Islam Mayoritas, Islam Minoritas

Kolom Aboeprijadi Santoso
Radio Nederland 24-03-2006

Islam, tentu saja, hanya satu, yaitu ajaran Islam. Judul "Islam 
Mayoritas, Islam Minoritas" saya ambil dari kosakata publik di Eropa 
Barat ketika pemberitaan dan opini publik di Eropa ini makin membeda-
bedakan kelompok-kelompok Muslim.

Kegagalan akulturasi

Soal Islam dan kehidupan kaum muslimin menjadi topik yang makin 
hangat di Eropa Barat, khususnya di negara-negara yang memiliki 
minoritas Muslimin dalam jumlah besar, seperti Belanda, Inggris, 
Jerman dan Prancis. Apalagi, tahun-tahun belakangan ini, sejumlah 
kelompok radikal sering membajak nama Islam untuk melakukan aksi-
aksi teror. Tidak hanya di Belanda, dengan pembunuhan sineas Belanda 
yang suka brutal, Theo van Gogh, tahun 2004, tapi juga berturut-
turut di Istanbul, Turki, tahun 2003, lalu bom kereta api di Madrid, 
Spanyol, tahun 2004 dan bom metro di London, Inggris, tahun 2005.

Tentu saja, ini bukan soal agama semata, melainkan soal sejarah, 
soal politik, soal ekonomi dan soal mengkaji sosiologi minoritas di 
Eropa. Salah satu kajian menarik adalah buku "Globalized Islam" 
karya sosiolog Prancis Oliver Roy. Dia berpendapat bahwa 
radikalisasi Muslim di Eropa terjadi akibat kegagalan akulturasi 
yang akhirnya membuahkan upaya pencarian spiritual, yaitu mencari 
apa yang mereka sebut "Islam sejati".

Mencari 'Islam sejati'

Teori Oliver Roy menarik karena dia menyelami berbagai sisi: sisi 
akar budaya asal sang migran, sisi kehidupannya di Eropa dan sisi 
spiritual. Perhatikan, kasus van Gogh. Si pembunuhnya, Mohammad 
Bouyeri, menulis puisi, antara lain, begini:Hij geeft je de tuin in 
plaats van het aardse puin. Artinya, dalam terjemahan bebas 
saya, "sebenarnya, anugerah Allah bagimu adalah sebuah taman, untuk 
menggantikan ambur adul dunia ini". 

Ini menunjukkan betapa Bouyeri menggambarkan kehidupan minoritas 
sejenis dirinya di Belanda ini sebagai kehidupan yang buruk dan 
cemar, padahal Bouyeri memimpikan sang taman yang dijanjikan Tuhan. 
Inilah rupanya proyeksi impian yang akhirnya diungkapkannya dengan 
suatu perbuatan keji yaitu pembunuhan van Gogh itu.

Beberapa minggu setelah Theo van Gogh terbunuh, saya menulis dalam 
kolom Mingguan TEMPO "Ekstremis Muslim seperti M. Bouyeri suka roti 
McDonald asalkan halal, tapi tak doyan kue Mediterania. Islam, bagi 
keluarga Maroko-Berber seperti Bouyeri, adalah peradaban, tapi 
Bouyeri yunior yang lahir, dibesarkan dan terintegrasi di Belanda, 
mencemoohkan versi Islam yang dihayati ayah-ibunya..." 

"Bouyeri (yunior) dan sejenisnya terkejut campur kagum terhadap para 
pelaku "martir" (syahid) 11 September 2001, mereka marah terhadap 
situasi Irak, Timur Tengah, risau tentang dunia Islam, dan merasa 
terpojok di Eropa. Tercerabut dari akar-budaya cikal-bakalnya.., 
mereka menjadi manusia-manusia yang "re-born", mengaku "lahir-
kembali" untuk mencari apa yang mereka khayalkan sebagai "Islam 
Sejati", dan kemudian menemukannya dalam "perjuangan" - semacam 
Osama bin Ladin menemukannya di Afghanistan."

Jadi, kasus van Gogh adalah hak asasi kebebasan berekspresi yang 
dihajar oleh kekerasan atas nama sebuah "pencarian dan perjuangan 
religius" ketika hak itu diyakini telah menghujat nilai-nilai agama 
tsb.

Berjati diri ganda

Namun, kasus karikatur Nabi Mohamad s.a.w. dalam koran Denmark 
Jylland-Posten belum lama lalu membuat saya meninggalkan pendekatan 
gaya Olliver Roy. 

Dalam sebuah demonstrasi di Lapangan Dam di Amsterdam saya menemukan 
dimensi yang lain. Para demonstran muda asal Maroko itu, amat marah. 
Saya paham, mereka, sebagai Muslimin, marah menyaksikan perendahan 
martabat Rasul. Tetapi, mereka berada dalam dunia yang menjepit 
mereka. Bukan sekadar migran di antara tiga dunia, dunia asal, dunia 
kini dan dunia nanti, seperti dikesankan oleh Oliver Roy.

Para migran Maroko ini benar-benar merasa diri mereka berjati-diri 
ganda. Mereka merasa diri mereka adalah Belanda sekaligus Maroko. 
Mereka mencari solusi di tangah penghinaan dan tata hidup di Eropa, 
dalam hal ini, Belanda. 

Mereka mencari kunci yang pas; bukan sekadar memimpikan dunia nanti, 
seperti "Anugerah Tuhan" khayalan Bouyeri, melainkan solusi yang 
nyata dan adil di dunia ini. Rupanya mereka merasakan tata hukum 
negara sekuler di Belanda sebagai sesuatu yang layak mereka hormati, 
tetapi sekaligus tidak memberi ruang kepada perasaan keadilan mereka 
ketika agama dan Rasul mereka dihujat.

Inilah yang sebenarnya harus dipahami oleh para petinggi Belanda 
seperti Menteri Urusan Orang Asing dan Integrasi, Rita Verdonk. 
Apalagi, para demonstran Maroko itu bukan warga Belanda yang 100 
persen asing, melainkan mencari modus integrasi yang pas. 

Minoritas bermental mayoritas

Nah, modus integrasi yang pas itulah yang kini, pada dasarnya, juga 
menjadi persoalan di Indonesia – yaitu di balik kontroversi soal 
pornografi. Dalam sebuah seminar di Amsterdam yang digelar oleh para 
peminat Kajian Timur Tengah dan Islam, dan penerbit Majalah ZenZem 
(ZemZem adalah nama air suci di Mekkah) baru-baru ini, saya 
kemukakan kesan terjadinya pencarian modus oleh sementara kelompok 
Islam-politik Indonesia untuk menerapkan nilai-nilai Syariah Islam 
ke dalam kehidupan bermasyarakat.

Modus inilah rupanya ditemukan dengan cara menciptakan perda, 
peraturan daerah, bagi perilaku yang dianggap melanggar tata susila. 

Modus juga dicari di tingkat nasional dengan menyiapkan rancangan 
undang-undang anti pornografi dan pornoaksi. Mereka benar bahwa soal 
porno yang gila-gilaan itu harus ditangkal dan cekal. Namun RUU-APP 
tsb tidaklah pas bagi sebuah negara yang telah disepakati sebagai 
negara Pancasila yang ber-Bhinneka-Tunggal-Ika.

Yang menarik, bukankah upaya serupa itu juga pernah diperjuangkan 
dengan menambahkan tujuh kata Piagam Jakarta dalam UUD-45, namun 
para Bapak Pendiri republik ini akhirnya sepakat untuk 
menanggalkannya. 

Jadi, para pendiri Republik, termasuk yang pro-Piaga Jakarta itu, 
rupanya mampu bersikap canggih untuk bersepakat menemukan modus yang 
pas bagi kehidupan kehidupan bernegara sebuah republik baru.

Saya ingat salah satu pakar kajian Indonesia asal Belanda alm. Prof. 
W.F. Wertheim melihat upaya Piagam Jakarta tsb sebagai 
gaya "mayoritas yang berperilaku seperti minoritas", artinya 
mayoritas Indonesia yang secara nominal Muslim itu bersikap seolah 
mereka adalah minoritas, karena ideal yang mereka perjuangkan adalah 
ideal minoritas.

Rupanya setelah enam dasawarsa, bandul jam republik ini kembali ke 
tahun 1945. Tetapi, bentuk bentuknya berbeda. 

Guru Besar Kajian Perbandingan Masyarakat Islam di Universitas 
Utrecht, Prof. Martin van Bruinessen dalam majalah ZemZem juga 
mencatat gejala gejala perilaku minoritas di dalam kehidupan 
Muslimin Indonesia, dalam artikelnya yang berjudul "Arabisering van 
de Indonesische Islam?" (Arabisasi Islam Indonesia?).

Jadi, rupanya kita sudah lupa kecanggihan para pendiri Republik pada 
1945 itu. Kita lupa pokok seperti "mengIndonesiakan Islam" dan 
sejenisnya, yang pernah dikemukakan Gus Dur dan alm. Nurcholisch 
Madjid.

Maka dalam seminar ZemZem tadi, saya simpulkan, kini, Islam-politik 
bukan lagi "mayoritas bermental minoritas", melainkan berubah jadi 
terbalik: "minoritas bermental mayoritas", karena kelompok pro 
Syariah ini berilusi seolah-olah mereka adalah mayoritas Muslimin.

http://www.ranesi.nl/tema/budaya/islam_mayor_minor060324







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke