** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Utopisme dan Irasionalitas Sistem Khilafah

Oleh Pradana Boy ZTF
23/05/2005

Proliferasi gerakan Islam berideologi kanan di Indonesia beberapa tahun 
belakangan, membuka kembali perdebatan tentang khilafah Islam. Ini terjadi 
karena Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu eksponen gerakan Islam 
ideologis di Indonesia, mengusung gagasan perlunya kembali ke sistem 
khilafah sebagai solusi semua problem yang dihadapi bangsa-bangsa dunia, 
termasuk Indonesia. Tulisan ini bermaksud mengkaji utopisme dan 
irasionalitas adopsi sistem khilafah Islam dalam konteks modernitas.

Irasionalitas mengadopsi sistem khilafah dalam konteks masa kini, 
sebenarnya bisa diidentifikasi melalui pelacakan setting dan struktur 
sosial suatu masyarakat. Kajian tentang sejarah pembentukan dan evolusi 
bentuk-bentuk pemerintahan di negara-negara Arab yang dilakukan Nazih 
al-Ayubi (1995) dalam Overstating Arab States, bisa dijadikan salah satu 
contoh. Al-Ayubi menggunakan kerangka teori Marxisme tentang mode of 
production untuk menganalisis evolusi sistem kenegaraan di dunia Arab. Tapi 
yang terjadi ketika menggunakan kerangka teori tersebut? Kegagalan dalam 
menjelaskan fenomena yang terjadi di Arab sana. Kerangka teori Marxisme 
mengidentifikasi bahwa suprastuktur negara sangat ditentukan oleh basis 
masyarakat. Oleh Marx, basis itu tidak lain adalah mode of production dan 
relasi antar para pemilik sarana-sarana produksi.

Di masyarakat Barat di mana Marx menelurkan gagasannya, sarana produksi 
lebih bersifat modern. Tapi dalam masyarakat Arab pra-Islam, mode of 
production seperti yang diandaikan Marx tidaklah ada. Yang berlangsung 
adalah apa yang disebut dengan Asiatic mode of production atau model 
produksi Asia, di mana pemilik unsur-unsur produksi adalah tribe (suku). 
Yang dimiliki tidak lain adalah tanah. Penguasaan unsur produksi pada 
akhirnya ditentukan oleh pemilikan atas tanah.

Untuk membuktikan bahwa basis menentukan suprastruktur, pendekatan Marxian 
bisa diterapkan di sini. Karena dominasi pemilikan tanah ada di tangan 
suku, maka proses penentuan suprastruktur negara sangat ditentukan oleh 
ikatan-ikatan primordial yang kemudian dikenalkan oleh Ibn Khaldun dengan 
nama ashabiyah (fanatisme). Dalam konteks inilah, Ibn Khaldun kemudian 
mengintrodusir gagasan bahwa satu-satunya jalan untuk mengontrol negara 
adalah dengan peperangan, sehingga terjadi pergeseran pola produksi dari 
Asiatic mode of production kepada tributary, military atau conquest mode of 
production. Lahirnya imperium Islam, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari 
mode produksi seperti ini. Jika dilihat secara kasar, tributary mode of 
production ini sebenarnya terjadi dalam satu sistem pemerintahan bernama 
khilafah.

Dalam konteks ini, simplifikasi khilafah sebagai sistem pemerintahan yang 
terbaik menjadi sangat ahistoris. Dengan melihat struktur sosial di atas, 
khilafah sama sekali bukan sistem Islam. Ia adalah produk zaman, di mana 
sistem kenegaraan didasarkan tribe atau puak sangat mendominasi. Lahirnya 
sistem khilafah adalah evolusi dari sistem dan mekanisme yang berkembang 
dalam tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Karena itu, dia mengandung 
unsur-unsur partikularistik yang tidak bisa diadopsi begitu saja dalam 
konteks masyarakat yang memiliki sistem sosial yang berbeda.

Karena itu, jika khilafah diklaim sebagai sistem pemerintahan Islam yang 
universal, sesungguhnya akan mudah saja bagi kita menemukan sistem itu 
dipraktikkan di seantero Arab yang memiliki hubungan genealogis erat dengan 
sejarah kelahiran khilafah. Tapi yang terjadi adalah, hampir tidak ada 
negara-negara Timur Tengah yang mengadopsi sistem khilafah sebagai sistem 
negara modern. Tidak sedikit yang justru beralih mengadopsi sistem republik 
atau republik demokratis. Ini menunjukkan bahwa sistem bernegara adalah 
sesuatu yang bersifat evolutif dan merupakan human construction atau 
konstruksi manusia yang tidak terlalu jauh melibatkan Tuhan.

Dengan menjadikan negara-negara Arab sebagai objek pengamatan, Ibn Khaldun 
juga sampai pada kesimpulan bahwa terdapat lima tahapan perkembangan dan 
keruntuhan suatu negara: konsolidasi, tirani, eksploitasi hak-hak istimewa, 
perdamaian serta desolusi, dan pembusukan (Fakhry, 2003: 342). Pada tahapan 
yang terakhir ini, kekuasaan akan mengalami pembusukan, karena menurut Ibn 
Khaldun, telah terjadi penyalahgunaan hak milik publik untuk kesenangan 
penguasa (monarch).
Apa yang diidentifikasi Khaldun ini tentu terjadi dalam sebuah konteks di 
mana khilafah menjadi sistem dominan bagi bangsa-bangsa Arab di masa 
lampau. Karena besarnya potensi penyimpangan yang luar biasa pada sistem 
khilafah itulah, menjadi maklum kalau negara-negara Arab belakangan ini 
mulai melirik demokrasi sebagai sistem alternatif (Richard N. Hass, 2003).

Tentu demokrasi tidak sepenuhnya baik. Tapi sampai hari ini, demokrasi 
selalu dirujuk sebagai sistem pemerintahan terbaik. Di banding sistem 
pemerintahan lainnya, demokrasi termasuk yang paling reliable atau andal. 
Dan dalam demokrasi sendiri, terdapat varian-varian yang cukup beragam. 
Tapi keragaman varian itu sah saja sepanjang nilai-nilai dasar demokrasi 
tetap diberlakukan.
Tapi sementara kelompok menolak demokrasi atas dasar keyakinan bahwa hukum 
Tuhan adalah hukum terbaik. Gagasan ini sangat utopis dan terlampau 
abstrak. Bagaimana hukum Tuhan yang abstrak itu akan diberlakukan untuk 
menangani persoalan-persoalan kemanusiaan, kalau tidak juga melewati campur 
tangan manusia. Sementara pada awal pewahyuan saja hukum-hukum Tuhan itu 
masih memerlukan penjelasan teoretik dan praksis dari Nabi, apatah lagi di 
masa kita yang hidup di alam yang jauh dari Nabi. Penafsiran hukum-hukum 
Tuhan tidak pernah bisa dielakkan. Dalam konteks itu, demokrasi juga dapat 
disebut sebagai kreasi manusia untuk mengaktualisasi hukum Tuhan dalam 
konteks profanitas kehidupan manusia. Demokrasi tidak bermakna hilangnya 
suara Tuhan.

Bahwa Islam punya banyak sistem dalam mengatur kehidupan, tentu bisa 
dibenarkan. Tapi klaim bahwa Islam punya sistem bernegara yang lebih baik 
juga kesimpulan yang terburu-buru. Namun demikian, Islam punya hak dan 
potensi untuk mengadopsi nilai-nilai demokrasi yang tidak destruktif. Di 
luar soal dari mana demokrasi berasal, nilai-nilai demokrasi sebenarnya 
sangat kompatibel dengan Islam. Karena itu, yang diperlukan bukan 
semata-mata mengadopsi demokrasi ala Barat itu, melainkan melakukan 
"ekstraksi" sehingga nilai-nilai demokrasi yang sudah universal pada 
dasarnya itu bisa bertemu dengan gagasan Islam yang rahmatan lil `alamin.

Para filosof muslim telah memberikan teladan, bagaimana melakukan 
akselerasi warisan filsafat Yunani dengan nilai-nilai genuine Islam, 
sehingga lahirlah filsafat Islam yang kaya dan sarat dengan nilai-nilai 
Islam. Tapi meski begitu, mereka juga tidak menafikan perujukan terhadap 
filsafat Yunani sebagai inspirasi. Pilihan untuk meninggalkan sistem 
khilafah dan menggantinya dengan demokrasi justru menunjukkan kekayaan 
Islam dan fleksibilitas agama ini dalam melakukan akselerasi dengan perubahan.

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=820



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke