Refleksi: Semoga Alloh melindungi delegasi Mahkamah Agung RI yang ke Mesir 
untuk melihat tari perut dan pusar dari kutukan Firaun. hehehhe


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/29/Politikhukum/2324219.htm

     

      Kutukan Firaun dalam Petualangan DPR 



      Sutta Dharmasaputra



      Anggota DPR ke Mesir bukan sekadar studi banding. Ternyata, sebenarnya 
mereka pergi berziarah ke makam guru utamanya, yaitu Firaun. SMS itu beredar di 
saat 15 anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR pergi ke Mesir dengan alasan 
studi banding. Kritik dan cercaan pun mengalir dalam obrolan di masyarakat. 
Kekesalan masyarakat memuncak karena ternyata perjalanan para wakil rakyat itu 
juga banyak diisi wisata.

      Kisah Kutukan Firaun selalu menjadi bagian yang tak pernah terlupakan 
dari setiap petualangan ke Mesir. Seperti diketahui, anggota Tim Ekspedisi Lord 
Carnavon yang menemukan makam Firaun, 4 November 1922, satu per satu mati tak 
terduga. Cerita ini meyakinkan orang akan adanya dendam Sang Firaun yang tidur 
abadinya terusik oleh kedatangan tim itu.

      Studi banding BURT DPR ke Mesir, 16-23 Desember 2005, seakan mengingatkan 
kita pada kisah Kutukan Firaun itu. Sepulang dari sana, satu per satu anggota 
rombongan tak ada yang lolos dari cercaan.

      Iya ya, jangan-jangan mereka semua kena kutukan Firaun, canda Wakil Ketua 
DPR Soetardjo Soerjogoeritno kepada wartawan di ruangannya.

      Perjalanan misterius

      Keberangkatan DPR ke Mesir ini sejak awal memang penuh misteri. Tiga 
bulan sebelumnya, di internal mereka sendiri sebenarnya sudah timbul 
ketidaksepakatan. Anggota BURT dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Suryama M 
Sastra, menolak kegiatan ini. Pada 18 November 2005, dia bahkan mengirim surat 
ke pimpinan BURT untuk membatalkan keikutsertaannya.

      Sejak lama masyarakat juga telah mengkritik rencana ini karena dinilai 
hanya akan menghabis-habiskan anggaran di akhir tahun. Soalnya, sampai 31 
Agustus 2005, anggaran perjalanan dinas luar negeri yang terealisasi baru Rp 
4,82 miliar, sedangkan yang dialokasikan Rp 14,95 miliar.

      Seminggu sebelum keberangkatan, Rapat Pimpinan DPR pun sempat membatalkan 
kegiatan itu. Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif yang mengumumkan pembatalannya pada 
pers.

      Akan tetapi, pada Jumat (16/12) dini hari, rombongan BURT tetap nekat 
berangkat ke Mesir. Kegiatan ini semula tidak tercium pers. Wartawan baru 
mengetahuinya sehari sebelum keberangkatan dari mulut Djoko Edhi Soetjipto 
Abdurrahman. Anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini memang dikenal 
suka bicara blak-blakan karena memang dulunya wartawan.

      Terjadinya secara kebetulan. Saat itu sejumlah wartawan di DPR sedang 
berbincang-bincang dengan Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR yang juga dari 
F-PAN. Ketika itu Djoko Susilo justru sedang menunjukkan adanya surat Wakil 
Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno yang melarang Komisi I ke luar negeri di 
akhir tahun.

      Ketika sedang asyik-asyiknya bicara, tiba-tiba saja Djoko Edhi nyelonong 
masuk. Ruang kerja kedua Djoko ini memang berdekatan. Saya mau izin dulu sama 
yang punya luar negeri, ucap Djoko Edhi saat itu kepada Djoko Susilo. Dia lalu 
meminta nomor-nomor kontak orang di Kedutaan Besar Indonesia di Mesir. Puluhan 
mata wartawan yang sedang berkumpul di sana pun spontan terbelalak.

      Saat itu Djoko Edhi sendiri menegaskan bahwa kepergiannya ke Mesir bukan 
untuk jalan-jalan atau belanja. Tetapi, untuk studi kasus penanganan perjudian 
di Mesir. Saya juga tidak akan pergi ke Dubai untuk belanja-belanja meskipun 
yang lain ke sana, ucapnya.

      Dia juga lalu menjelaskan soal masih lemahnya berbagai peraturan yang 
ada, mulai dari Pasal 303 KUHP, UU Nomor 7 Tahun 1974 atau Peraturan Pemerintah 
Nomor 9 Tahun 1981. Peraturan tersebut di satu sisi melarang perjudian, tetapi 
di sisi lain memberi pengecualian.

      Merasa penasaran dengan keberangkatan diam-diam tim BURT ini, pers pun 
langsung mencek sekretariat. Tetapi, mereka pun berusaha menutupi. Salah satu 
kepala subbagian, Suparyanti, bahkan sempat mengatakan kepada pers kalau acara 
ke Mesir itu telah dibatalkan pimpinan DPR. Tak tahunya, Suparyanti sendiri 
ikut dalam rombongan ke Mesir. Roestanto Wahidi Dirdjojuwono dari Fraksi Partai 
Demokrat, yang juga kepala rombongan, diam seribu basa. Anggota DPR dari 
F-PDIP, Rendhi Lamadjido, malah mengaku akan ke Nusa Tenggara Timur. Baru 
keesokan harinya, ketiganya diketahui ternyata ikut ke Mesir. Wartawan pun 
hanya tertawa merasa terkecoh.

      Tabir terungkap

      Setelah didesak wartawan, Sekjen DPR baru mau memberikan daftar nama 
rombongan ke Mesir. Mereka adalah Roestanto Wahidi (F-PD), Ebby Djauharie 
(F-PG), Soeharsojo (F-PG), Mukhtarudin (F-PG), Zainuddin Amali (F-PG), Suwignyo 
(F-PDIP), Rendhi Lamadjido (F-PDIP), Elva Hartati Murman (F-PDIP), Syahrial 
Agamas (F-PPP), Uray Faisal Hamid (F-PPP), Denny Sultani Hasana (F-PD), Djoko 
Edhi (F-PAN), Choirul Sholeh Rasyid (F-KB), dan Abdullah Azwar Anas (F-KB). 
Adapun dari sekretariat adalah Cholida Indryana (Kepala Biro) dan Suparyanti 
(Kasubag). Tetapi, belakangan diketahui bahwa daftar nama itu pun berbeda 
dengan yang tertulis di buku saku perjalanan. Di buku itu, tertulis 23 nama. 
Enam lainnya yang tidak dilaporkan Setjen ternyata para istri anggota DPR.

      Dalam buku saku itu juga tertulis jadwal acara yang ternyata banyak diisi 
wisata. Hari kedua, 17 Desember 2005, misalnya, Mengunjungi obyek-obyek wisata 
di Cairo dan Giza yang dipandu oleh biro perjalanan. Hari ketiga:Mengunjungi 
Museum Nasional di Tahrir Square yang dipandu oleh biro perjalanan. Pada siang 
harinya barulah diisi acara Courtesy Call dengan Ketua Majelis Shaab Mesir Dr 
Ahmed Fathi Sourour. Sementara hari keempat, Berangkat menuju kota Alexandria 
yang dipandu oleh biro perjalanan.

      Jajaran Setjen DPR mulai dari bawahan sampai atasan memang tak pernah mau 
memberikan buku saku ini kendati berkali-kali diminta pers. Alasan beragam. 
Perjalanan wakil rakyat ke Mesir ini sepertinya memang enggan diketahui rakyat.

      Kepergian dan kepulangan rombongan BURT ke Mesir ini pun benar-benar 
menghindari pers. Saat keberangkatan, ketika disatroni di Bandara 
Soekarno-Hatta, hanya Djoko Edhi yang bersedia menjawab. Lainnya, untuk check 
in pun ada yang pura-pura nyasar ke loket 12 dan 11. Setelah dirasa aman, 
mereka baru berbelok ke loket 13 counter Qatar Airways.

      Kucing-kucingan pun terjadi saat kepulangan. Mereka tidak keluar lewat 
jalur biasa, yaitu di terminal kedatangan internasional 2 D atau lewat ruang 
VIP. Tetapi, dari landasan pesawat langsung naik bus PT Angkasa Pura ke Hotel 
Sheraton Bandara. Bus itu pun keluar dari bandara lewat gerbang khusus untuk 
petugas landasan. Sebagian lagi ada yang pulang melalui Singapura kemudian ke 
Batam, setelah itu baru ke Jakarta.

      Bayang-bayang 2006

      Dikarenakan masyarakat gencar mengkritik, salah-menyalahkan pun terjadi. 
Khawatir jadi korban, masing-masing malah mencari tumbal.

      Djoko Edhi, yang pertama kali membeberkan kegiatan ini secara 
terang-terangan dan punya agenda pribadi yang kontroversial soal judi, paling 
mudah dijadikan sasaran empuk. Padahal, publik bukan hanya mempersoalkan judi. 
Masyarakat juga menyesalkan kegiatan ini dilakukan diam-diam, bahkan terkesan 
ditutup-tutupi. Agendanya pun tak jelas, padahal menghabiskan Rp 760 juta.

      Dalam konferensi pers sepulang dari Mesir, Roestanto membantah bahwa 
acara di Mesir banyak diisi dengan jalan-jalan. Menurutnya, jadwal acara di 
buku saku yang disusun Kedutaan Besar di Cairo bersifat tentatif.

      Tetapi, terlepas dari berbagai alibi yang digunakan, kini sejumlah elemen 
masyarakat telah membawa persoalan ini ke Badan Kehormatan (BK) DPR. Lingkar 
Madani untuk Indonesia di bawah pimpinan Ray Rangkuti termasuk yang melaporkan. 
Begitu juga dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Jakarta 
maupun elemen masyarakat dari daerah pemilihan Madura. Pada intinya, mereka 
mengharapkan BK memberi sanksi berat ke semua pihak secara adil. Mencermati 
keseluruhan proses yang terjadi, memang terlihat banyak pihak yang terlibat.

      BK sendiri akan mulai kembali bersidang pada Januari 2006. Apabila 
berhasil mengurai permasalahan ini, bukan mustahil hal ini bisa menjadi titik 
awal bagi DPR untuk membenahi kegiatan perjalanan dinas luar negeri DPR yang 
masih carut marut ini ketimbang sekadar mencari tumbal.

      Berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga DPR Tahun 2006, 
anggaran perjalanan dinas ke luar negeri DPR mencapai Rp 34,5 miliar atau 
meningkat 110 persen dari tahun 2005. Apabila tidak segera dibenahi, bukan 
tidak mungkin daya pikat Mesir akan kembali menggoda anggota Dewan di tahun 
2006. Kalau itu yang terjadi, Kutukan Firaun pun tidak akan berhenti di tahun 
2005, tetapi terus membayang-bayangi di tahun 2006.

      Kalau dalam ekspedisi Lord Carnavon hanya Howard Carter yang selamat, di 
Senayan entahlah. Hanya Pemilu DPR 2009 yang bisa menjawab misteri ini, berapa 
banyak yang akan mati atau tetap hidup di Senayan
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke