** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/14/opini/2504008.htm

 
Premanisme DPR 


Syamsuddin Haris



Ketika busung lapar dan polio yang dialami rakyat kecil belum sepenuhnya 
ditangani, diam-diam para wakil rakyat justru merencanakan kenaikan tunjangan 
pada 2006 ini. Pemerintah mengakui ada usulan kenaikan tunjangan, tetapi masih 
"rencana". Sampai kapan kita harus mengurut dada?

Ironisnya, penggunaan hak interpelasi DPR dalam kasus busung lapar ditanggapi 
setengah hati oleh pemerintah. Melalui Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat 
Aburizal Bakrie, pemerintah menjelaskan program dan langkah-langkah kebijakan 
yang diambil. Namun, seperti biasa, penjelasan-penjelasan pemerintah amat 
normatif dan jauh dari kesan serius.

Juga sebagaimana lazimnya, rapat paripurna DPR diakhiri dengan seperti dilansir 
media cetak dan elektronik "acara" ketawa bersama antara wakil pemerintah dan 
pimpinan DPR. Seolah dengan keterangan yang diberikan pemerintah itu persoalan 
busung lapar telah selesai.

Kita kian prihatin karena sidang paripurna DPR yang mengagendakan keterangan 
pemerintah tentang penanganan busung lapar diwarnai "vandalisme" ala DPR. 
Menurut beberapa anggota Dewan dan pekerja pers, sidang itu bukan hanya menjadi 
keterangan sepihak pemerintah  karena hampir tidak ada dialog tetapi juga 
diwarnai cara-cara premanisme politik. Betapa tidak, para pengusul hak 
interpelasi tidak bisa berbicara karena mikrofon dimatikan atau tiba-tiba mati, 
atau karena pimpinan sidang yang notabene pimpinan DPR tidak memberi kesempatan 
berbicara.

Premanisme

Pembungkaman perbedaan pendapat melalui cara-cara premanisme yang mengarah 
kepada "vandalisme" ini patut disesalkan karena rakyat berharap, pemerintah dan 
DPR dapat berdialog secara terbuka, transparan, dan bertanggung jawab. DPR 
mestinya tidak dipaksakan sekadar menjadi tukang stempel kebijakan pemerintah 
seperti disinyalir Amien Rais. Dewan terhormat ini justru diciptakan sebagai 
tempat pertukaran pikiran mengenai nasib rakyat dan masa depan bangsa, bukan 
"komedi omong" ala Volksraad era kolonial Belanda.

Seperti dibayangkan HOS Tjokroaminoto saat menolak Volksraad, DPR di era 
demokrasi saat ini mestinya benar-benar menjadi "parlemen sejati". Atau 
sebagaimana diimpikan proklamator Bung Karno, yakni sebuah parlemen di mana 
dialog dan pertukaran pikiran di dalamnya "mendidih" bagai kawah candradimuka. 
Entah apa yang dikhawatirkan sebagian anggota dan pimpinan DPR jika dialog dan 
perdebatan terbuka dibiarkan berlangsung. Juga, entah apa yang ditakutkan Ketua 
DPR Agung Laksono sehingga merasa perlu menyurati Presiden Yudhoyono agar 
mewakilkan saja penyampaian keterangan pemerintah di DPR.

Jika perbedaan pendapat di DPR diharamkan, untuk apa lembaga terhormat ini 
dihasilkan melalui pemilihan umum yang berbiaya ekonomi, sosial, dan politik 
begitu besar. DPR seperti inikah yang harus terus dinaikkan gaji dan tunjangan 
penghasilannya?

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Yudhoyono terlampau sibuk menjaga citra 
publik sehingga aneka persoalan mikro-riil ekonomi diabaikan. Yang hampir 
selalu menjadi ukuran keberhasilan adalah pencapaian yang bersifat 
makro-ekonomi seperti tingkat pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas kurs rupiah 
terhadap dollar Amerika. Padahal seperti disinyalir sebagian ahli ekonomi 
kualitas hidup rakyat tidak lebih baik, tingkat pengangguran terbuka terus 
meningkat, dan kemiskinan absolut belum berkurang secara signifikan.

Kompensasi agar membeo

Yang dikhawatirkan adalah jika skenario kenaikan tunjangan penghasilan para 
anggota DPR itu justru diberikan sebagai "kompensasi" sikap membeo DPR seperti 
dipaksakan pimpinan Dewan dalam sidang paripurna interpelasi busung lapar pekan 
lalu. Jika kekhawatiran ini mendekati benar, sebenarnya belum ada yang berubah 
dalam relasi antara rakyat-pemerintah- DPR pasca-Orde Baru. Seperti berlangsung 
selama tiga dekade era Soeharto, posisi rakyat masih sebagai "obyek" dari 
proyek demokratisasi yang hanya dinikmati segelintir elite yang memperoleh 
mandat melalui pemilihan umum.

Di tengah penderitaan rakyat yang tak kunjung berkurang, pemerintah pilihan 
rakyat mestinya lebih cerdas dalam menentukan pilihan kebijakan. Orientasi 
pencapaian keberhasilan makro-ekonomi sudah saatnya diimbangi keseriusan 
penanganan persoalan riil ekonomi seperti busung lapar, gizi buruk, dan 
pengangguran.

Secara retorik, pemerintah sering mengemukakan komitmen untuk mengurangi 
penderitaan rakyat. Namun, dalam realitasnya, pilihan kebijakan hampir selalu 
"tulalit", dalam arti tidak "nyambung" dengan kebutuhan rakyat. Kebijakan 
kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik, misalnya, bisa jadi malah 
memperbesar angka kemiskinan ketimbang sebaliknya.

Karena itu, demonstrasi dan unjuk rasa berbagai elemen masyarakat mulai dari 
buruh, petani, guru, bahkan kepala desa akhir-akhir ini bukan hanya akibat 
reformasi yang "kebablasan". Semua fenomena itu justru lebih disebabkan 
kecenderungan elite politik yang "kebablasan" karena tidak lagi memiliki 
kepekaan sosial, tanggung jawab, dan nurani.

Rencana diam-diam kenaikan tunjangan anggota DPR hanya contoh kecil dari tak 
adanya kepedulian dan nurani elite kita. Masih banyak contoh yang tidak 
terungkap dan belum tercium pers. Begitu pula premanisme politik ala DPR, hanya 
contoh kecil dari lautan premanisme politik dan kesewenang-wenangan kekuasaan 
yang berpotensi meluluhlantakkan bangunan negeri kita.

Semoga saja Tuhan memaafkan para elite politik yang mau kembali ke jalan yang 
lurus.

Syamsuddin Haris 
Ahli Peneliti Utama Bidang Politik LIPI


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke