** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.laksamana.net/read.php?gid=230

March, 14 2006 @ 10:19 am



Penderitaan Tak Berujung Warga Timika


Cunding Levi
Tabloid Suara Perempuan Papua


Adanya Freeport di Timika, jelas membuat banyak perubahan bagi warga lokal, 
terutama bagi tujuh suku yang ada. Inilah dampak yang harus dipetik. Sebab 
penderitaan memang belum selesai.  

Melihat Timika, ibukota Kabupaten Mimika, Papua, ibarat jarum jam yang sengaja 
diputar cepat. Waktu seakan berpacu pada dirinya sendiri. Setiap bulan, pasti 
ada saja bangunan yang berdiri kokoh diatasnya. Perekonomiannya pun berlari 
cepat, seperti tak mau ketinggalan. Bisa dibayangkan, harga bahan pokok di 
kabupaten pecahan dari Kabupaten Fakfak ini cukup mahal dibanding daerah 
lainnya yang sudah bisa didatangi dua transportasi, udara dan laut. Rata-rata 
harga bahan pokok lebih mahal Rp1000 sampai Rp2000 dari harga normal yang 
dijual di ibukota Papua, Jayapura. Ini mungkin pengaruh adanya perusahaan 
pertambangan Freeport di wilayah ini. Kedatangan para pendatang dari luar Kota 
Timika juga cukup tinggi. 

Ada gula, pasti semut berdatangan.

Perkembangan yang melaju kencang, jelas melindas penduduk asli setempat. Lihat 
saja kehidupan tujuh suku: Amungme, Kamoro, Nduga, Damal, Dani, Moni, dan 
Ekari, sebagai penduduk asli daerah itu terlihat terseok-seok mengikuti laju 
perkembangan yang datang menerpa. Misalnya di Kampung Kwamki Lama yang 
mayoritas warganya dari tujuh suku itu, terlihat cukup memprihatinkan. Padahal 
kampong yang terletak di pinggiran Kota Timika yang berdekatan dengan Bandar 
Udara Moses Kilangin dan tak jauh dari Hotel Sheraton yang mewah itu, memang 
bisa jadi cermin keadaan sesungguhnya. Ratusan keluarga di Kwamki Lama itu 
dulunya orang yang hidup di daerah ketinggian seperti daerah yang berada di 
3000 meter di atas permukaan laut dengan cuaca bersuhu dingin. Namun kini 
mereka harus turun ke daerah yang rendah seperti di Kota Timika yang bersuhu 
panas dan tak jauh dari pantai.

Akibatnya, kepindahan itu membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka. Di 
tempat baru, jelas mereka harus mencari penghidupan baru menghidupi 
keluarganya. Terjadi perubahan pola hidup warga yang sebelumnya berada di 
pedalaman di atas pegunungan. Tapi kini mereka harus hidup dekat kawasan 
perkotaan yang masyarakatnya lebih heterogen. Terpaksa, mereka harus 
menyesuaikan diri. Interaksi dengan para pendatang dari luar Kota Timika jelas 
banyak berpengaruh terhadap pola hidup warga di Kwamki Lama. Baik pengaruh 
positif, maupun negatif. Kepindahan warga ke tempat baru itu karena diharuskan 
pindah dari daerah asal yang berdekatan dengan pusat penambangan emas Freeport 
di Tembagapura.

Di daerah baru seperti di Kwamki Lama itu, mereka diberi rumah dan lahan untuk 
bercocok tanam. Warga harus menanam berbagai macam bahan makanan sendiri. 
Misalnya umbi-umbian berupa ubi jalar, singkong dan keladi. Hanya saja adanya 
interaksi warga dengan perkotaan, jelas juga secara perlahan mengubah pola 
sumber makanan mereka. Dari umbia-umbian ke beras atau nasi. Sehingga kebutuhan 
seperti itu, terutama mendapatkan beras harus dengan cara membeli dengan uang, 
jelas mengharuskan mereka mencari sumber penghidupan baru. Sementara mereka 
rata-rata, tak memiliki keahlian yang sama dengan warga pendatang dari luar 
Kota Timika. Walau ada satu-dua anggota keluarga mereka yang direkrut Freeport 
sebagai tenaga kerja. Tapi itu pun hanya sebatas sebagai satpam (satuan 
pengamanan perusahaan), tenaga kasar atau pekerja tambang dalam terowongan 
pertambangan. Sehingga jelas, gaji mereka tak seberapa untuk pemenuhan 
kebutuhan sehari-hari di Kota Timika, yang harga barang-barang tergolong mah
 al.

Misalnya saja menurut Juliana Magai, ibu lima anak asal Suku Damal yang kini 
menetap di Kwamki Lama bersama keluarganya, merasa sangat kesulitan untuk hidup 
di Kota Timika. Terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya 
dalam membeli kebutuhan pokok, seperti membeli pakaian dan kebutuhan pokok 
lainnya. Sebab selama ini dirinya hanya mengandalkan penghasilan yang didapat 
dari menjual sayur yang dipetik di kebun. Padahal, hasil yang didapat dalam 
sekali menjual sayur di pasar tradisional yang ada di Kwamki Lama, hanya 
berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000. Jumlah itu pun bisa diperoleh, jika 
semua sayur laku terjual.

"Sementara bantuan dari Freeport tidak pernah, hanya orang-orang perusahaan dan 
karyawan saja yang nikmati hasil tambang. Kalau ada bantuan untuk warga disini, 
biasanya hanya dikasih beras sekarung ketika menjelang hari Natal," terangnya.

Sedangkan Lakius Kum, salah satu warga asal Suku Amungme dari Kampung Tsinga 
yang berdekatan dengan Tembagapura tempat beroperasinya Freeport, yang kini 
menetap di Kwamki Lama, Kota Timika,  mengaku cukup kecewa dan mengeluhkan 
perhatian perusahaan Freeport yang kini tengah beroperasi di atas tanah 
leluhurnya. Alasannya, selama dirinya bersama keluarga dipindahkan dari Kampung 
Tsinga ke Kwamki Lama di tahun 1969 lalu, dirinya tak sepenuhnya merasakan 
hasil pertambangan emas yang selama ini dikeruk Freeport di Tembagapura. "Orang 
yang nikamti hasil Freeport itu hanya orang tertentu sehingga perutnya besar 
seperti orang hamil. Apalagi kitorang yang ada di Kwamki Lama ini dianggap 
daerah merah yang sering bikin ribut (masalah), kemungkinan itu yang buat 
Freeport dan pemerintah tidak mau bantu," terangnya.  
 
Memang rata-rata rumah yang ada di Kwamki Lama dibangun seadanya. Walau 
berdinding tembok dan beratap seng. Tapi itu sudah terlihat aus dimakan usia 
dan tak terurus baik. Bahkan sudah ada yang tak ditinggali, karena seng atau 
temboknya sudah rusak. Sementara lantainya masih banyak disemen biasa, jika pun 
ada yang sudah ditehel, jelas itu karena biaya sendiri. Hanya satu-dua yang 
terlihat baik, tapi itu biasanya milik warga pendatang yang dibeli dari warga 
lokal. Bahkan jika malam hari, banyak rumah warga lokal terlihat gelap gulita 
akibat tak memiliki penerangan. Isinya pun rata-rata tak ada barang mewah.

"Hanya radio baterai berukuran kecil ini yang saya punya untuk hiburan dengar 
lagu-lagu atau berita," kata Lakius.  Lakius sempat kerja di Freeport sebagai 
tenaga kasar itu memang betul-betul memprihatinkan. Tapi sekarang tidak lagi, 
ia hanya berkebun atau berburu di hutan.

Sedangkan warga suku Kamoro yang mendiami daerah lembah misalnya, walau tak 
terlihat banyak menuntut seperti enam suku lainnya dari daerah ketinggian 
pegunungan, tempat beroperasinya Freeport. Tapi mereka juga terlihat 
benar-benar harus berubah pola dalam kehidupannya. Tadinya mereka hidup 
mengandalkan alam seperti sungai dan hutan sekitarnya untuk kebutuhan 
sehari-hari, baik mencari ikan di sungai atau berburu dan "memangkur" sagu di 
hutan-hutan, tapi kini harus rela dipindahkan jauh dari akar alamnya. Sebab 
aliran sungai seperti Sungai Aikwa tempat sumber penghidupannya telah terbenam 
tailing Freeport.

Ratusan keluarga asal suku Kamoro yang ada di Kampung Wonaripi dan Kampung 
Najeripi yang dulunya berada di pinggiran Sungai Aikwa dan Sungai Kali Kopi, 
harus rela atau terpaksa menetap dipemukiman baru di dalam Kota Timika. Mereka 
disebar dalam tiga pemukiman yang dibuat Freeport, baik di Nawaripi Baru, 
Koprapoka, dan Nayaro di dalam Kota Timika. Namun ratusan warga yang ada di 
pemukiman baru itu, nasibnya tak beda jauh dengan saudara mereka dari enam suku 
lainnya yang ada di Kampung Kwamki Lama dan Kwamki Baru. Walau rumah dan lahan 
memang telah disediakan Freeport ketika dipindahkan, tapi semua itu tak banyak 
membantu. Sebab suku Kamoro yang tinggal di dalam Kota Timika itu, dulunya 
sebagai peramu yang mengandalkan sungai dan hutan sagu sebagai sumber 
penghidupan. Namun kini, mereka dipaksa menjadi peladang yang hidup menetap.  
Sehingga kerap para warga kembali ke kampung asal, seperti ke Sungai Kali Kopi 
yang terletak bersebelahan dengan Sungai Aikwa yang sudah tercemar ta
 iling.

Kali Kopi sendiri masih sedikit beruntung belum tersentuh tailing, sehingga 
sungai itu merupakan satu-satunya harapan warga Suku Kamoro sebagai sumber 
penghidupan keluarga. Terutama mencari ikan, udang, kepiting dan sesekali 
memangkur sagu yang tumbuh alami di hutan-hutan pinggir sungainya. Setiap pagi 
di daerah bernama Gorong-Gorong, di pinggir Kota Timika sebagai tempat 
pemberhentian terakhir bis yang mengantar-jemput karyawan Freeport yang bekerja 
di Portsite, selalu saja didatangi warga Suku Kamoro yang hendak ke Kali Kopi 
atau daerah lainnya di Poumako, pinggir laut di utara Kota Timika. Malah kini 
mereka disediakan bis tersendiri untuk menjenguk lahan dan sungai.

Hasil tangkapan berupa ikan, udang, kepiting serta sagu tak hanya untuk 
dikomsumsi keluarga. Tapi biasanya, jika mereka mendapatkan lebih, dijual di 
dalam pasar di Kota Timika. Hanya saja, saat ini mereka mengeluh, karena hasil 
tangkapan itu secara perlahan mulai menurun dari biasanya. Bahkan menurut 
Martin Miripau, ikan atau udang yang terperangkap di kumbangan air akibat 
terkepung tailing, kerap mereka tangkap untuk dikonsumsi atau dijual ke pasar

"Tinggal memasukkan alat pancing, tak lama pasti ada ikan atau udang yang makan 
umpannya. Sebab ikan atau udang berkumpul dalam lubang-lubang air itu," kata 
Martin.

Pola hidup yang berubah itu, jelas menjadi persoalan tersendiri bagi suku 
Kamoro maupun enam suku lainnya yang ada di dalam Kota Timika. Sebab interaksi 
mereka dengan warga perkotaan di Kota Timika juga cukup mempengaruhi. Walau 
rumah yang dibangun perusahaan sebagai kompensasi dari kampung mereka yang 
telah digunakan perusahaan lebih layak dari sebelumnya. Tapi meningkatnya 
kebutuhan hidup yang cepat di daerah perkotaan, jelas membutuhkan tambahan 
penghasilan baru. Sementara mereka sebelumnya hanya mengandalkan alam 
sekitarnya.

Akibatnya, antara warga suku lokal dengan warga perkotaan di Kota Timika, 
terlihat adanya kesenjangan ekonomi yang mencolok. Jika tak ada hasil bumi yang 
mereka jual di dalam pasar di Kota Timika, banyak diantaranya hanya ditemui 
sebagai buruh kasar yang menggunakan jasanya. Jika tidak, mereka akan 
ramai-ramai berendam di sungai dimana aliran ampas-ampas pabrik perusahaan 
membuang serbuk-serbuk emas sebagai pendulang tradisional.

Ketidakadilan dan kesenjangan itu hingga kini terlihat jelas di jalan-jalan 
yang ada di Kota Timika. Siapa pun dia, dengan mudah bisa menemukan gambaran 
itu di jalan-jalan di Kota Timika. Sebab biasanya, ditemukan mobil-mobil mewah 
bergardan ganda, seperti jenis Defender, Toyota Land Cruiser maupun jenis mobil 
mewah lainnya berseliwerang di jalanan Kota Timika. Isinya, jelas hanyalah 
orang-orang asing atau para pekerja tambang yang kebanyakan bukan warga asli 
setempat. Sementara warga lokal atau warga setempat, hanya terlihat 
berjalan-jalan dengan kaki telanjang di aspal panas jalanan kota. Jika pun ada 
yang naik mobil tergolong cukup mewah, jelas kemungkinannya mereka adalah elit 
lokal yang memang punya jabatan penting, baik di pemerintahan maupun instansi 
lainnya.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke