** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **SUARA KARYA


BENTROKAN DI PAPUA Jangan Jadi  Propaganda Kemerdekaan
 


Sabtu, 18 Maret 2006
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah pusat perlu mengambil langkah-langkah 
antisipasi untuk meminimalisasi kemungkinan kasus bentrokan di Abepura, Papua, 
dijadikan isu internasional masalah Papua. Selain itu, perlu menjaga agar kasus 
bentrokan itu tidak dijadikan pembenaran atau propaganda untuk menyerukan 
kemerdekaan Papua. 

Demikian pandangan kalangan DPR menanggapi bentrokan berdarah antara massa 
pengunjuk rasa dan aparat keamanan di di Abepura, Papua. Mereka antara lain, 
Ketua DPR HR Agung Laksono, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soeryogoeritno, Ketua 
Komisi I DPR Theo L Sambuaga, dan anggota Komisi II DPR Tony Wardoyo. 

Ketua DPR HR Agung Laksono meminta kepada aparat keamanan agar secepatnya bisa 
mengendalikan situasi dan semaksimal mungkin menjaga jangan sampai timbul 
korban baru. Dia menyesalkan terjadinya bentrokan yang menewaskan tiga personel 
polisi dan seorang anggota TNI itu. "Perlu ada langkah tegas, tetapi jangan 
sampai jatuh korban," katanya, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (17/3). 

Mengenai aksi yang menuntut penutupan PT Freeport, Agung berpandangan, PT 
Freeport harus tetap beroperasi. Sebab, apabila terhenti dikhawatirkan akan 
terjadi dampak negatif, baik di bidang politik maupun ekonomi. 

Semua pihak, demikian Agung, harus duduk bersama untuk membahas langkah 
berikutnya guna mengakomodasi aspirasi rakyat Papua. "Saya sepakat jika alokasi 
royalti untuk rakyat Papua dibahas kembali," ujarnya. 

Agung juga meminta pemerintah memperhatikan aspek lingkungan akibat penambangan 
PT Freeport. Persoalan ini harus dibicarakan dengan PT Freeport. "Semua pihak 
harus menahan diri dan duduk bersama," ujarnya. 

Menanggapi hal yang sama, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno berpendapat, 
bentrokan itu terjadi akibat pemerintah lamban dalam mengambil tindakan. 
Karena, aksi unjuk rasa itu telah terjadi sejak dua pekan lalu. "Tidak cukup 
jika pemerintah hanya memberi janji-janji semata, tetapi harus ada tindakan 
nyata," katanya. 

Menurut Soetardjo, aksi-aksi yang terjadi di Papua jika tidak segera 
diantisipasi akan meluas kepada isu-isu lain. Pemerintah, jangan menyalahkan 
para elite politik karena yang terjadi di Papua adalah aspirasi rakyat Papua 
sendiri yang menuntut keadilan. 

Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga meminta agar masalah yang 
terjadi di Abepura tidak dicampur-adukan dengan kepentingan lain. Dia khawatir 
pascabentrokan yang terjadi di Papua dua hari yang lalu itu dimanfaatkan oleh 
pihak-pihak tertentu yang menginginkan Papua merdeka yang selama ini tidak 
mendapat perhatian dari masyarakat Papua. 

"Persoalan ini jangan sampai tercampur aduk, harus tetap mengacu pada persoalan 
pokoknya, yakni penyelesaian gugatan ketidakadilan di Papua akibat operasi 
pertambangan Freeport," kata Theo di Jakarta, semalam. 

Untuk itu, menurut Theo, pemerintah harus mendengar aspirasi rakyat Papua. 
"Pemerintah harus mendengar aspirasi mereka. Sebab, masalah ini sebenarnya bisa 
dibicarakan dengan baik-baik," ujarnya. 

Menanggapi aksi yang menuntut penutupan PT Freeport, menurut Theo, jika itu 
dilakukan, sedikit banyak hal itu akan berpengaruh pada pemberdayaan pada 
masyarakat Papua itu sendiri. "Kalau ini ditutup pasti akan ada implikasi 
hilangnya pendapatan negara dan daerah. Tapi, ini 'kan masih bisa dibicarakan," 
katanya. 

Sementara itu, pemerintah diminta membuat langkah antisipatif dengan membentuk 
Tim Khusus untuk menangani persoalan yang terjadi di Papua pasca bentrokan, 
dikhawatirkan implikasi dari munculnya bentrokan ini akan menimbulkan 
gerakan-gerakan yang bisa merugikan Indonesia, termasuk kemungkinan 
internasionalisasi masalah Papua. "Presiden SBY jangan ragu ambil sikap dan 
pimpin langsung tim tersebut," kata Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKB Tony 
Wardoyo. 

Lebih jauh, ujar Toni, harus ada langkah yang cepat dari pemerintah. Soal 
tuntutan penutupan Freeport, dia melihat, hal itu tidak mungking dilakukan. 
"Harus ada jalan keluar dan jangan selalu menyalahkan bahwa rakyat Papua telah 
ditunggangi," ujarnya. 

Semua ini, lanjut Toni, karena ketidakadilan hak yang diterima rakyat Papua 
sedangkan Freeport bisa mengambil kekayaan alam di Papua sebanyak-banyaknya. 
"Ada beberapa substansi dalam kontrak kerja antara pemerintah dengan Freeport 
yang harus dikaji ulang seperti pemberian royalti kepada rakyat Papua yang 
hanya sebesar satu persen," jelasnya. (M Kardeni) 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke