** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/30/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Dwifungsi (!?) BS Mardiatmadja, SJ PERJALANAN Presiden ke Korea menyingkapkan masalah penting. Pemimpin Republik ini merasakan kerisauan, ada sejumlah tokoh menjalankan dwifungsi, yaitu sekaligus pelaku politik dan pelaku ekonomi. Banyak orang dalam Republik ini yang mempunyai keresahan serupa: dwifungsi politik dan ekonomi itu dapat menimbulkan ketegangan di kedua bidang hidup masyarakat kita, yaitu pelayanan publik dan kekuasaan pasar. Kita pernah mengalami ketegangan besar, tatkala banyak orang menjalankan dwifungsi juga. Kita tidak tenang setiap kali melihat, di dunia politik ada sejumlah orang dari kalangan militer yang juga aktif. Mereka yang membela dwifungsi waktu itu mendasarkan pandangannya dengan menyatakan rakyat masih membutuhkan kehadiran ABRI supaya demokrasi lebih teguh. Ungkapan yang menyakitkan rakyat adalah: rakyat belum masak dan belum cukup dewasa untuk berdemokrasi. Lama kelamaan dasar itu dianggap tidak kokoh lagi karena berbau paternalistik dan menunjukkan sikap tidak percaya pada kedewasaan rakyat. Kecuali itu, justru kehadiran orang dari angkatan bersenjata kerap dirasa sebagai ancaman terhadap demokrasi yang sehat. Bobot argumen dalam diskusi atau debat demokratis kerap ditegangkan oleh sosok senjata di balik rekan rundingnya. Lalu debat tidak lagi murni pertukaran pikiran. Ketegangan itu semakin dirasakan tatkala pimpinan negara sebenarnya juga memanfaatkan kedua sisi masyarakat itu: politik dan angkatan bersenjata. Dengan perundingan yang alot namun jernih, akhirnya diambil keputusan agar dwifungsi ABRI ditanggalkan. Sekarang, malah pelbagai perusahaan dalam lingkungan TNI mulai disiapkan untuk ditata-ulang, agar pasar dapat bergerak dengan lebih bebas. Namun, kebebasan pasar tidak dengan sendirinya tanpa masalah. Sewaktu Eropa Timur runtuh dan menghancurkan negara-negara yang berdiri karena ideologi sosialisme, Paus mengingatkan, kapitalisme dan liberalisme baru dalam dunia ekonomi tidaklah lebih baik. Dunia kapitalis itu rupanya didukung sejenis globalisasi ekonomi yang telah lama membuat risau banyak orang. Sebenarnya Bung Karno sudah melontarkan kritik terhadap kecenderungan ada negara(-negara) tertentu yang mau menguasai pasar dunia dengan dalih demokrasi. Namun, sosok Indonesia dari sudut ekonomi tidaklah memadai untuk menghadapinya. Bahkan rezim berikutnya memanfaatkan kehausan rakyat akan kemakmuran dan mengambil-alih model pembangunan yang menonjolkan kebebasan pengusahaan materi secara semakin lama semakin liberal. Kecerobohan Soeharto dalam mengembangkan ekonomi oligarkis sebenarnya merusak sendiri keinginannya menciptakan Indonesia yang makmur dari sudut materi. Terjadilah dwifungsi baru: teman dan koneksi berfungsi sebagai motor ekonomi. Sebab model pembangunan materialistis dan kapitalistik itu memang memungkinkan sejumlah usahawan besar yang terkait sebagai teman penguasa, tetapi sekaligus menciptakan jurang besar dalam masyarakat. Sebab lautan orang miskin semakin banyak dan ketegangan politis mendepak Soeharto keluar pentas. Bermuka Dua Banyak tokoh reformasi tidak banyak belajar dari ketegangan itu. Tak sedikit mantan pelaku lama masih tetap berperan: mereka bukan hanya menjadi pelaku politik, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi. Dari zaman dwifungsi ABRI lewat dwifungsi oligarkis sampai dengan dwifungsi ekopolitik dipakai dalih sama: kami, anak kami, teman kami, rekan dagang kami, kan juga warga negara yang berhak aktif juga di bidang politik. Kadang kala dipakai persamaan dengan orang dari negara lain. Dilupakan pelbagai mekanisme yang memperkecil ketegangan, yang di Republik ini tidak diusahakan. Sebab, dari masa dwifungsi ABRI, dwifungsi oligarkis sampai dwifungsi ekopolitik, demokrasi tetaplah bersifat semu. Pelbagai lembaga demokrasi ada: parlemen, pengadilan, penegak hukum dan pelaku politik lain. Namun, dari dulu sampai sekarang terdapat penguasa tak nampak: yaitu uang. Uang sendiri seharusnya merupakan sarana pertukaran barang dan jasa. Namun, lama kelamaan uang menjadi syarat utama kekuasaan, bahkan mengemudikan segala bidang. Pasar menjadi penguasa Republik; pelayan publik dikuasai oleh kehausan akan uang; rakyat dicekik dengan uang. Semua karena dwifungsi yang kejam. Manusia harus dibebaskan dari dwifungsi yang tidak menyelamatkan itu. Sesungguhnya hal seperti itu dialami oleh rakyat Republik kita dalam inti dirinya. Bahkan keluarga, basis masyarakat kita akan hancur kalau dwifungsi terjadi: suami/istri mengabdi dalam dan luar keluarga. Suami atau istri mendua: dalam keluarga ada cinta yang resmi; di luarnya berkembang cinta liar. Anak-anak remaja hidup dalam dua dunia: dalam keluarga dan luar keluarga. Orangtua mendidik anak dalam dua jalur sekaligus: moralitas resmi yang dipampangkan meriah di dinding sekolah dan etika situasi di luar rumah yang dikompromikan dengan oportunisme tanpa batas. Persekolahan diberi UU yang menyuratkan nilai luhur, tetapi menyiratkan etatisme yang merusak nilai yang mau dididikkan. Media diminta menawarkan perbaikan nilai tetapi sekaligus dipaksa untuk menjadi saluran kontrademokrasi. Masyarakat penuh dengan kecenderungan bermuka-dua. Kembali ke Fokus Dan yang lebih mencelakakan adalah dwifungsi keagamaan: tokoh agama yang juga berfungsi politis. Pendewaannya sudah terbukti membawa banyak malapetaka: dari para kaisar romawi, Napoleon, sampai abad modern. Agama yang seharusnya merupakan jalan menuju yang mengatasi keterbatasan manusiawi, sekaligus juga harus mau mengabdi kepada kepentingan-kepentingan terbatas publik politik dan pasar. Pemimpin agama yang sibuk dengan urusan publik politik dengan dalih "iman harus tampak dalam segala bidang", dapat dengan cepat kehilangan kredibilitas dan merancukan peran iman. Bahkan ibadat kerap menjalankan dwifungsi: kelihatannya untuk menyembah Tuhan tetapi sekaligus nyatanya untuk memancing keuntungan publik politik. Sesekali ditemukan juga pemuka umat yang memakai ibadat untuk mengumpulkan pengaruh pasar. Di tempat lain, pemimpin ibadat lebih menampilkan diri sebagai artis pertunjukan dengan segala aksesorinya daripada mempersilakan Tuhan sebagai pemain utamanya. Agama jadi komoditi sebagaimana aneka komoditi akan lapuk dimakan masa; bila tidak kembali pada fokusnya menolong agar umat mempersilakan Tuhan berkuasa; bukannya menguasai Tuhan lewat hantu beraneka. Banyak orang merasa, dwifungsi tumbuh subur. Di segala bidang. Fajar tahun 2006 menantang kita semua untuk kembali pada fokus pelayanan kita masing-masing dan tidak mencampuradukkan segala segi tugas. Bila tidak, tahun 2007 akan menggugat dwifungsi yang memorakporandakan sistem politik, sistem pasar, sistem keluarga dan keutuhan pribadi kita sendiri. Pribadi yang utuh harus menggantikan pribadi yang terpecah-belah: pada lapisan hidup perseorangan, hidup berkeluarga, komunitas beragama, perkumpulan pasar, dunia media serta publik politis. u Penulis adalah rohaniwan Last modified: 30/12/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> For $25, 15 Afghan women can learn to read. Your gift can make a difference. http://us.click.yahoo.com/_smZ4B/SdGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

