** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **REPUBLIKA Senin, 13 Maret 2006
Salahmu tak Jadi Anggota DPR Oleh : Ahmad Tohari Ini cerita tentang para guru sekolah dasar. Tahun 1996, konon demi peningkatan kualitas pendidikan dasar, para guru SD minimal harus berijazah D[iploma]-2. Proyek pun disiapkan dan Universitas Terbuka yang jadi pelaksana. Mereka yang masuk angkatan pertama termasuk beruntung karena dapat mengikuti proyek pendidikan selama dua tahun dengan gratis. Gelar mereka A.Ma. Pd, alias ahli madya. Sayangnya angkatan pertama yang gratis itu seperti hanya untuk iklan belaka. Buktinya angkatan berikut dan selanjutnya tidak ada istilah gratis lagi. Waktu itu banyak guru SD bertanya-tanya, siapakah pembuat peraturan guru SD harus berijazah D-2? Tentu saja pemerintah. Tapi, mengapa para guru yang gajinya tak seberapa harus menanggung biaya pendidikan D-2? Beratus ribu guru SD silakan mengeluh. Namun keluhan mereka tak pernah didengar. Sementara perasaan takut tertinggal oleh mereka yang sudah bergelar A.Ma. Pd terus membayang. Maka jadilah, para guru SD yang merasa hanya berijazah SPG, KPG, atau sederajat beramai-ramai mendaftarkan diri masuk program pendidikan D-2 atas tanggungan biaya sendiri. Bagi mereka yang punya penghasilan selain gaji, biaya untuk mengejar ijazah D-2 tidak akan terasa terlalu berat. Tapi mereka yang tak punya penghasilan lain, ceritanya jadi amat pahit. Kebutuhan hidup yang sudah mencapai titik minimal harus ditekan lebih keras lagi. Ikat pinggang dikencangkan, dan biaya pendidikan anak-anak dikorbankan. Bahkan karena ekonomi rumah tangga sudah parah maka banyak sekali guru SD terjerat utang yang berkepanjangan. Cerita ini belum selesai. Setelah berjuang habis-habisan untuk memperoleh ijazah D-2, para guru SD hanya sebentar menikmati rasa aman. Sebab pada tahun 2007 nanti, sesuai dengan undang-undang, guru SD minimal harus punya ijazah S[arjana]-1. Teror mental datang lagi. Dan sudah bisa dipastikan ratusan ribu guru akan pontang-panting mengejar ijazah S-1 karena tidak ingin merasa tertinggal di belakang. Lagi-lagi mereka akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit bagi gaji mereka yang pas-pasan atau bahkan kurang. Apakah ini pengorbanan para pahlawan tanpa tanda jasa demi pendidikan anak-anak Indonesia? Ini cerita tentang lagu lama para anggota DPR RI. Lagi-lagi seputar duit. Kemarin dulu Suryama anggota dari PKS saking jujurnya bilang gaji anggota DPR akan naik Rp 10 juta per bulan. Banyak anggota yang lain jadi gerah. Alvin Lie dan Ade Nasution mau meluruskan yang dianggap bengkok dalam ucapan Suryama. Tapi ada juga yang mau mengadukan Suryama ke Badan Kehormatan (mereka mengandaikan DPR masih jadi lembaga terhormat) pimpinan Slamet Effendi Yusuf. Dan tak kurang Agung Laksono, sang ketua, ikut angkat bicara. ''Tak ada itu kenaikan gaji DPR untuk tahun 2006. Yang ada hanya tunjangan operasional untuk komunikasi intensif dengan konstituen sebesar Rp 5 juta per bulan yang sudah diputuskan tahun lalu tapi belum dilaksanakan hingga sekarang.'' Karena omongan ketua, anggaplah ini yang paling benar. Jadi ada kenaikan tunjangan sebesar 3 kali gaji guru SD (lebih 10 kali gaji guru bantu) untuk para anggota DPR. Tunjangan itu, katanya, untuk biaya komunikasi intensif dengan para pemilih. Bila ada guru SD yang kurang paham, bisa diterangkan begini. Dengan tunjangan Rp 5 juta itu para anggota DPR akan lebih sering mendatangi para pemilih untuk mendengar aspirasi mereka. Dan aspirasi itu akan dibawa ke persidangan di Senayan, mudah-mudahan. Dan saya yang tinggal di Jawa Tengah misalnya, boleh berharap akan sering melihat Alvin Lie, Tjetjep Sjaifuddin, Bahrudin, Hanif Ismail, atau Anas Malik, datang ke daerah pemilihan mereka. Selama ini memang jarang ada anggota DPR menjelajahi daerah pemilihan untuk mengetahui permasalahannya. Kecuali dulu sebelum pemilu. Nah, dengan tambahan tunjangan itu kini tak ada alasan lagi untuk berbuta mata dan bertuli telinga terhadap persoalan yang ada di daerah pemilihan. ''Tapi nanti dulu,'' kata seorang guru SD. ''Apakah ada jaminan uang tunjangan itu benar-benar akan dipakai untuk berkomunikasi intensif dengan konstituen? Siapa yang akan mengontrol mereka?'' ''Ssst jangan keras-keras. Kita sedang berbicara tentang mahluk-makhluk istimewa yang sangat pintar omong dan berdebat. Jangan sampai terkesan kita iri kepada mereka. Sebab mereka bisa membalik: Salahmu tidak jadi anggota DPR.'' [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

