** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Mari kita simak bagian yang sangat signifikant dari ulasan ini:
"Dalam konteks ini, simplifikasi khilafah sebagai sistem pemerintahan yang terbaik menjadi sangat ahistoris. Dengan melihat struktur sosial di atas,khilafah sama sekali bukan sistem Islam. Ia adalah produk zaman, di mana sistem kenegaraan didasarkan tribe atau puak sangat mendominasi. Lahirnya sistem khilafah adalah evolusi dari sistem dan mekanisme yang berkembang dalam tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Karena itu, dia mengandung unsur-unsur partikularistik yang tidak bisa diadopsi begitu saja dalam konteks masyarakat yang memiliki sistem sosial yang berbeda...." DAN "Karena itu, jika khilafah diklaim sebagai sistem pemerintahan Islam yang universal, sesungguhnya akan mudah saja bagi kita menemukan sistem itu dipraktikkan di seantero Arab yang memiliki hubungan genealogis erat dengan sejarah kelahiran khilafah. Tapi yang terjadi adalah, hampir tidak ada negara-negara Timur Tengah yang mengadopsi sistem khilafah sebagai sistem negara modern. Tidak sedikit yang justru beralih mengadopsi sistem republik atau republik demokratis. Ini menunjukkan bahwa sistem bernegara adalah sesuatu yang bersifat evolutif dan merupakan human construction atau konstruksi manusia yang tidak terlalu jauh melibatkan Tuhan...." Memang, mas, dan teman teman, kalau kita kaji sejarah ilmu sosial politik, kita akan lihat, banyak konsep konsep yang sangat utopis, lalu kandas. Seringkali setelah menelan jutaan jiwa manusia. Contohnya adalah Marxisme-Leninisme. Sytem yang ideenya sangat humanis: melindungi kaum papa melawan bangsawan dan kapitalis. Rusia, dan negara negara komunis rontok. RRT sanggup menyelamatkan kehancuran komunisme pure, karena pimpinan negara buru buru belok haluan, dan mengadopt elemen elemen non- sosialis. Mixed system. Sebaliknya, idee kapitalisme murni juga utopis, dan selalu gagal, karena wajahnya yang bengis dan a-manusiawi. Juga Neo-Liberalisme murni akan hancur karena perlawanan manusia. Saya juga mengimpikan sebuah negara yang jaya, seperti Majapahit diatas bumi Indonesia, yang berbudaya Asia timur murni (Buddhisme), bukan budaya dari region lain (Semit atau Eropa). Tetapi, kondisi yang terjadi kala itu, ratusan tahun, tak lagi match dalam peta sospol Nusantara yang sekarang. Kalaupun kita paksakan, akan terjadi hal yang ahistoris. Buyut semua anggauta milis disini (kecuali yang Indo atau mixed blood), adalah penganut Buddha. Tak usah jauh jauh, Austria yang kini hanya negara kecil berpenduduk 7 juta (tetapi makmur dan tentram), pernah merupakan kerajaan adijaya yang membentang dari laut Adria sampai laut Utara, berpenduduk puluhan juta manusia dengan Angkatan Perang yang sangat digjaya. Ini berlangsung DUA ribu tahun (sampai 1918). Tetapi, adalah mimpi, kalau rakyat Austria kini ingin membalikkan roda sejarah. Kondisinya dan situasinya tak lagi menunjang. Juga negara negara Islam diwilayah Arabia, yang menggunakan bahasa Arab dan menjalankan budaya Arab setiap hari, mewarisi agama secara murni dari nabi Muhammad, tak mampu mendirikan sebuah negara syariah yang mencakup semua bangsa bangsa Islam disana. Padahal mereka tidak bhineka tidak tunggal ika. Bagaimana mbak Trulysoul? Kebhinekaan kitalah yang tak lagi memungkinkan membuat negara dengan basis SATU agama atau SATU budaya (Jawa misalnya). Jadi, marilah kita nilai sendiri ke-utopis-an idee idee agung masa lalu. Salam danardono --- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Utopisme dan Irasionalitas Sistem Khilafah > > Oleh Pradana Boy ZTF > 23/05/2005 > > Proliferasi gerakan Islam berideologi kanan di Indonesia beberapa tahun > belakangan, membuka kembali perdebatan tentang khilafah Islam. Ini terjadi > karena Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu eksponen gerakan Islam > ideologis di Indonesia, mengusung gagasan perlunya kembali ke sistem > khilafah sebagai solusi semua problem yang dihadapi bangsa-bangsa dunia, > termasuk Indonesia. Tulisan ini bermaksud mengkaji utopisme dan > irasionalitas adopsi sistem khilafah Islam dalam konteks modernitas. > > Irasionalitas mengadopsi sistem khilafah dalam konteks masa kini, > sebenarnya bisa diidentifikasi melalui pelacakan setting dan struktur > sosial suatu masyarakat. Kajian tentang sejarah pembentukan dan evolusi > bentuk-bentuk pemerintahan di negara-negara Arab yang dilakukan Nazih > al-Ayubi (1995) dalam Overstating Arab States, bisa dijadikan salah satu > contoh. Al-Ayubi menggunakan kerangka teori Marxisme tentang mode of > production untuk menganalisis evolusi sistem kenegaraan di dunia Arab. Tapi > yang terjadi ketika menggunakan kerangka teori tersebut? Kegagalan dalam > menjelaskan fenomena yang terjadi di Arab sana. Kerangka teori Marxisme > mengidentifikasi bahwa suprastuktur negara sangat ditentukan oleh basis > masyarakat. Oleh Marx, basis itu tidak lain adalah mode of production dan > relasi antar para pemilik sarana-sarana produksi. > > Di masyarakat Barat di mana Marx menelurkan gagasannya, sarana produksi > lebih bersifat modern. Tapi dalam masyarakat Arab pra-Islam, mode of > production seperti yang diandaikan Marx tidaklah ada. Yang berlangsung > adalah apa yang disebut dengan Asiatic mode of production atau model > produksi Asia, di mana pemilik unsur-unsur produksi adalah tribe (suku). > Yang dimiliki tidak lain adalah tanah. Penguasaan unsur produksi pada > akhirnya ditentukan oleh pemilikan atas tanah. > > Untuk membuktikan bahwa basis menentukan suprastruktur, pendekatan Marxian > bisa diterapkan di sini. Karena dominasi pemilikan tanah ada di tangan > suku, maka proses penentuan suprastruktur negara sangat ditentukan oleh > ikatan-ikatan primordial yang kemudian dikenalkan oleh Ibn Khaldun dengan > nama ashabiyah (fanatisme). Dalam konteks inilah, Ibn Khaldun kemudian > mengintrodusir gagasan bahwa satu-satunya jalan untuk mengontrol negara > adalah dengan peperangan, sehingga terjadi pergeseran pola produksi dari > Asiatic mode of production kepada tributary, military atau conquest mode of > production. Lahirnya imperium Islam, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari > mode produksi seperti ini. Jika dilihat secara kasar, tributary mode of > production ini sebenarnya terjadi dalam satu sistem pemerintahan bernama > khilafah. > > Dalam konteks ini, simplifikasi khilafah sebagai sistem pemerintahan yang > terbaik menjadi sangat ahistoris. Dengan melihat struktur sosial di atas, > khilafah sama sekali bukan sistem Islam. Ia adalah produk zaman, di mana > sistem kenegaraan didasarkan tribe atau puak sangat mendominasi. Lahirnya > sistem khilafah adalah evolusi dari sistem dan mekanisme yang berkembang > dalam tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Karena itu, dia mengandung > unsur-unsur partikularistik yang tidak bisa diadopsi begitu saja dalam > konteks masyarakat yang memiliki sistem sosial yang berbeda. > > Karena itu, jika khilafah diklaim sebagai sistem pemerintahan Islam yang > universal, sesungguhnya akan mudah saja bagi kita menemukan sistem itu > dipraktikkan di seantero Arab yang memiliki hubungan genealogis erat dengan > sejarah kelahiran khilafah. Tapi yang terjadi adalah, hampir tidak ada > negara-negara Timur Tengah yang mengadopsi sistem khilafah sebagai sistem > negara modern. Tidak sedikit yang justru beralih mengadopsi sistem republik > atau republik demokratis. Ini menunjukkan bahwa sistem bernegara adalah > sesuatu yang bersifat evolutif dan merupakan human construction atau > konstruksi manusia yang tidak terlalu jauh melibatkan Tuhan. > > Dengan menjadikan negara-negara Arab sebagai objek pengamatan, Ibn Khaldun > juga sampai pada kesimpulan bahwa terdapat lima tahapan perkembangan dan > keruntuhan suatu negara: konsolidasi, tirani, eksploitasi hak-hak istimewa, > perdamaian serta desolusi, dan pembusukan (Fakhry, 2003: 342). Pada tahapan > yang terakhir ini, kekuasaan akan mengalami pembusukan, karena menurut Ibn > Khaldun, telah terjadi penyalahgunaan hak milik publik untuk kesenangan > penguasa (monarch). > Apa yang diidentifikasi Khaldun ini tentu terjadi dalam sebuah konteks di > mana khilafah menjadi sistem dominan bagi bangsa-bangsa Arab di masa > lampau. Karena besarnya potensi penyimpangan yang luar biasa pada sistem > khilafah itulah, menjadi maklum kalau negara-negara Arab belakangan ini > mulai melirik demokrasi sebagai sistem alternatif (Richard N. Hass, 2003). > > Tentu demokrasi tidak sepenuhnya baik. Tapi sampai hari ini, demokrasi > selalu dirujuk sebagai sistem pemerintahan terbaik. Di banding sistem > pemerintahan lainnya, demokrasi termasuk yang paling reliable atau andal. > Dan dalam demokrasi sendiri, terdapat varian-varian yang cukup beragam. > Tapi keragaman varian itu sah saja sepanjang nilai-nilai dasar demokrasi > tetap diberlakukan. > Tapi sementara kelompok menolak demokrasi atas dasar keyakinan bahwa hukum > Tuhan adalah hukum terbaik. Gagasan ini sangat utopis dan terlampau > abstrak. Bagaimana hukum Tuhan yang abstrak itu akan diberlakukan untuk > menangani persoalan-persoalan kemanusiaan, kalau tidak juga melewati campur > tangan manusia. Sementara pada awal pewahyuan saja hukum-hukum Tuhan itu > masih memerlukan penjelasan teoretik dan praksis dari Nabi, apatah lagi di > masa kita yang hidup di alam yang jauh dari Nabi. Penafsiran hukum- hukum > Tuhan tidak pernah bisa dielakkan. Dalam konteks itu, demokrasi juga dapat > disebut sebagai kreasi manusia untuk mengaktualisasi hukum Tuhan dalam > konteks profanitas kehidupan manusia. Demokrasi tidak bermakna hilangnya > suara Tuhan. > > Bahwa Islam punya banyak sistem dalam mengatur kehidupan, tentu bisa > dibenarkan. Tapi klaim bahwa Islam punya sistem bernegara yang lebih baik > juga kesimpulan yang terburu-buru. Namun demikian, Islam punya hak dan > potensi untuk mengadopsi nilai-nilai demokrasi yang tidak destruktif. Di > luar soal dari mana demokrasi berasal, nilai-nilai demokrasi sebenarnya > sangat kompatibel dengan Islam. Karena itu, yang diperlukan bukan > semata-mata mengadopsi demokrasi ala Barat itu, melainkan melakukan > "ekstraksi" sehingga nilai-nilai demokrasi yang sudah universal pada > dasarnya itu bisa bertemu dengan gagasan Islam yang rahmatan lil `alamin. > > Para filosof muslim telah memberikan teladan, bagaimana melakukan > akselerasi warisan filsafat Yunani dengan nilai-nilai genuine Islam, > sehingga lahirlah filsafat Islam yang kaya dan sarat dengan nilai- nilai > Islam. Tapi meski begitu, mereka juga tidak menafikan perujukan terhadap > filsafat Yunani sebagai inspirasi. Pilihan untuk meninggalkan sistem > khilafah dan menggantinya dengan demokrasi justru menunjukkan kekayaan > Islam dan fleksibilitas agama ini dalam melakukan akselerasi dengan perubahan. > > Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=820 > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

