** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/3/18/o2.htm
Korupsi para kaum berdasi memang telah membawa konstruksi titik nadir kematian bangsa, sehingga dalam suatu kesempatan A. Syafi'i Ma'arif (2005) mengatakan kerusakan bangsa Indonesia akibat korupsi sudah hampir sempurna, dan sebentar lagi -- Franz Magnis-Suseno mengungkapkan -- Indonesia tinggal menunggu waktu tergelincir dan masuk jurang. ----------------------- Membangun Ideologisasi Pendidikan Antikorupsi Oleh Muhammadun AS SEJARAH perjalanan pendidikan bangsa ini, sejak Orde Baru bahkan hingga saat ini, tidak bisa dilepaskan dari keterpautan dengan relasi politik kekuasaan dan ekonomi. Pendidikan seringkali dijadikan sebagai media untuk mencari, merebut, dan mempertahankan kekuasaan. Karena terjebak sebagai "alat kekuasaan", pendidikan yang tadinya netral, tidak memihak, dan objektif, berubah menjadi ajang pertarungan kekuasaan yang penuh interes, konflik, dan bahkan seringkali dimuati dengan kepentingan ideologis yang bersifat memihak dan subjektif. ------------------------------------- Dalam kondisi demikian, pendidikan yang tadinya menjadi sarana mencari kebenaran dan autentisitas diri manusia berubah menjadi sarana "pembenaran" dan arena pencarian jati diri yang semu, abstrak, dan jauh dari nilai moralitas kemanusiaan. Sedangkan dalam keterpautan ekonomi, pendidikan saat ini hanya dijadikan sebagai lembaga "pengeruk" kekayaan belaka, tidak peduli kemiskinan yang sedang mendera bangsa. Makanya, walaupun media massa sudah sering memberitakan kondisi real kemiskinan bangsa, lembaga pendidikan tetap saja "buta mata", bahkan tidak mau tahu dengan kondisi tersebut. Akibatnya, kapitalisasi pendidikan adalah sebuah keniscayaan dan setiap tahun ajaran baru nanti akan menjadi "hantu" paling menakutkan negeri ini. Terjebak dalam permainan kekuasaan dan ekonomi, membawa pendidikan bangsa ini pada lubang hitam paling dalam. Terbukti, mereka yang tersangka dan terdakwa dalam berbagai kasus korupsi adalah kaum elite berdasi. Ya, mereka adalah graduated dari lembaga pend idikan tinggi kita. Semakin banyak lulusan perguruan tinggi, bukannya semakin maju negeri ini, justru malah semakin subur korupsi dan semakin jelas lonceng kematian demokratisasi. Korupsi para kaum berdasi memang telah membawa konstruksi titik nadir kematian bangsa, sehingga dalam suatu kesempatan A. Syafi'i Ma'arif (2005) mengatakan kerusakan bangsa Indonesia akibat korupsi sudah hampir sempurna, dan sebentar lagi -- Franz Magnis-Suseno mengungkapkan -- Indonesia tinggal menunggu waktu tergelincir dan masuk jurang. Dari fenomena demikian, apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan, untuk tidak hanya menghapus stereotip pencetak koruptor, namun juga membangun ideologi kehidupan yang antikorupsi? Perlu Diperhatikan Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun ideologisasi pendidikan antikorupsi. Pertama, menempatkan pendidikan sebagai saran membentuk karakter. Atau dalam bahasa pedagog Jerman, FW Foerster (1869-1966), kita harus menciptakan pendidikan karakter. Dalam pandangan Foester, ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter; keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan hirarki nilai, koherensi yang memberi keberanian, teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko, memberikan otonomi dalam menginternalisasikan aturan luar menjadi nilai bagi pribadi, dan membangun keteguhan dan kesetiaan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan (Doni Kusuma, A: 2006). Kematangan empat nilai dasar Foerster tersebut akan membangun forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Sosok pribadi tangguh yang siap menerjang ketimpangan yang melanda masyarakat, khususnya korupsi. Kedua, setelah tercipta karakter, maka perlu membangun kurikulum yang selalu mengutuk korupsi sebagai kemungkaran sosial. Dalam setiap materi pelajaran, seorang guru seharusnya tidak hanya menjelaskan makna tekstual teori ilmu pengetahuan, namun juga mampu mengkontekstualisasikan dengan fenomena ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan integrasi teori dan realitas, maka kurikulum pendidikan, selain tidak menjemukan siswa, juga mampu mengantarkan mereka menuju hampaan pengetahuan yang begitu luas dan dahsyat. Mereka tidak kaya dengan pengetahuan, namun juga pengalaman hidup sebagai bekal di masa depan. Ketiga, melakukan real action, aksi nyata dalam pemberantasan korupsi. Aksi nyata ini bisa bekerja sama dengan lembaga peradilan yang menyeret para koruptor atau lembaga swadaya masyarakat yang concern terhadap kebijakan pemberantasan korupsi. Dengan aksi nyata tersebut, siswa atau bahkan para mahasiswa akan melihat secara real kenyataan korupsi di Indonesia dan menjelaskan pada mereka bahwa para koruptor tersebut adalah kaum berdasi yang telah menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang paling tinggi. Dengan begitu, anak didik akan "tertampar" untuk bangkit mengembalikan moralitas pendidikan dan akhirnya akan berdedikasi seara positif terhadap kelangsungan bangsa. Keempat, mendirikan arus baru lintas sektoral pendidikan. Dalam arti, perlu upaya gerakan massif di berbagai lembaga pendidikan pusat maupun daerah dalam menentang ulah para koruptor. Dengan menjadi mainstream baru, maka pendidikan antikorupsi bukan sekadar wacana, namun sebuah gerakan yang memang sangat diperhitung kan untuk kelangsungan masa depan bangsa. Beberapa langkah ideologisasi tersebut harus menjadi refleksi bersama bangsa sebagai wujud tanggung jawab global atas berbagai kemelut yang selalu menimpa bangsa. Korupsi dan dua saudara kembarnya, kolusi dan nepotisme, yang selama ini menjadi "trilogi" penyakit bangsa harus segera lenyap dari muka bangsa. Jangan sampai trilogi penyakit bangsa ini menjadi mitologi kejahatan, karena sulit terendus jika modusnya melibatkan sindikasi yang rumit, terlebih jika di back-up oleh struktur kekuasaan politik-ekonomi yang kuat dan berlapis. Untuk itu, pendidikan antikorupsi akan menjadi "jelmaan dewa" yang akan membawa cetak biru kemajuan bangsa di masa depan. * Penulis adalah pemerhati sosial, tinggal di Yogyakarta [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

