** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **http://www.acehinstitute.org/

Artikel ini dipersembahkan untuk Memperingati hari Perempuan Internasional 8 
Maret 2006

            ยป
           PEREMPUAN ACEH: DARI PERAN DOMESTIK KE RUANG PUBLIK 

            Oleh: Ridwan H Mukhtar 
            Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial Budaya, berdomisili di 
Banda Aceh



            SETIAP 8 Maret, seluruh dunia, terutama perempuan yang bergerak dan 
tercerahkan secara sosial dalam ruang publik akan memperingatinya sebagai hari 
bersejarah bagi perempuan. Segala penjuru dunia, lintas negara, lintas 
generasi, tak terkecuali di Aceh hampir tak ada yang menolak kehadiran hari 
tersebut. Hari itu adalah hari perenungan dan solidaritas perempuan yang terus 
berjuang menghadapi otoritas agama dan monopoli kekuasaan yang sering 
membenturkan kepentingan laki-laki dan perempuan. Kisah sedih dan kabar gembira 
perempuan sepanjang sejarah dirayakan disini, bersamaan dengan tuntutan 
kesegala penjuru tahta kekuasaan yang didominasi oleh chauvanisme laki-laki.

            Tak ada yang salah dan keliru dengan hari itu. Penulis hanya 
meresahkan kumparan alam pikiran kaum pragmatis, baik laki-laki maupun 
perempuan, yang sering mendorong pemikiran: "hampir semua bermasalah dan hampir 
semua tidak bermasalah pada ranah perempuan, tidak pada laki-laki". Bagi kaum 
pragmatis ini, setiap perayaan adalah serupa pesta saja tanpa kesedihan dan 
dukacita. Parahnya, pragmatisme berpikir menganggap sah-sah saja apa yang 
dipercayai sebagai "garis hidup perempuan", yang dimana-mana selalu 
dikonotasikan kepada kepentingan dan keinginan agar perempuan keluar dari aras 
domestik ke aras publik. Bahkan, perempuan sering diasosiasikan sebagai sumber 
malapetaka reproduksi dan sumber sebab-akibat datangnya bencana. 

            Lalu, sebuah pertanyaan menggelitik mungkin bisa diutarakan: "Siapa 
yang pernah berpikir tentang masa depan peradaban perempuan sebagai entitas dan 
identitas kebudayaan yang terancam keselamatan hak-haknya sebagai manusia 
beradab dan berhak atas ruang publik yang tersedia?"

            Tulisan ini mencoba berkontribusi secara umum dengan sejumlah ide 
praktis dalam menghadapi gejala global yang semakin menyempitkan ruang gerak 
perempuan, khususnya ditengah keinginan pengarusutamaan gender (gender 
mainstreaming) berperspektif Islam di Aceh dan hadirnya sejumlah "local genius" 
masalah Islam dan Perempuan di negeri Serambi Mekkah ini. 

            Artinya, penulis percaya perempuan Aceh berpotensi besar dalam 
menata keberlanjutan peradaban yang lebih baik di tingkat domestik-rumah tangga 
maupun dalam pemanfaatan ruang publik yang setara dan adil pasca konflik 
bersenjata dan bencana alam di Aceh.



            PEREMPUAN ACEH DAN ENTITAS BUDAYA 

                        Sepanjang sejarah kekuasaan dan kebudayaan Aceh, 
kedudukan perempuan tak luput dari pelecehan. Kebenaran sepihak oleh kaum 
pragmatis yang bercokol diranah kekuasaan negara, agama, sosial, ekonomi 
seringkali meminggirkan perempuan. Politik kekuasaan terlanjur menafikan 
perempuan sebagai sebuah entitas budaya yang sejajar dengan laki-laki. Padahal 
seharusnya perempuan adalah benteng pertahanan yang pertama dan yang terakhir 
bagi kekuasaan yang humanis, agar kemanusiaan tidak punah.   

                        Mendorong faham domestik dan reproduksi saja dan melulu 
bagi perempuan (ibu, istri, anak perempuan) adalah malapetaka pertama bagi 
kekuasaan laki-laki. Di Aceh, seperti di belahan dunia manapun penyempitan 
peran dan pembungkaman suara perempuan akan melahirkan generasi (dari hasil 
reproduksi) tanpa keceriaan dan minus kasih sayang serta keindahan dalam 
menentukan masa depannya yang lebih baik dan setara. Akibatnya, kekuasaan 
laki-laki diragukan keberlanjutannya ketika perempuan dianggap tidak ada.

                        Sekedar belajar dari gejala dan fenomena empiris yang 
sedang dan akan terus berlaku di Aceh, maka perempuan harus berpikir ulang 
tentang potensinya. Multikulturalisme dan keberanian individu orang Aceh adalah 
isyarat awal bahwa perempuan Aceh adalah pihak pertama yang harus tampil ke 
depan. Karena orang-orang Aceh lahir dari Ibu yang mempunyai entitas dan 
identitas unik yang bermutu tinggi. Selain asimilasi gen dan budaya yang 
alamiah dan politis dari benturan berbagai peradaban sepanjang sejarah, 
perempuan Aceh juga sedang terus belajar dari sandingan dan benturan kebudayaan 
kontemporer paska konflik dan tsunami. 

            Maka, keberanian untuk membela hak-hak perempuan tidak melulu harus 
dilihat dari perspektif gender dan teori kesepasangan yang teoritis. 
Penyederhanaan faham tentang reposisi perempuan tentunya bisa dimulai dari 
ruang domestik. Dimana pemenuhan kesejahteraan dan keberlanjutan ekonomi dalam 
keluarga, misalnya, harus mempunyai visi, menjamin kemandirian dan 
produktifitas anak dan keturunan tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Juga 
tanpa melarang mereka untuk membaca dan mempertanyakan realitas sosialnya. 

                        Entitas budaya akan tumbuh dalam unit terkecil (yang 
sebenarnya BESAR) yakni keluarga jika saja kompetisi, demokrasi, nilai serta 
filosofi jiwa kesepasangan diajarkan secara bijak dalam keluarga. Tanpa 
menafikkan peran negara dan otoritas agama, maka ruang keluarga harus 
diselamatkan dari hegomoni budaya hedonistik yang mewujud pada jiwa konsumtif 
yang berlebihan tanpa empati . 

                        Modal entitas budaya lokal adalah potensi besar yang 
patut didorong dan dikembangkan dalam ruang domestik-rumah tangga. Mulai dari 
keterampilan memimpin, kemampuan intelektual, wawasan terhadap gejala dan 
kecenderungan globalisasi, kemandirian ekonomi, serta strategi pengambilan 
keputusan domestik dengan laki-laki (suami, mertua laki-laki, orangtua 
laki-laki, serta anak laki-laki). Proses pendidikan alteranatif dan efektif 
dengan prinsip terbuka dalam manajemen keluarga (rumah tangga) adalah modal 
pertama demokrasi  dan keterbukaan bagi maksud pencapaian kesetaraan dan 
keadilan dalam ruang publik (sosial masyarakat, negara, kepemilikan publik). 

            Karena Aceh pasca konflik dan bencana harus ditata dari titik nol, 
maka Aceh Baru harus ada keasadaran berpedoman pada modal utama yaitu keluarga 
(tempat interaksi laki-laki dan perempuan). Perspektif diatas menjadi sangat 
beralasan ketika relasi manusia ideal pada dasarnya tidak pernah membedakan 
antara hak perempuan dan laki-laki dalam kelas manapun.



            KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI PEREMPUAN  

                        Mungkin sebuah ironi, bahwa sejarah kepemimpinan 
perempuan Aceh sering dikonotasikan dan dilatarbelakangi oleh konflik 
kekerasan. Seperti peran Ratu Safiatuddinsyah, Raja Aceh yang perempuan, Cut 
Nyak Dhien, pemimpin laskar perang Aceh dengan Belanda, Cut Malahayati, Sang 
Laksamana yang memimpin perang Aceh dari samudera, Pocut Baren yang dikenal 
dengan keahliannya dalam melatih laskar Perempuan Aceh dalam membangun 
kontruksi garis pertahanan menghadapi Belanda yang didomonisasi kompeni 
laki-laki juga. Malahayati sebagai pelopor merancang benteng pertahanan, rute 
gerilya, membuka setapak yang dikenal "dalam" atau tempat titik bertahan dan 
menyerang sepanjang Krueng Raya, Aceh Besar hingga ke Laweung, Pidie.  Tapi 
sebenarnya kepemimpinan perempuan tidak melulu untuk berperang berhadap-hadapan 
secara fisik dengan lawan walaupun atasnama melawan agresi penjajahan asing 
waktu itu. 

                        Perhatikan juga dalam sejarah hingga akhir abad-19, 
ruang dan otoritas para pahlawan perempuan Aceh tersebut harus dihargai dan 
dicatat dengan tinta emas dengan tidak melupakan riwayat domestik mereka 
sebagai isteri dari suami serta dalam memajukan masyarakat moderen.  Walaupun 
tidak tertulis secara jelas dalam literatur, semisal Cut Nyak Dhien yang setia 
pada Teuku Umar sebelum menggantikan posisi panglima ketika Umar syahid, begitu 
pula Safiatuddinsyah yang berperan dalam pemerintahan sipil, justeru tidak 
serta merta bertentangan dengan rakyatnya. Dalam sejarah, Safiatuddinsyah 
memajukan pendidikan bagi penemuan baru dalam mengembangkan nilai toleransi 
agama, ekonomi, pranata adat  istiadat serta sosial. 

                        Persinggungan demokrasi dan multikulturalisme telah 
terjadi begitu lama dibawah kepemimpinan struktural perempuan Aceh. Dalam 
sejarah justeru kemudian mampu memperkuat Aceh hingga menjadi warga dunia yang 
diperhitungkan karena entitas dan identitasnya yang kuat sebagai perempuan 
Aceh, bukan semata-mata prajurit perang. Sampai kemudian perbenturan koloni 
hindia Belanda terhadap wilayah dan kesuburan tanah serta hijaunya hutan di 
Aceh dan daerah nusantara lainnya menjadi incaran hingga membuat perang yang 
menyita banyak energi pun berlangsung berlarut-larut. 

                        Pasca riuh rendahnya sejarah Aceh hingga usai Perang 
Dunia Kedua dalam perspektif Nasional, Perempuan Aceh menjadi bagian integral 
dalam objek minus sebagai subjek atas segala sebab akibat kebijakan negara. 
Nilai-nilai yang dipraktikkan dalam orde lama, orde baru, hingga dekade 
reformasi, perempuan sekali lagi menjadi bagian terbesar yang dijadikan objek 
kebijakan yang merasakan dampak paling besar pula.

                        Melihat kolerasi sejarah kekuasaan politik dengan 
konteks kekinian perempuan Aceh, perlu  kiranya ditetapkan secara tegas 
(semacam manifesto) tentang kebijakan dan keberpihakan kekuasaan kepada entitas 
perempuan. Ketegasan ini hanya bisa lahir dari kesadaran realitas dari penguasa 
kebijakan serta desakan rasional atas potensi sumber daya perempuan Aceh. 

                        Solusi kepemimpinan yang efektif saatnya ditawarkan 
perempuan Aceh dengan menimbang konsep relasi hubungan sosial manusia. Secara 
sederhana hubungan sosial  yang baik menjadi modal konsep kepemimpinan efektif 
di Aceh. Dimana otoritas yang aktif dan sukses dalam memimpin komunitas 
perempuan dimanapun akan menghasilkan standar kerja yang tinggi. Selain itu, 
kepemimpinan politik dan agama harus mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap 
sumber daya perempuan Aceh. Bila perlu, kesadaran ini harus ditegaskan dan 
didesakkan oleh kalangan perempuan sendiri lewat contoh-contoh aktual.

                        Sebagai contoh yang mungkin bisa dimajukan dalam jangka 
pendek, namun berperspektif strategis jangka panjang adalah momentum menjelang 
pergantian kepemimpinan di Aceh melalui kemungkinan Pemilihan Langsung Daerah ( 
PILKADA ). Perempuan harus tegas dalam menentukan kontrak sosial dan politik 
dengan kandidat (laki-laki dan perempuan) yang akan bertarung memperebutkan 
kekuasaan publik disemua distrik (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

                        Kontrak sosial dan politik dimaksudkan untuk menjaga 
hubungan baik serta relasi yang efektif antara laki-laki dan perempuan sebagai 
rakyat dengan penguasa dengan hasil akhir terdistribusinya hak dan kewajiban 
yang cukup antara negara dan rakyat (baca: perempuan). Ini harus dimulai oleh 
komunitas perempuan yang secara statistik jelas lebih besar jumlahnya di banyak 
daerah pemilihan. Ini yang saya maksudkan kesadaran akan potensi perempuan: 
Dengan membantu laki-laki berperilaku benar dan patut dalam relasi kekuasaan 
maka Perempuan telah berbuat benar dan menyelamatkan laki-laki dari 
kepemimpinan yang tidak peka terhadap kepentingan perempuan.



            Khatimah

            Potensi luar biasa perempuan dari segi jumlah (kuantitats) secara 
khusus dapat memastikan kepemimpinan yang melayani perempuan. Jika ditambah 
dengan potensi kualitas kelompok perempuan, kemungkinan menghadirkan sebuah 
Aceh Baru yang adil, sejahtera dan bermartabat bukanlah sebuah impian kosong 
lagi. Kelompok perempuan dapat mendiktekan kebijakan yang lebih peka terhadap 
kepentingan perempuan, misalnya lewat gender budgeting (anggaran perempuan) 
setiap tahun melalui konsep rancang-bongkar Rencana Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Daerah (RAPBD). 

                        Untuk itu, secara internal perempuan melalui berbagai 
organisasi yang ada harus memastikan adanya tingkat pengetahuan dan 
keterampilan yang tinggi, serta perilaku positif yang elegan kalangan perempuan 
dalam menuntut kepentingannya. Selain itu berpikir secara positif adalah modal 
pasca trauma konflik dan bencana. Pemahaman yang baik terhadap gejala sosial 
akan menunjang lahirnya potensi pemimpin dari komunitas perempuan pada unit 
terkecil, menengah dan atas (LSM, ORMAS, OKP, Pemerintah dan lain-lain). 

            Pilar demokrasi melalui kemauan dan pembelajaran kepemimpinan oleh 
perempuan sendiri harus terus dimulai dari keluarga sebagai unit paling kecil 
dalam masyarakat. Upaya terencana dan sistematis harus menjadi alasan hingga 
melahirkan regulasi kebijakan Pemerintah Daerah (PEMDA) terutama unit perempuan 
(seperti Dinas/Biro Pemberdayaan Perempuan) di Aceh yang lebih memanusiakan 
perempuan Aceh. Ketika hal ini terjadi maka hal tersebut mengisyaratkan 
dukungan terukur dan pasti dari kekuasaan itu sendiri. Artinya perjuangan 
perempuan dalam memastikan terpenuhi hak dasarnya tidak dilakukan diruang 
"sepi" dan "sendiri" semoga. 

            Wallahu'alam Bisshawab 
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke