** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.suarapembaruan.com/News/2006/03/02/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Dulu Atlet Hebat, Kini Jatuh Melarat 

 
JUMAT sore itu, halaman depan gedung direksi Gelora Bung Karno mulai lengang. 
Gurnam Singh berbaring santai di bangku panjang. Kerindangan pohon akasia 
membuatnya terlelap. Tak banyak yang tahu, pria berusia 75 tahun itu mantan 
atlet hebat. 

Nama Gurnam Singh tidak terdengar asing bagi penggemar atletik di masa lalu. 
Gurnam cukup tenar pada tahun 1960-an. Pria keturunan Sikh yang besar di Medan, 
Sumatera Utara ini adalah pelari peraih medali perak di Asian Games tahun 1962. 
Sejumlah nomor lari jarak jauh, seperti 5.000 meter, 10.000 meter, dan lari 
maraton menjadi arena kehidupannya. 

Penampilan Gurnam tak lagi segagah dulu. Pria bersorban ini tampak lesu. 
Meskipun tinggi badannya mencapai 180 cm, Gurnam kerap membungkuk. Kemeja batik 
kusam dan celana panjang lusuh cukup sering melekat di tubuhnya. Sesekali dia, 
melepas kaus kaki yang juga sudah kumal. Gurnam tak banyak bicara. 

Sosok Gurnam bukan lagi asing. Nyaris sehari penuh, dia lontang-lantung di 
Gelora Senayan. Seringkali dia tidur di emperan atau bangku. Setelah bangun 
beberapa jam, dia tidur lagi hingga berjam-jam. Dapat makankah dia? Entahlah. 
Setelah gagal bertemu pejabat olahraga, Gurnam pulang sore hari. 


Atlet Hebat 

Buat Gurnam, roda nasib berputar terlalu cepat. Di ajang pesta olahraga Asian 
Games 1962, Jakarta, namanya dielu-elukan bak pahlawan. Namun setelah 44 tahun 
berlalu, masihkah orang menghormati Gurnam sang juara? Masih adakah orang yang 
menghargainya setelah membela nama bangsa di Asian Games? 

Di Asian Games IV, Gurnam meraih medali pertama bagi kontingen Indonesia di 
Asian Games 1962 nomor 10.000 meter. 

Sayang, kehidupan Gurnam tak seindah medali perak yang pernah diraihnya dulu. 
Sepintas, orang mungkin mengiranya gelandangan gila. Apalagi jika mendengar 
maksud Gurnam menemui Menpora Adyaksa Dault dan Ketua Umum KONI Pusat Agum 
Gumelar. 



Sejak datang dari Medan pada Agustus 2005 lalu, Gurnam mengungkapkan niatnya 
itu. Dia seolah tak bosan menunggu kesempatan. Itulah sebabnya, Gurnam 
bolak-balik datang ke Kantor Menpora dan KONI Pusat. Namun hingga bulan keenam, 
Februari 2006, kata Gurnam, dia belum juga bertemu dengan Menpora. 

"Saya sudah menunggu enam bulan di sini, tapi banyak yang bilang, menteri tidak 
ada. Saya mau membicarakan dengan Menpora soal keterpurukan olahraga sekarang 
ini. Di Medan itu sudah tidak ada apa-apanya seperti dulu," gerutu Gurnam 
kepada Pembaruan di pelataran Gedung Direksi Gelora Bung Karno. 

Tetapi tampaknya Gurnam tidak mengenal nama Agum Gumelar. Pelari jarak jauh dan 
maraton seangkatan dr Mohamad Sarengat ini cuma tahu ada menpora, dan ingin 
bertemu dengan sang menteri. "Pak Gurnam, Menpora itu tidak ada di sini, di 
sini KONI, Pak Agum ketuanya," tegur petugas di sekitar kantor Gelora. 


Menggelandang 

Dari Medan, Gurnam menumpang kapal ke Jakarta pada pertengahan Agustus 2005 
lalu. Di Jakarta, dia tinggal di kuil Sikh, Gurudwara. Namun lebih banyak 
menumpang tidur di Gurudwara Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di sana, Gurnam Singh 
kerap berjalan kaki menuju Gelora Bung Karno. Mantan atlet itu hidup 
menggelandang. 

Bagaimana sebetulnya kehidupan Gurnam Singh, setelah meraih medali pertama di 
Asian Games ? Banyak orang yang bilang, Gurnam tidak cermat memanfaatkan 
kelebihannya sebagai atlet. Salah seorang rekan, dr Mohamad Sarengat, pernah 
mengatakan, Gurnam bukannya tidak mengenyam pemberian apa-apa. 

Gurnam menerima berbagai hadiah dari pemprov Sumut, dan sejumlah pengusaha. 
Namun, semua hadiah dan penghargaan itu tidak digunakan dengan baik. Itu 
sebabnya di hari tua, dia mengalami banyak kesusahan. 

Di Medan, kata sejumlah pejabat olahraga di sana, kehidupan Gurnam sudah sama 
seperti gembel. Tidur di emper-emper toko, dan di sejumlah tempat ibadah. Salah 
seorang petugas gedung Direksi Gelora Bung Karno mengatakan Gurnam sudah 
berkali-kali bertemu dengan Agum Gumelar. Meskipun kerap meminta ongkos untuk 
ke Medan, hingga kini Gurnam belum juga pulang. 

Nasib Gurnam Singh sebenarnya dapat menjadi contoh bagi atlet-atlet Indonesia 
lain. Roda kehidupan yang berputar cepat perlu perhitungan cermat. Di masa 
jaya, atlet jangan melupakan hari tua. Meskipun buruk, kisah Gurnam dapat 
menjadi pelajaran berharga dan perhatian bagi atlet-atlet yang kini berhasil. 

Sejumlah atlet yang bernasib baik seperti Icuk Sugiarto, sekarang membentuk 
sebuah organisasi atlet bernama Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI). Dasar 
pembentukannya memang rasa solidaritas terhadap nasib sesama atlet. Tetapi, 
sayangnya, organisasi ini belum banyak berkiprah untuk perbaikan nasib atlet 
seperti Gurnam Singh ini. 

Memang sulit jika sesama atlet belum memiliki solidaritas yang kokoh untuk 
memperbaiki nasib bersama. Kalau saja mereka mau bergandeng tangan, 
bayang-bayang menakutkan hari tua merana bisa disingkirkan jauh-jauh. Tak lagi 
terdengar mantan atlet hebat jatuh melarat. Kisah Gurnam Singh, sebuah 
pelajaran berharga untuk atlet yang kini masih berjaya. 

PEMBARUAN/MIKE WANGGE 


Last modified: 2/3/06 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke