** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=131357
Masa Depan Sumber BBM Indonesia
Sabtu, 31 Desember 2005
Bahan bakar minyak (BBM) masih akan terus mendominasi keperluan
energi Indonesia, yaitu sebesar 50 persen jenis energi final 37 persen untuk
jenis energi primer, yang jumlahnya sekarang ini sudah lebih dari 1,2 juta
barel per hari. Masih sulit mengganti peran minyak terutama untuk menghasilkan
BBM bagi sektor transportasi.
Persediaan minyak mentah dan BBM memerlukan perhatian khusus karena
sedang terjadi penguasaan sumber-sumber minyak dunia melalui akuisisi dan
kontrak wilayah kerja baru oleh negara-negara besar. Hal tersebut membahayakan
pasokan ke Indonesia terutama bila kapasitas produksi cadangan minyak dunia
tidak cukup ditambah ketegangan politik yang bisa mengganggu negara produsen.
Cadangan terbukti minyak kita yang sebesar 4,3 miliar barel (data
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi) kurang dari 0,5 persen cadangan
terbukti minyak dunia yang sebesar 1.144 miliar barel.
Menurut OPEC Annual Statistical Bulletin 2004, selama 25 tahun
terakhir cadangan minyak dunia telah naik sekitar 500 miliar barel atau 76
persen. Kenaikan itu pun hanya terfokus di negara-negara minyak Timur Tengah
(Iran, Saudi Arabia, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab) yang saat ini memiliki
lebih dari 65 persen cadangan dunia. Sebaliknya, di negara-negara non-OPEC
(Amerika Serikat, Inggeris, Norwegia dsb kecuali Rusia dan Kazakhstan) terjadi
penurunan.
Data ini menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah kawasan kaya minyak
setara Timur Tengah. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa meskipun kegiatan
eksplorasi migas kita cukup gencar dalam era sebelum krisis ekonomi, minyak
yang ditemukan hanya mampu menggantikan minyak yang terkuras, yang membuat
cadangan minyak Indonesia dari waktu ke waktu boleh dikatakan hanya konstan.
Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir malah terjadi penurunan cadangan dan
produksi yang lebih cepat atau sekitar 5 persen, karena sudah mulai menemukan
lapangan-lapangan besar selain menurunnya investasi sebagai dampak krisis
ekonomi dan krisis politik.
Hikmah dari keadaan itu adalah kesadaran bahwa karunia kekayaan
emas hitam itu seolah-olah memang diperuntukkan Tuhan kepada bangsa-bangsa di
Timur Tengah. Sebetulnya karunia Tuhan untuk Indonesia adalah energi hijau,
yang dihasilkan dari cahaya matahari, tanah dan air.
Sebetulnya minyak yang yang terkuras dari ladang-ladang minyak
Indonesia baru 40 persen dari jumlah asalnya. Dengan cara menerapkan teknologi
terbaru diperkirakan akan dapat dikuras minimal sampai 50 persen dan akan dapat
memberikan tambahan cadangan terbukti menjadi dua kali dari yang sekarang ini.
Teknologi eksplorasi dan produksi migas telah sangat berkembang dalam kurun
waktu 1980-an dan pertengahan 1990-an.
Harga minyak sangat rendah pada saat itu (rata-rata 20 dolar AS per
barel) telah mendorong upaya memangkas biaya melalui inovasi teknologi yang
mampu menemukan minyak dengan biaya rendah. Sebagai keberhasilannya, biaya
pencarian minyak di kawasan non-OPEC telah turun dari 25 dolar ke 5 dolar per
barel. Biaya pengangkatan minyak juga turun dari 5,5 dolar menjadi 3,5 dolar.
Teknologi yang ditemukan juga mampu mengungkapkan prospek-prospek minyak besar
di frontier area seperti laut dalam sehingga membuat investasi di area ini
menjadi menarik.
Sepanjang 1994-2004 pertumbuhan produksi dunia didominasi oleh
produksi dari laut dalam dengan hampir 4 juta barel per hari, yang diperkirakan
akan terus meningkat menjadi sekitar 8.5 juta barel per hari pada 2010.
Terobosan teknologi yang lebih baru banyak diterapkan untuk kawasan
yang sudah tua, misalnya di Laut Utara dan Alaska. Produksi minyak Rusia
bangkit lagi setelah jatuh drastis pada pasca- perestoroika berkat penerapan
teknologi dan manajemen produksi yang termutakhir. Bagi kawasan yang belum
sepenuhnya terjangkau oleh teknologi baru (termasuk Indonesia), teknologi baru
tersebut berpeluang besar untuk pengembangan kembali lapangan-lapangan yang
sudah ada secara menguntungkan, apalagi dalam suasana risiko investasi yang
tinggi untuk pengembangan lapangan baru.
Berdasarkan informasi dari BP Migas, 90 persen lapangan di
Indonesia sudah melewati puncak produksi. Sebanyak 69 persen dari 520 lapangan
yang ada berstatus terdeplesi dan lebih dari 50 persen cadangan berada pada
lapangan berukuran kecil. Lapangan-lapangan tua diperkirakan hanya mempunyai
umur 7-8 tahun. Lapangan-lapangan marjinal yang jumlahnya cukup banyak menunggu
untuk dieksploitasi. Produksi yang pernah mencapai lebih dari 1,5 juta barel
per hari sepuluh tahun yang lalu sekarang tinggal 1 juta barel per hari.
Suatu kajian yang dilakukan IPA (Indonesian Petroleum Association)
delapan tahun yang lalu meramalkan kondisi sekarang ini. Pemerintah saat itu
mungkin sadar akan peringatan IPA tersebut tapi kemudian untuk melakukan
strategi baru terhalang oleh krisis politik dan krisis ekonomi.
Langkah-langkah yang diambil pemerintah sekarang ini untuk
meningkatkan cadangan dan produksi adalah mendekati investor untuk membuka
wilayah kerja baru atau yang lama, memperbaiki sistem perpajakan, menawarkan
bagi hasil yang menarik. Di samping itu insentif pemakaian teknologi baru serta
pemanfaatan lapangan marjinal diharapkan dapat meningkatkan gairah kegiatan
perminyakan Indonesia. Hasil dari perbaikan iklim investasi dan operasi ini
tentu harus ditunggu dalam kurun waktu 4-7 tahun ke depan mengingat jadwal atau
siklus kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas di hulu memang
memerlukan waktu sedemikian. Karena itu dapat diduga bahwa pada 2006 produksi
minyak Indonesia belum akan meningkat secara signifikan.
Tanpa upaya tersebut, produksi minyak Indonesia pada 2010 hanya 500
ribu barel per hari. Dengan upaya perbaikan iklim pengusahaan migas seperti
disebutkan tadi, produksi pada tahun 2010 seperti diperkirakan BP Migas bisa
naik menjadi 1.200-1.400 ribu barel per hari.
Dengan tingginya harga minyak maka dorongan investasi dan
pengusahaan migas di hulu kelihatannya cukup besar. Penemuan cadangan besar di
lapisan lebih dalam dari lapangan Cepu (Exxon Mobil), yang nota bene adalah
lapangan tua, menebar harapan baru bagi investor lain untuk mendapat keuntungan
yang serupa.
Empat potensi energi yang nampaknya akan digalakkan pemerintah
adalah geotermal, batu bara, energi hijau dan nuklir, di samping gas dan energi
baru dan terbarukan lainnya. Untuk energi transportasi di luar listrik, batu
bara dan energi hijau atau biofuel adalah sumber yang cukup menjanjikan.
Pencarian batu bara sebagai sumber bahan bakar minyak sintetik
dengan teknologi bersih mulai menarik pada situasi harga minyak yang tinggi
ini. Kajian kelayakan oleh tekMIRA, BPPT,JCOAL, KOBELCO terhadap 3 jenis batu
bara Indonesia jenis lignit (brown coal) memberikan harga jual BBM sintetik
setara harga minyak mentah 23-29 dolar per barel. Ini investasi padat modal (5
miliar dolar untuk kapasitas produksi BBM 100 ribu barel per hari) yang
memerlukan perlakuan khusus untuk melindungi investasi jangka panjang.
Batu bara Bangko, Sumatera Selatan dengan cadangan 2,5 miliar ton
akan mampu memberikan 1 juta barel per hari BBM sintetik selama 30 tahun. Perlu
dicatat bahwa cadangan terbukti batu bara Indonesia sebesar 6,9 miliar ton,
terukur 12,4 miliar ton dan sumber daya 57,8 miliar ton memberikan optimisme
bahwa batu bara adalah masa depan sumber BBM Indonesia.
Energi hijau adalah karunia Tuhan untuk bangsa ini, setara dengan
minyak dan gas untuk bangsa-bangsa di Timur Tengah. Misalnya, satu hektare
lahan dapat memberikan sekurang-kurangnya 8 ton atau 70 barel minyak kelapa
sawit (CPO) per tahun. 20-30 persen komponen kelapa sawit berkategorikan bukan
makanan dapat diarahkan sebagai pengganti BBM. Harga fraksi 300 dolar per ton
setara dengan harga minyak 35 dolar per barel.
CPO berkualitas makanan dengan harga 400 dolar per ton, dapat
diekspor sebagai pembayar impor BBM. Untuk menghasilkan 1 juta barel BBM, maka
diperlukan 5 juta hektare lahan dan sekurang-kurangnya 1 juta tenaga kerja.
Bayangkan bahwa sekarang terdapat 40 juta lahan kritis di Indonesia.
Maizar Rahman
Gubernur OPEC Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/SBefZD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **