** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **http://www.sinarharapan.co.id/berita/0603/17/taj01.html
Papua, Titik Api yang Terus Ditiup PeristiwA menyedihkan yang terjadi di Abepura, Jayapura, Papua, Kamis (16/3), sungguh sangat disesalkan. Setidaknya tiga polisi, satu anggota TNI AU tewas, hampir tiga puluh anggota Polri dan pengunjuk rasa luka-luka dalam peristiwa itu. Benar-benar sebuah tragedi. Pemerintah pusat maupun daerah harus bertindak cepat. Polisi telah menangkap puluhan orang, kebanyakan mahasiswa, yang diduga terlibat dalam tindak pidana tersebut. Para pejabat tinggi keamanan dan intelijen semalam terbang ke Jayapura guna memperoleh informasi dari tangan pertama. Awal ironi itu sebenarnya bukan sebuah tema baru. Para pengunjuk rasa mengusung isu penutupan PT Freeport yang bertahun-tahun mengelola tambang tembaga, emas, dan mineral ikutan lainnya. Guna mempertegas dan menarik perhatian, mereka menutup jalan utama di depan kampus Universitas Cendrawasih (Uncen). Aparat keamanan terbiasa menghadapi pola demonstrasi seperti itu, namun situasi kali ini berbeda dan berakhir lebih buruk. Petugas keamanan dibunuh dan banyak lagi yang luka parah serta luka ringan. Apakah hasil akhir tersebut sudah dikondisikan sejak awal? Pengelolaan tambang oleh PT Freeport merupakan isu yang laris dijual ke pasar daerah, nasional, maupun internasional. Penggerusan dataran, lembah dan gunung demi bahan tambang yang disebutkan di muka membawa dampak lingkungan, HAM, politis, keamanan, dan berebut rezeki. Yang terlibat di dalamnya tak hanya anggota masyarakat, kelompok, dan elite lokal, tetapi juga orang-orang pusat baik yang bernuansa bisnis maupun politis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan cepat bereaksi atas ironi di Abepura. Dia meminta para elite politik agar pandai-pandai membaca situasi dan jangan memprovokasi. Jangan sampai apa yang disampaikan justru memprovokasi, digunakan untuk tindakan lain yang menyentuh kedaulatan dan perlawanan terhadap negara. Reaksi itu sungguh mengena sebab belakangan ini sejumlah pihak mengusung isu nasionalisme dalam kaitan dengan penambangan oleh Freeport dan penanganan ladang minyak Banyu Urip di Blok Cepu oleh ExxonMobil. Pengutaraan isu nasionalisme ini memperoleh sambutan luas, bahkan para tokoh nasional telah berkumpul, Kamis malam, di kediaman mantan Wapres Try Sutrisno membahas berbagai hal dalam kaitannya dengan kebangsaan Indonesia. Lebih dari itu mereka juga ingin secepatnya bertemu dengan Presiden Yudhoyono untuk menyampaikan berbagai hal yang dinilai penting untuk dipertimbangkan Kepala Negara dalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk terjaganya kesatuan bangsa dan negara. Papua telah menjadi titik api karena provinsi ini merupakan melting pot berbagai permasalahan. Persis seperti yag dikatakan Presiden, isu yang muncul mulanya menyangkut Freeport, kemudian berkembang menjadi penolakan pada Irjabar, penolakan pilkada dan bahkan menyerukan kembali kemerdekaan Papua. Kita berandai-andai tak satupun pihak yang dapat memastikan penyebab utama peristiwa di Abepura itu. Demikian pula dengan tujuannya, apakah sekadar bernuansa lokal, kepentingan bisnis yang berkaitan dengan rencana pelepasan saham PT Freeport atau sebagai upaya mencari bekal kampanye 2009. Apapun penyebab yang sesungguhnya, peristiwa di Abepura sangat mengganggu konsentrasi Presiden dan jajarannya. Gangguan konsentrasi itu bukan pada pendelegasian tugas karena ada pejabat yang khusus menangani, namun lebih kepada citra pemimpin. Sudah lama dikatakan pimpinan nasional tidak mempunyai genggaman yang kuat. Kita berharap peristiwa di Abepura tersebut tidak akan mendorong direalisasikannya gagasan mengendalikan demokrasi demi menumbuhkan kestabilan dan pertumbuhan ekonomi. Bila gagasan itu terwujud, maka sejarah akan berulang. Bukankah pengelolaan pertambangan oleh Freeport yang merugikan Indonesia dibuat ketika pemerintah sedikit bertoleransi terhadap perbedaan politik? Pencarian keseimbangan antara demokrasi dan ekonomi menjadi perkara penting, sebab kini banyak pihak yang meragukan manfaat demokrasi terhadap kesejahteraan. Soalnya selama hampir delapan tahun berdemokrasi, paritas daya beli sejumlah besar rakyat terus melemah. Sesungguhnya membuat demokrasi yang serasi, selaras, dan menopang perekonomian merupakan tugas bersama. Untuk itu perlu ada kesadaran menahan diri, tindakan, ucapan, dan perbuatan. Sekali lagi jangan korbankan rakyat yang sudah amat susah. n [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

