14 hari dengan 8-10 awak kapal, misalnya, kalau dulu 
cuma butuh Rp 9 juta, sekarang perlu Rp 16 juta-Rp 23 juta. Biaya paling besar 
antara lain untuk pembelian solar.

Setiap hari rata-rata kapal membutuhkan 140 liter solar dengan harga Rp 4.300 
per liter. Jadi, untuk 14 hari melaut butuh biaya solar sekitar Rp 9 juta.

Untuk dua pekan itu juga butuh sekitar 700 es balok. Dengan harga es Rp 7.500 
per balok, butuh biaya sedikitnya Rp 5,25 juta. Untuk kebutuhan makan dan rokok 
awak kapal selama dua pekan sedikitnya perlu biaya Rp 2 juta.

Biaya ini tak mungkin dihemat lagi, kecuali mengurangi jumlah es balok, kata 
Sunarno, seorang nelayan di Lamongan.

Dalam kaitan itulah mengapa beberapa nelayan di pesisir utara Jawa Timur 
tersebut akhirnya nekat menggunakan formalin. Mereka mengurangi jumlah es balok 
yang mestinya untuk mengawetkan ikan dengan formalin yang biasanya digunakan 
untuk mengawetkan jenazah!

Menghemat biaya

Penggunaan formalin memang mengurangi biaya operasional melaut karena harganya 
cuma Rp 7.000 per liter. Setelah dicampur air, satu liter formalin cukup untuk 
mengawetkan 10 ton ikan hasil tangkapan di tengah laut. Padahal, jika 
menggunakan es balok, butuh sekitar 350 es balok seharga Rp 2,62 juta. Sangat 
jauh selisih biayanya!

Itulah sebabnya, nelayan lebih suka menggunakan formalin untuk mengawetkan ikan 
saat berada di tengah laut. Mereka tidak peduli terhadap dampak penggunaan obat 
berbahaya tersebut pada kesehatan konsumen.

Padahal, jika dikonsumsi manusia, formalin bisa menyebabkan iritasi pada 
saluran pernapasan, mengganggu fungsi hati, ginjal, dan sistem reproduksi, kata 
Rishadi, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB-POM) di Surabaya.

Berdasarkan hasil pemantauan BB-POM di Surabaya, dari 91 contoh pangan olahan 
yang dijual di pasaran, sebanyak 24 di antaranya positif mengandung formalin. 
Selain mi basah, makanan lain yang mengandung banyak formalin adalah tahu, ikan 
asin, dan ikan segar.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, untuk 
mengatasi penggunaan formalin di kalangan nelayan, harga ikan mau tidak mau 
harus dinaikkan. Sebab, setelah kenaikan harga bahan bakar minyak, biaya 
operasional melaut naik dua kali lipat, sedangkan harga ikan tidak mengalami 
kenaikan. Harga cumi-cumi, misalnya, tetap sekitar Rp 22.000 per kg, kerapu Rp 
8.500 per kg; sedangkan ikan kuning Rp 7.500 per kg.

Jika harga ikan naik, namun masyarakat diberi pengertian bahwa ikan tersebut 
bebas formalin, maka masyarakat pasti akan bisa menerimanya, kata Winarno. 
Mudah-mudahan saja. (D02)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke