** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/14/opini/2504006.htm

 
Papua, Kerinduan Tanpa Perkenalan 


ES Ito



Bagi kita, Fomalhout adalah nama yang asing. Tetapi, kapal pemerintah kolonial 
itulah yang pada 27 Januari 1927 berlayar ke hulu Sungai Digul, lalu membuang 
sauh 465 kilometer dari muara.

Dari geladak kapal, para serdadu dan kuli turun, membuka hutan, terjadilah 
sebuah tempat terbuka di rimba Nieuw Guinea. Setelah dibangun dua bulan, kelak 
daerah itu menjadi kamp pembuangan paling ditakuti saat itu, Boven Digoel 
(Digul Hulu).

Digul ditetapkan sebagai interneringskamp bagi mereka yang terlibat dan 
bersimpati pemberontakan 1926-1927. Tokoh nasionalis Hatta dan Sjahrir pernah 
dibuang ke tempat ini. Di balik kepedihan akibat exorbitante rechten yang 
dimiliki Gubernur Jenderal De Graeff, kedatangan Fomalhout memberi pesan jelas. 
Digul adalah tempat Indonesia sebagai gagasan saat itu berkenalan dengan tanah 
Papua. Semacam bentuk perkenalan dalam keterasingan.

Hampir 80 tahun sejak Fomalhout menerobos Digul, perkenalan Indonesia-Papua 
tidak berlanjut pada tingkat lebih intim. Upaya perkenalan menjadi keterikatan 
dilalui dengan proses panjang, mulai dari perundingan di Ridderzall, Den Haag, 
23 Agustus-2 November 1949, proses penentuan pendapat rakyat, hingga beragam 
operasi militer yang dilakukan Jakarta di tanah Papua.

Keterasingan sejarah

Perkenalan itu statis, sama statisnya dengan hidup masyarakat Papua. 
Membandingkan Papua kini dengan Papua 1962 saat Indonesia de facto 
menggabungkannya tidak banyak yang berubah. Banyak orang masih berkoteka, 
payudara perempuan masih terbuka, Hornai pun tak banyak berubah, minim 
ventilasi, jauh dari standar kesehatan tempat tinggal. Yang berubah dari Papua 
bukan manusia, tetapi alamnya. Hutan Papua kian gundul. Gunung-gunung emas dan 
tembaga berubah menjadi danau tanpa air. Sementara AIDS terus mengintai bak 
jagal kejam.

Di tanah Papua, pembangunan yang dijalankan rezim Jakarta memiliki satu makna 
tunggal, eksploitasi. Bagi rakyat Papua, integrasi dengan Indonesia tak lebih 
dari wilayah geografis. Sedangkan manusia, ide dan gagasannya ditinggalkan pada 
lembah kemiskinan dan kebodohan.

Selain eksploitasi dan represivitas, tampaknya juga ada yang salah dalam 
perkenalan "kita" orang yang selalu memberi apologi pada kekerasan Jakarta 
dengan Papua. Sejarah Papua tidak pernah diintegrasikan dengan sejarah 
Indonesia, seperti manusianya yang terasing. Materi yang kita terima tidak 
lebih dari sejarah operasi Trikora, bukan sejarah Papua. Penerjunan Herlina si 
Pending Emas dan tenggelamnya Yos Sudarso bersama KRI Macan Tutul adalah kisah 
heroik satu sisi. Pemahaman kita tentang Papua akhirnya tidak beranjak dari 
wacana tunggal kesatuan NKRI.

Antara Papua dan "Jakarta" ada keterasingan sejarah. Keluarnya UU No 21/2001 
tentang Otonomi Khusus untuk Papua, disertai pembentukan Majelis Rakyat Papua, 
tidak akan berarti tanpa diikuti integrasi sejarah Papua dengan Indonesia.

Menyimpan tanda tanya

Landasan nasionalisme, senasib dan sepenanggungan, kini tinggal jargon. Yang 
terjadi, "mari menanggung nasib masing-masing". Dalam konteks konflik Papua 
yang terus berlarut, dari Jakarta bukan solidaritas yang dikumandangkan, tetapi 
superioritas. Juga bukan persatuan sebenarnya yang kita ajakkan kepada 
masyarakat Papua, tetapi tidak lebih dari prinsip sauve qui peut 
(sebisa-bisanya menyelamatkan diri sendiri).

Integrasi manusia Papua dengan Indonesia masih menyimpan tanda tanya besar. Di 
ujung sana, saudara-saudara mereka pada bagian lain Indonesia tidak mengenal 
mereka. Sementara tiap detik dari hidup mereka direcoki dorongan untuk memahami 
aneka tindakan Jakarta.

Saya mencoba optimistis. Perkenalan "kita" dengan Papua belum gagal. Kita harus 
menyelami manusia Papua, bukan sekadar kekayaan alamnya. Seperti Fomalhout 
menerobos Digul, kita harus mengarungi sejarah Papua, bukan sejarah Trikora. 
Beragam tokoh, pro maupun kontra hasil Pepera, harus diketengahkan melebihi 
Herlina atau Yos Sudarso. Papua dan bagian lain dari Indonesia harus menjadi 
kita, dan tidak lagi menjadi "kita" dan dia.

Kelak, perkenalan kita dengan Papua akan menumbuhkan kerinduan, membuat kita 
sulit untuk saling melepaskan diri.

ES Ito 
Penulis, Tinggal di Depok


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke