** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/29/opini/2324267.htm

 
Ilusi 

Kartono Mohamad

Berkhayal adalah ciri manusia, dan khayalan ada yang dapat dicapai serta ada 
pula yang tetap tinggal khayalan. Khayalan yang disusun secara sistematik dan 
diikuti dengan program pragmatis untuk mencapainya, ia menjadi vision, 
cita-cita yang dapat diraih. Kalau tidak sistematik dan tidak pula dikejar 
melalui program yang nyata, ia akan tetap jadi khayalan.

Contohnya adalah slogan Indonesia Sehat di tahun 2010, karena tidak diikuti 
program yang sistematik untuk mencapainya, ia tetap tinggal khayalan. Lebih 
buruk lagi kalau khayalan itu tidak lagi dianggap sebagai khayalan, tetapi 
sudah dianggap sebagai kenyataan, maka ia jadi ilusi. Orang yang hidup dalam 
ilusi akan merasa bahwa khayalannya itu sudah menjadi kenyataan. Seperti Don 
Quixote dari La Mancha.

Karena sudah dianggap sebagai kenyataan, maka yang dilakukan pengkhayal adalah 
mempertahankan mati-matian khayalannya itu, atau ia tidak lagi merasa perlu 
berbuat untuk mencapainya. Si pengkhayal akan menjadi inert dan bahkan 
cenderung menolak kalau diingatkan bahwa semua itu hanya ilusi. Kalau 
khayalannya baik, mungkin ia akan merasa berbahagia. Namun, kalau ia berkhayal 
bahwa dunia sekitarnya itu jahat, ia akan berbuat destruktif karena mengira ia 
memerangi kejahatan.

Para teroris yang mengebom Bali juga merasa telah berjihad melawan kejahatan 
meskipun mereka yang mati tidak pernah mengancamnya. Persis seperti Don 
Quixote, yang merasa telah menjadi pahlawan karena memerangi kincir angin yang 
dilihatnya sebagai gergasi yang mengancam.

Baru tahap impian

Bangsa kita penuh dengan cita- cita (khayalan), antara lain ingin membangun 
bangsa yang maju, berdaya saing tinggi, berbudaya unggul, beriman, bertakwa, 
adil makmur berdasarkan Pancasila. Tidak banyak yang sadar bahwa hal itu baru 
di tahap impian atau khayalan. Masih perlu dikejar dengan program-program nyata 
untuk mencapainya.

Banyak pemimpin bangsa yang mengira bahwa kita sudah mencapai cita-cita itu, 
lalu hidup dalam ilusi. Tidak mau diingatkan bahwa semua itu baru sebatas 
khayalan. Maka, ketika di tahun 1986 dilaporkan ada AIDS di Indonesia, para 
pemimpin mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena kita adalah 
bangsa yang beragama dan ber- Pancasila. Akibatnya, ketika itu tidak ada upaya 
untuk melakukan pencegahan sejak awal. Buat apa mencegah, toh tidak mungkin 
kita terserang wabah HIV/AIDS? Ilusi itu kini telah buyar ditelan kenyataan.

Kita juga hidup dalam ilusi sebagai bangsa yang kaya raya sehingga para pejabat 
tanpa malu-malu mengeruk kekayaan negara untuk dirinya sendiri, dengan anggapan 
kekayaan negara ini tidak akan habis meski ia keruk sebanyak-banyaknya. Negara 
kita kan gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur. Lebih menyedihkan 
lagi karena mereka yang mengeruk kekayaan itu merasa telah berjasa terhadap 
negara ini sehingga merasa layak untuk mengambil imbal jasa untuk diri dan 
keluarganya. Seolah-olah tanpa dirinya bangsa dan negara ini sudah tidak ada 
lagi sejak dulu. Mereka berilusi bahwa mereka adalah pahlawan yang sudah susah 
payah berjuang untuk rakyat. Mereka itu adalah orang-orang yang sebenarnya 
sakit jiwa yang hidup dalam ilusi kegagahan dirinya, bak Don Quixote dari La 
Mancha.

Ilusi yang lain adalah bahwa bangsa kita bangsa yang beragama, beriman, dan 
bermoral yang terlihat dari banyaknya orang yang melakukan ritus agamanya. 
Dikatakan ilusi karena dalam kehidupan mereka sehari-hari agama itu nyaris 
tidak ada jejaknya. Perilaku sehari-hari kita tidak mencerminkan sebagai orang 
yang beragama. Untuk mengelabui diri bahwa kita benar-benar beragama, maka 
hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan moral agama tidak boleh tampak dari 
luar. Boleh dilakukan, tetapi secara diam-diam, seperti korupsi.

Dalam hal kepandaian melakukan korupsi, bangsa ini terkenal di dunia meskipun 
menyatakan diri sebagai bangsa yang bermoral dan penganut agama yang amanah. 
Korupsi bahkan dianggap sebagai hak dan dilakukan tanpa perasaan malu atau 
bersalah. Mereka yang korupsi merasa tindakannya tidak bertentangan dengan 
moral agama. Para pemimpin berilusi menjadi pemimpin yang amanah karena telah 
membagikan uang, sembako, dan pengobatan gratis kepada rakyat miskin. Mereka 
akan marah kalau dikatakan tidak memerhatikan rakyat. Soal busung lapar, wabah 
penyakit, dan kemiskinan, mereka anggap sebagai kesalahan rakyat. Bukan 
kesalahan pemimpin.

Bangsa yang bermoral

Pengertian moral pun kemudian dipersempit menjadi hal-hal yang berkaitan dengan 
seks, syahwat, dan sekitar organ kelamin. Karena itu, tontonan yang dianggap 
memancing berahi dianggap tak bermoral, sementara korupsi dan membohongi rakyat 
tak dianggap berkaitan dengan moral dan karena itu tetap dilakukan. Untuk 
mempertahankan mimpi sebagai bangsa yang bermoral, segala hal yang dapat 
mengusik keasyikan mimpi itu harus dilarang. Lokalisasi pelacuran dilarang 
karena itu mengganggu mimpi sebagai bangsa yang bermoral. Bahwa pelacuran tetap 
berlangsung, sebagian ditutupi dengan �nikah siri�, tidak menjadi soal. 
Selama tak tampak dan tidak terdengar. Kita tetap mimpi sebagai bangsa yang 
bermoral.

Kita mungkin baru terjaga dari ilusi ketika menyadari bahwa kita bukan 
benar-benar bangsa yang besar. Kita adalah bangsa yang kerdil karena dalam 
banyak hal ternyata terpuruk berperingkat di bawah Vietnam yang baru pulih dari 
peperangan.

Kita mungkin juga baru akan bangun ketika sepertiga anak muda kita mati 
termakan HIV dan narkoba, seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika. Para 
tokoh agama akan mengatakan bahwa kehancuran kita disebabkan kita kurang 
beriman dan beragama. Ucapan yang justru membantah anggapan sendiri bahwa kita 
adalah bangsa yang beragama.

Ketika itu kita baru menyadari bahwa selama ini anggapan bahwa kita bangsa yang 
besar, bermoral, dan beragama ternyata hanya ilusi belaka. Don Quixote pun 
kemudian mati dalam kemiskinan.

Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB 
IDI)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke