** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Premanisme DPR 


Syamsuddin Haris

Ketika busung lapar dan polio yang dialami rakyat kecil belum 
sepenuhnya ditangani, diam-diam para wakil rakyat justru 
merencanakan kenaikan tunjangan pada 2006 ini. Pemerintah mengakui 
ada usulan kenaikan tunjangan, tetapi masih "rencana". Sampai kapan 
kita harus mengurut dada?

Ironisnya, penggunaan hak interpelasi DPR dalam kasus busung lapar 
ditanggapi setengah hati oleh pemerintah. Melalui Menteri 
Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, pemerintah 
menjelaskan program dan langkah-langkah kebijakan yang diambil. 
Namun, seperti biasa, penjelasan-penjelasan pemerintah amat normatif 
dan jauh dari kesan serius.

Juga sebagaimana lazimnya, rapat paripurna DPR diakhiri dengan 
seperti dilansir media cetak dan elektronik "acara" ketawa bersama 
antara wakil pemerintah dan pimpinan DPR. Seolah dengan keterangan 
yang diberikan pemerintah itu persoalan busung lapar telah selesai.

Kita kian prihatin karena sidang paripurna DPR yang mengagendakan 
keterangan pemerintah tentang penanganan busung lapar 
diwarnai "vandalisme" ala DPR. Menurut beberapa anggota Dewan dan 
pekerja pers, sidang itu bukan hanya menjadi keterangan sepihak 
pemerintah  karena hampir tidak ada dialog tetapi juga diwarnai cara-
cara premanisme politik. Betapa tidak, para pengusul hak interpelasi 
tidak bisa berbicara karena mikrofon dimatikan atau tiba-tiba mati, 
atau karena pimpinan sidang yang notabene pimpinan DPR tidak memberi 
kesempatan berbicara.

Premanisme

Pembungkaman perbedaan pendapat melalui cara-cara premanisme yang 
mengarah kepada "vandalisme" ini patut disesalkan karena rakyat 
berharap, pemerintah dan DPR dapat berdialog secara terbuka, 
transparan, dan bertanggung jawab. DPR mestinya tidak dipaksakan 
sekadar menjadi tukang stempel kebijakan pemerintah seperti 
disinyalir Amien Rais. Dewan terhormat ini justru diciptakan sebagai 
tempat pertukaran pikiran mengenai nasib rakyat dan masa depan 
bangsa, bukan "komedi omong" ala Volksraad era kolonial Belanda.

Seperti dibayangkan HOS Tjokroaminoto saat menolak Volksraad, DPR di 
era demokrasi saat ini mestinya benar-benar menjadi "parlemen 
sejati". Atau sebagaimana diimpikan proklamator Bung Karno, yakni 
sebuah parlemen di mana dialog dan pertukaran pikiran di 
dalamnya "mendidih" bagai kawah candradimuka. Entah apa yang 
dikhawatirkan sebagian anggota dan pimpinan DPR jika dialog dan 
perdebatan terbuka dibiarkan berlangsung. Juga, entah apa yang 
ditakutkan Ketua DPR Agung Laksono sehingga merasa perlu menyurati 
Presiden Yudhoyono agar mewakilkan saja penyampaian keterangan 
pemerintah di DPR.

Jika perbedaan pendapat di DPR diharamkan, untuk apa lembaga 
terhormat ini dihasilkan melalui pemilihan umum yang berbiaya 
ekonomi, sosial, dan politik begitu besar. DPR seperti inikah yang 
harus terus dinaikkan gaji dan tunjangan penghasilannya?

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Yudhoyono terlampau sibuk 
menjaga citra publik sehingga aneka persoalan mikro-riil ekonomi 
diabaikan. Yang hampir selalu menjadi ukuran keberhasilan adalah 
pencapaian yang bersifat makro-ekonomi seperti tingkat pertumbuhan, 
inflasi, dan stabilitas kurs rupiah terhadap dollar Amerika. Padahal 
seperti disinyalir sebagian ahli ekonomi kualitas hidup rakyat tidak 
lebih baik, tingkat pengangguran terbuka terus meningkat, dan 
kemiskinan absolut belum berkurang secara signifikan.

Kompensasi agar membeo

Yang dikhawatirkan adalah jika skenario kenaikan tunjangan 
penghasilan para anggota DPR itu justru diberikan 
sebagai "kompensasi" sikap membeo DPR seperti dipaksakan pimpinan 
Dewan dalam sidang paripurna interpelasi busung lapar pekan lalu. 
Jika kekhawatiran ini mendekati benar, sebenarnya belum ada yang 
berubah dalam relasi antara rakyat-pemerintah- DPR pasca-Orde Baru. 
Seperti berlangsung selama tiga dekade era Soeharto, posisi rakyat 
masih sebagai "obyek" dari proyek demokratisasi yang hanya dinikmati 
segelintir elite yang memperoleh mandat melalui pemilihan umum.

Di tengah penderitaan rakyat yang tak kunjung berkurang, pemerintah 
pilihan rakyat mestinya lebih cerdas dalam menentukan pilihan 
kebijakan. Orientasi pencapaian keberhasilan makro-ekonomi sudah 
saatnya diimbangi keseriusan penanganan persoalan riil ekonomi 
seperti busung lapar, gizi buruk, dan pengangguran.

Secara retorik, pemerintah sering mengemukakan komitmen untuk 
mengurangi penderitaan rakyat. Namun, dalam realitasnya, pilihan 
kebijakan hampir selalu "tulalit", dalam arti tidak "nyambung" 
dengan kebutuhan rakyat. Kebijakan kenaikan harga BBM dan tarif 
dasar listrik, misalnya, bisa jadi malah memperbesar angka 
kemiskinan ketimbang sebaliknya.

Karena itu, demonstrasi dan unjuk rasa berbagai elemen masyarakat 
mulai dari buruh, petani, guru, bahkan kepala desa akhir-akhir ini 
bukan hanya akibat reformasi yang "kebablasan". Semua fenomena itu 
justru lebih disebabkan kecenderungan elite politik 
yang "kebablasan" karena tidak lagi memiliki kepekaan sosial, 
tanggung jawab, dan nurani.

Rencana diam-diam kenaikan tunjangan anggota DPR hanya contoh kecil 
dari tak adanya kepedulian dan nurani elite kita. Masih banyak 
contoh yang tidak terungkap dan belum tercium pers. Begitu pula 
premanisme politik ala DPR, hanya contoh kecil dari lautan 
premanisme politik dan kesewenang-wenangan kekuasaan yang berpotensi 
meluluhlantakkan bangunan negeri kita.

Semoga saja Tuhan memaafkan para elite politik yang mau kembali ke 
jalan yang lurus.

Syamsuddin Haris 
Ahli Peneliti Utama Bidang Politik LIPI







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke