** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/08/opi03.htm

Ideologi Media Vs Gerakan Antikorupsi
Oleh Novel Ali
DISKUSI seputar kepentingan media massa dan gerakan antikorupsi yang 
berlangsung di ruang Redaksi Suara Merdeka (27/2), menarik untuk dicermati. 
Wacana yang berkembang dalam pertemuan tersebut, sejumlah lembaga swadaya 
masyarakat (LSM) antikorupsi se-Jawa Tengah dengan pers, ditandai kontroversi 
ideologi media massa berhadapan dengan ideologi gerakan antikorupsi.

Pada pertemuan itu, Dwi Saputro SH, koordinator Badan Pekerja Komite 
Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa 
Tengah mengatakan ada kesan media melakukan tebang pilih dalam memberitakan 
kasus korupsi.

Dwi Saputra dan sejumlah aktivis LSM antikorupsi berharap, pers konsisten dalam 
mengikuti pengusutan kasus korupsi. 

Aktivis lainnya berharap, wartawan juga ikut dalam investigasi LSM antikorupsi. 
Pers diharapkan tidak terjebak dalam ranah politis, ketika mengungkap sebuah 
kasus korupsi. Itu semua dikemukakan, lantaran aktivis LSM antikorupsi merasa, 
selama ini sudah terbantu peran pers sehingga masyarakat menjadi semakin berani 
mengungkap kasus korupsi (SM, 28/2).

Terkait dengan 'pengawalan' pers terhadap gerakan antikorupsi, menarik sekali 
pernyataan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Sasongko Tedjo. Dia menegaskan, 
media harus jeli dalam melihat sebuah kasus korupsi. Mana yang betul merugikan 
negara, dan mana yang berbau politis. Menurutnya, tebang pilih pemberitaan pers 
atas korupsi, tidak dalam konteks negatif melainkan dalam konteks positif.

Menurut dia, yang perlu menghindar dari ranah politik tidak hanya pers namun 
juga LSM. 

Ini dapat dimengerti, karena seperti dikatakan Sasongko Tedjo pers memiliki 
keterbatasan. Misalnya, kemampuan, waktu, dan jumlah personel. Sehingga, wajar 
sekali kalau LSM antikorupsi perlu senantiasa berupaya membantu pers, dengan 
memberikan data untuk bahan pemberitaan.

Kontroversi Ideologi

Tebang pilih pemberitaan pers seputar kasus korupsi, disebabkan perbedaan 
ideologi media massa dan ideologi gerakan anti korupsi. Kontroversi ideologi 
keduanya bermuara dari penafsiran yang sangat mungkin berbeda. Khususnya ketika 
ideologi dimaksud berfungsi sebagai landasan kode etik profesi pers di satu 
sisi, serta muara moralitas gerakan antikorupsi di sisi lain.

Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy 
(1754 - 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis. De Tracy mendefinisikan 
ideologi sebagai ilmu tentang pemikiran manusia, yang mampu menunjukkan arah 
yang benar menuju masa depan.

Namun pemikiran ini mengalami distorsi makna. Napoleon Bonaparte (1769-1821) 
yang sebelum berkuasa sangat menghormati De Tracy, memanipulasi pengertiannya 
mengenai ideologi. Setelah Napoleon menjadi kaisar, dia memojokkan De Tracy. 
Ideologi yang ditafsirkan De Tracy sebagai sebuah konsep yang konkrit, berubah 
menjadi konsep yang abstrak.

Di era kekuasaan Napoleon, ideologi dipandang sebagai konsep yang abstrak, 
sehingga membuka peluang untuk tidak lagi bisa menjadi definisi yang tunggal 
pada pergantian generasi. Artinya, setiap generasi menganut definisi yang tidak 
tunggal tentang ideologi.

Pemikiran umat manusia tentang ideologi, yang sebelumnya mengandung nilai-nilai 
luhur untuk menyongsong hari esok, dimanipulasi hasrat yang tidak lagi luhur. 
Akibatnya, ideologi diposisikan dan difungsikan sebagai sebuah doktrin, yang 
memberikan rangsangan bagi berkembangnya inspirasi perorangan atau kelompok 
manusia mengarah ge-rakan massa. Mulai yang bersifat santun, lembut dan 
persuasif sampai dalam bentuk perebutan kekuasaan dengan menggunakan kekerasan 
yang melanggar konstitusi negara.

Berbagai paham bermunculan, me-warnai sejumlah penafsiran ideologi setelah De 
Tracy. Di antaranya demokrasi, liberalisme, nasionalisme, marxisme, komunisme, 
fasisme, sosialisme, dan anarkhisme. Itu sebabnya, mengapa Daniel Bell menilai 
perkembangan ideologi pada tahun 1950-an, sebagai bentuk tertinggi dari 
frustrasi akibat aspirasi rakyat akan kebebasan, serta standar hidup yang 
layak, sebagai tujuan yang tidak dapat diperoleh sepenuhnya (Daniel Bell dalam 
The End of Ideologi, 1960).

Konflik

Perbedaan penafsiran tentang ideologi diuraikan terdahulu sangat mungkin 
menjadi 'percik api kecil', yang membuka konflik gerakan antikorupsi dan pers. 
Tentu tidak wajar bagi siapa pun, untuk mewajibkan aktivis LSM antikorupsi atau 
mengharuskan pekerja media massa memberikan pengertian yang sama, seputar 
ideologi masing-masing setelah penafsiran awal De Tracy.

Sebab, pers nasional kita sangat mungkin memiliki ideologi yang sama, tetapi 
juga bisa berbeda atau berlainan sekali dari ideologi gerakan antikorupsi.

Persamaannya, tentu keduanya berupaya membangun Indonesia sebagai negara 
kesejahteraan, melalui kebijakan, sikap dan perilaku khas masing-masing.

Namun, persamaan itu tidak lantas harus disertai dengan kesatuan kebijakan, 
sikap dan tindakan kedua belah pihak, lantaran ketentuan demikian dapat merusak 
ciri masing-masing. Di samping bisa membuat profesi media massa, atau 
profesionalisme aktivis LSM antikorupsi, menuju arah yang salah.

Perbedaan penafsiran ideologi yang tampak dari penjabarannya di lapangan, 
terungkap dari kehendak akvitias LSM agar pers terlibat dalam pemberitaan kasus 
korupsi. 

Ini terlihat di antaranya dari sikap aktivis LSM antikorupsi yang mengharapkan 
pers dan aktivis gerakan antikorupsi saling menyatu.

Aktivis antikorupsi sadar betul besarnya kekuatan media massa dalam membentuk 
atensi, serta rancanan kegiatan di sektor pemerintahan dan publik. Belum lagi 
kekuasaan pers untuk menciptakan serta mengarahkan pendapat umum.

Pengalaman aktivis LSM antikorupsi membentuk tuntutan mereka menyediakan sekat 
pemisah di antara dirinya dan pers. Gerakan antikorupsi diyakini tidak akan 
menggapai tujuan maksimal, tanpa dibantu media massa. 

Namun aktivis LSM antikorupsi mencemaskan, kalau-kalau media massa melakukan 
tebang pilih dalam pemberitaan korupsi.

Dorongan batin inilah, yang membuat aktivis LSM antikorupsi seolah tidak mau 
tahu, perlunya pemberitaan media atas kasus korupsi dipilahkan dari kasus 
korupsi yang betul-betul merugikan negara, dan mana pula yang berbau poltiis. 
Padahal, jika media massa tidak ekstra hati-hati dalam kebijakan 
pemberitaannya, bukan mustahil media yang bersangkutan akan menjadi pers 
partisan.

Posisi pers partisan, terutama dalam konteks korupsi seharusnya dihindari pers 
nasional kita. 

Namun, jika aktivis LSM antikorupsi mengharapkan pemberitaan pers boleh santun 
dalam pengungkapan kasus korupsi, mereka justru mengkhawatirkan kalau-kalau 
akan terbentuk apologi publik terhadap pelaku korupsi. 

Peluang konflik gerakan antikorupsi dan pers hanya bisa dipersempit dengan 
menjembatani perbedaan penafsiran dan konkritisasi ideologi media massa dan 
gerakan antikorupsi. Yaitu pemahaman bersama bahwa politisasi pemberitaan kasus 
korupsi oleh pers dapat merusak citra pers menjadi pers partisan.

Sebaliknya, manakala aktivis gerakan antikorupsi diwajibkan untuk menghindari 
kooptasi politik di balik setiap pengusutan kasus korupsi, bukan tidak mungkin 
gerakan mereka cuma setengah hati. Gerakan sporadis ini, sangat merugikan 
sistem dan pembentukan jaringan antarseluruh kekuatan sosial mengarah Indonesia 
tanpa korupsi. Minimal Indonesia dengan sesedikit mungkin korupsi.(14)

- Novel Ali, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Undip 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke