** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **SUARA KARYA

Ambiguitas Gaji DPR
Oleh A. Bakir Ihsan 



Sabtu, 18 Maret 2006
Bocornya informasi rencana kenaikan gaji DPR melengkapi karut - marut dunia 
DPR. Kini atas bocornya informasi tersebut, sesama anggota DPR saling tuding 
karena dianggap melanggar kode etik. Masyarakat pun bertanya siapa yang 
melanggar kode etik dan siapa yang berlindung di balik kode etik. 

Terlepas dari karut-marut dunia DPR, kenaikan gaji akan selalu menjadi isu 
krusial. Bahkan isu kenaikan secara umum akan selalu mendapat reaksi. Rencana 
kenaikan tarif dasar listrik (TDL), PAM, kenaikan tarif tol dan haarga BBM 
mendapat respons reaktif dari masyarakat sebagai ekspresi penolakan. Namun dari 
pengalaman yang ada, semua rencana kenaikan cenderung tak dapat dibendung. 
Apalagi menyangkut kebutuhan anggota dewan terhormat. Karena di lembaga inilah 
pusat kekuasaan yang sesungguhnya hadir. 

Partai politik sebagai pintu masuk paling absah ke arena kekuasaan terwakili di 
lembaga ini. Tak berlebihan apabila DPR disebut sebagai penampakan sejati dari 
kekuasaan oligargik. Walaupun mereka adalah wakil rakyat, tapi rakyat tak bisa 
menuntut para wakilnya tersebut mundur dari jabatannya, baik karena korup atau 
melanggar tata susila. Tak ada kontrol politik eksternal yang dapat 
"mengendalikan" sepak terjang anggota DPR. Pada titik ini DPR menjelma menjadi 
penguasa tak terbatas. 

Namun demikian, kekuasaan tak terbatas tersebut tidaklah permanen. Setiap lima 
tahun mereka harus memperpanjang kekuasaannya melalui suara rakyat. Itulah 
sebabnya ia merasa perlu untuk membangun komunikasi intensif dengan para 
konstituennya, sehingga bisa tetap eksis dan bertahan di Senayan pada pemilihan 
umum (pemilu) mendatang. Sayangnya semua proses mempertahankan kekuasaan ini 
dilakukan dengan menggunakan dana negara, melalui berbagai cara. Salah satunya 
meminta kenaikan tunjangan untuk kepentingan komunikasi (kampanye) dengan 
konstituennya. 

Inilah model komunikasi politik yang boros, tidak efisien, dan lebih dari itu, 
tidak mendidik. Pertimbangan image building agar citra dirinya tetap 
terpelihara di dalam ingatan masyarakat menjadi pertimbangan paling penting 
daripada memperhatikan aspirasi masyarakat secara serius dan memperjuangkannya 
kepada pemerintah. 

Realitas tersebut merupakan muara dari proses seleksi anggota dewan yang 
unqualified. Para anggota DPR dipilih rakyat bukan karena orang-orang pilihan. 
Mereka terpilih karena dicalonkan partai melalui proses seleksi yang elitis. 
Kalau dilacak lebih jauh, ini merupakan konsekuensi dari pola rekrutmen politik 
atas anggota DPR. Mereka direkrut oleh partai bukan karena kompetensi atau 
kualitas, tetapi karena faktor-faktor lain yang sejatinya tidak terkait 
langsung dengan kebutuhan masyarakat. Kedekatan dengan elite, ketersediaan dana 
yang besar, dan kemampuan obral janji adalah modal yang mengantarkan mereka 
menjadi anggota dewan. 

Lebih parah lagi, mekanisme partai dalam rekrutmen calon legislatif sering 
dilanggar oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis. Sehingga tidak jarang 
proses penyusunan caleg memunculkan gejolak dan intrik-intrik tidak sehat di 
internal partai yang pada akhirnya dapat meruntuhkan citra partai itu sendiri. 
Terlihat betul bahwa orientasi kekuasaan lebih dikedepankan daripada kemampuan 
mengapresiasi aspirasi masyarakat atau memiliki basis sosial yang kuat. 
Konsekuensinya, para anggota dewan tidak memiliki basis sosial yang kuat, 
sehingga mereka merasa perlu terus menggalang komunikasi dengan konstituennya 
dengan membebani uang negara. 

Secara logika, kalau landasan kenaikan gaji atau tunjangan adalah untuk 
memenuhi kebutuhan komunikasi intensif dengan konstituennya, maka kenaikan 
tersebut seharusnya variatif. Paling tidak kenaikan tersebut disesuaikan jarak 
tempuh mereka dengan daerah pemilihannya. Tidak adil rasanya apabila anggota 
daerah pemilihannya Jakarta sama dengan anggota yang daerah pemilihannya Papua 
atau Aceh yang jarak dan kondisi sosialnya jauh dan sangat berbeda. 

Di sinilah kerancuan (ambiguitas) kenaikan gaji anggota DPR. Dalam bahasa yang 
ekstrem, alasan kenaikan gaji atau tunjangan tersebut hanya retorika 
legitimatif untuk meraup dana sebesar-besarnya dari negara secara absah untuk 
dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan dirinya. Apabila ambiguitas ini 
dibiarkan, kenaikan-kenaikan lainnya akan terus terjadi tanpa rasionalisasi, 
tak terbatas, dan tak terkendali. Apalagi menjelang pemilu, kebutuhan dana 
komunikasi (kampanye) semakin membengkak, maka negara menjadi tumpuan sumber 
dana bagi anggota dewan. 

Oleh sebab itu, perlu langkah-langkah konstruktif agar hasrat menaikkan gaji di 
DPR ini bisa dirasionalisasi dan dikendalikan. Untuk itu ada beberapa hal yang 
perlu dipertimbangkan. Pertama, standar gaji (tunjangan). Sudah waktunya ada 
aturan yang tepat dan ketat untuk mengukur kebutuhan dan kinerja anggota DPR. 
Dari sinilah gaji DPR ditentukan. Kini, entah alasan apa yang paling masuk akal 
untuk menaikkan gaji anggota DPR. 

Kedua, transparansi. DPR sebagai rumah rakyat harus membuka diri (transparan) 
terkait seluruh prosesi yang berlangsung di dalamnya, apalagi menyangkut 
kenaikan gaji yang jelas-jelas akan membebani keuangan negara. Maka sungguh 
aneh apabila anggota BURT marah-marah dan berusaha menutup-nutupi rencana 
kenaikan gajinya sendiri. Kurangnya transparansi prosesi di lembaga dewan ini 
menyebabkan terjadinya kolusi dan transaksi politik yang sering menjerumuskan 
rakyat. Kenaikan harga BBM yang berefek domino bagi kenaikan kebutuhan lainnya 
merupakan bukti konkret dari perselingkuhan DPR dengan eksekutif yang justru 
membebani rakyat. 

Ketiga, rekonstruksi partai politik. DPR sebagai lumbung kader partai dengan 
segala karut- marutnya perlu rekonstruksi parpol, khususnya terkait dengan pola 
rekrutmen calegnya. Aturan dan pola rekrutmen yang ada harus ditegakkan di atas 
kepentingan pragmatis partai. Rekonstruksi ini bukan saja dapat melahirkan 
kader partai yang berkualitas, tapi juga bisa menaikkan citra partai di mata 
masyarakat. 

Pelaksanaan agenda di atas tentu tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada 
masing-masing lembaga terkait, baik partai politik maupun DPR. Peran masyarakat 
dan keseriusan Presiden SBY untuk mewujudkan good and clean government juga 
akan sangat membantu percepatan peningkatan kualitas parpol dan anggota dewan 
yang belakangan sangat sensitif, terkait kenaikan gaji, tunjangan, dan 
pendapatan lainnya. Sensitivitas itu seharusnya diarahkan kepada kenyataan 
hidup masyarakat yang berkutat dalam derita dan pendapatan hidup yang tak 
menentu.*** 

Analis dan dosen ilmu politik UIN Jakarta

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke