** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Buat Mbah, semoga bisa menangkap
semangat SI Madinah dari analisa
seorang Islam Indonesia yang dianggap paling liberal (sekalipun).
wass,
**************************************
Muhammad: Nabi dan Politikus
Oleh Ulil Abshar-Abdalla, Peneliti pada Freedom Institute,
Jakarta
KEUNTUNGAN Islam sebagai sebuah agama terletak pada satu hal:
tidak sebagaimana pada kasus Kristen, Islam menemukan 'Konstantin'
dalam tubuhnya sendiri, bukan dari luar. Muhammad (saw) jelas bukan
sekadar nabi, melainkan juga 'tokoh duniawi' yang berjuang keras
agar ajaran-ajaran yang ia bawa, bukan sekadar 'awan putih' yang
melayang-layang di angkasa, tidak berjejak di bumi.
Pada kasus Kristen, Yesus hanya punya waktu kurang lebih tiga
tahun untuk menyampaikan ajaran-ajarannya. Setelah itu, Yesus harus
berhadapan dengan 'struktur politik' Imperium Romawi yang begitu
raksasa, sehingga akhirnya ia dibunuh dan disalibkan.
Agama Kristen, saat itu, persis seperti tetumbuhan yang baru
bersemi dan langsung terpangkas. Banyak orang barandai-andai:
taruhlah tidak muncul tokoh besar Raja Konstantin Agung pada abad ke-
3 Masehi yang akhirnya memeluk Kristen dan menjadikannya sebagai
agama negara, apakah yang terjadi pada agama dengan pemeluk terbesar
di dunia ini. Tanpa kekuasaan 'politik', apakah agama ini bisa
berkembang dengan cepat, menjadi agama universal? Kita
tidak pernah tahu, karena toh ini hanyalah pengandaian sejarah.
Pada kasus Islam, dengan sedikit perbandingan yang agak
ceroboh, Muhammad adalah Yesus dan Konstantin itu sendiri. Jika
diperbolehkan membuat perbandingan antara sejarah Yesus dan
Muhammad, maka tahun-tahun ketika Muhammad di Mekah (persisnya 610 M
ketika Muhammad menerima wahyu pertama hingga 622 M saat dia hijrah
ke Madinah) boleh kita katakan sebagai periode 'khotbah di atas
bukit', periode ketika nabi mendakwahkan ajaran-ajarannya.
Periode itu berlangsung kira-kira 13 tahun. Periode Madinah, yaitu
sejak 622 M hingga 632 M, saat dia wafat, adalah periode pelembagaan
politik dan sosial. Saya ingin menyebutnya pula sebagai 'periode
Konstantin'.
Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut
sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad
adalah saat dia ber-takhannuts atau melakukan meditasi di Hira,
sebuah gua di luar kota Mekah. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610
M, dia tidak terus tinggal di sana, menikmati meditasi yang soliter,
menjauhkan diri dari masyarakat. Sebaliknya, ia balik ke kota,
mendakwahkan ajaran-ajaran, dan melakukan apa
yang dalam istilah sekarang disebut sebagai 'transformasi sosial'.
Dalam Islam, biasa dibedakan antara seorang nabi dan rasul.
Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu, namun tidak diharuskan
oleh Tuhan untuk mendakwahkannya kepada masyarakat. Rasul,
sebaliknya, menerima wahyu dan diharuskan menyebarkannya. Muhammad
adalah nabi dan sekaligus rasul.
Saya, di sini, menggunakan istilah yang mudah ditangkap oleh
masyarakat. Saya hendak menyebut Muhammad sebagai nabi dan politikus
sekaligus. 'Politikus' di sini saya maknai sebagai seseorang yang
harus berjuang untuk 'dealing with possibilities', menghadapi
kenyataan konkret yang serbasarat kemungkinan-kemungkinan. Secara
meyakinkan, dalam kariernya selama 23 tahun, Muhammad telah
memperlihatkan bukan saja sebagai seorang yang melakukan reformasi
moral melalui karier kenabian, tetapi juga reformasi sosial, bahkan
politik, melalui pembentukan sistem masyarakat dan politik di
Madinah.
SALAH satu keuntungan yang dinikmati Nabi adalah: ia hidup di
pinggiran 'hemisphere' atau dunia yang dikuasai oleh Imperium Roman
dan Sasan di Persia.
Inilah keuntungan sejarah yang tidak dimiliki oleh Kristen.
Kristen lahir tepat di jantung kekaisaran Romawi, dan di tengah-
tengah 'kekuasaan agama' yang telah mapan, yaitu Yahudi. Islam,
sebaliknya, lahir di tengah-tengah--katakan saja--'terra incognita',
daerah kosong yang belum ada kekuasaan apa pun di sana.
Mekah, saat Muhammad lahir dan memulai garis kerasulan, adalah
sebuah kota yang terletak jauh di pinggiran kekaisaran Romawi dan
Persia. Kalau kita boleh meminjam analisis Ben Anderson tentang
konsep kekuasaan politik di Jawa, saya rasa apa yang dikemukakan
oleh Anderson adalah tipikal kerajaan-kerajaan pramodern, yang
kekuasaannya kian meredup di daerah-daerah pinggiran.
Begitulah kira-kira, keadaannya ketika itu. Pengaruh kekuasaan
dua imperium besar tersebut kurang begitu terasa di Kota Mekah.
Keadaan ini menguntungkan bagi agama dan komunitas baru yang sedang
dikembangkan oleh Nabi. Saya akan berandai-andai: taruhlah Islam
lahir dan muncul di Asia kecil, di kawasan Turki sekarang, mungkin
perjalanan agama ini akan lain. Tentu kita tidak tahu apa yang akan
terjadi, sebab ini hanya 'historical if'.
Seorang ulama Mesir, Ali Abdul Raziq, dalam risalahnya yang
sangat ramai diperdebatkan, al-Islam wa Ushul al-Hukm (Islam dan
Dasar-Dasar Kekuasaan), pernah mengemukakan bahwa Muhammad hanyalah
seorang rasul dan juru dakwah, bukan seorang pemimpin negara.
Meskipun saya setuju dengan tujuan dia menuliskan risalah ini, yaitu
untuk menolak klaim umat Islam untuk mendirikan kembali negara
Khilafah setelah dibubarkan oleh Kemal Attaturk, tetapi penggambaran
dia tentang Muhammad jelas berat sebelah. Muhammad memang seorang
rasul, tetapi lebih penting lagi dia adalah pemimpin suatu komunitas
konkret yang menjadi 'embrio' sebuah negara di Madinah.
Karena itulah, tidak salah seandainya generasi intelektual
muslim modern mencoba mencari dalam contoh Nabi di Madinah itu suatu
ilham untuk mengelola masyarakat modern. Salah satu kebijakan
politik yang sering dianggap sebagai 'kejeniusan Muhammad'
('Abqariyyat Muhammad), adalah ketika dia memprakarsai
suatu 'kontrak politik' antara umat Islam dan kelompok-kelompok
sosial lain di Madinah saat itu. Dokumen kontrak ini, dalam sejarah
Islam, dikenal sebagai 'Mitsaq al-Madinah' atau Perjanjian Madinah,
atau Piagam Madinah.
Penulis Mesir, Muhammad Husen Haikal, dalam Hayat Muhammad
(Peri Hidup Muhammad), menyebut hal ini sebagai 'watsiqah
siyasiyyah' atau dokumen politik yang menjamin kebebasan iman,
kebebasan pendapat, perlindungan atas negara, hak hidup, hak milik,
dan pelarangan kejahatan.
Saya sepakat bahwa Madinah adalah sebuah embrio negara atau
bahkan negara itu sendiri. Nabi adalah pemimpin di sana. Sebagai
seorang politikus yang memimpin negara, dia sukses mendirikan
entitas politik pertama di kawasan Arab. Dalam entitas baru itu,
masyarakat Arab, dari pelbagai suku dan klan, bisa dipersatukan:
suatu prestasi besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin Arab
sebelum Muhammad. Sebagaimana Konstantin sebelumnya, Nabi menjadikan
Islam sebagai 'semen peradaban' yang mengikat masyarakat Arab
(juga non-Arab pada tahap selanjutnya).
Yang tidak saya sepakati adalah jika seluruh kebijakan Nabi di
Madinah saat itu harus ditiru 100% pada masa sekarang. Bagaimanapun,
contoh Nabi di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan
sejarah yang spesifik pada saat itu.
Model Madinah bisa menjadi inspirasi dan ilham untuk mencari
bentuk pengelolaan kehidupan modern sekarang ini bagi umat Islam,
tetapi model itu bukanlah 'juklak' yang harus ditiru setindak demi
setindak. Umat Islam harus merumuskan sendiri 'model' baru yang
sesuai dengan tantangan saat ini.
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina
Muhammad.***
--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Saya kira mbah ada salah tangkap dalam membaca analisa2 yang ada
> dimilis atau yang dipublikasi. Yang mengurangi hak wanita itu
bukan
> diambil dari SI zaman madinah, tapi dari ajaran sebelum Islam
lahir
> atau entah dari mana, dimana wanita itu dianggap mahluk setengah
> jadi. SI zaman Madinah merupakan suatu contoh keberhasilan suatu
> syariah dalam mempersatukan umat, ras, agama yang berbeda. Jangan
> mempersempit semangat SI Madinah kepada hal2 yang sepele spt itu.
> Karena apa yang dikatakan mas Ikra adalah syariat wahabi, syariat
> taliban...
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **