"Berbagi Suami", dunia perempuan yang tidak hitam-putih
  Oleh Ninuk Mardiana Pambudy
  
Ketika persoalan yang kerap dibincangkan di masyarakat diangkat ke   layar 
lebar, muncul pertanyaan pesan apakah yang disampaikan film   tersebut kepada 
penonton.    Berbagi Suami arahan sutradara Nia Dinata yang mulai tayang di   
bioskop- bioskop berbagai kota di Indonesia sejak Kamis (23/3) lalu   
mengangkat persoalan yang sangat aktual: dilema keluarga yang   suaminya 
berpoligami.    Melalui cerita tiga perempuan: Salma, Siti, dan Ming, kita 
dibawa   mengikuti kehidupan tiga keluarga lintas etnis, dari tiga generasi,   
dan tiga kelas sosial berbeda.    Salma (diperankan Jajang C Noer), berusia 
50-an tahun, mewakili etnis   Betawi, seorang dokter kandungan bersuamikan Pak 
Haji (El Manik) yang   pengusaha sukses dan kaya. Siti (Shanty), berusia hampir 
30 tahun,   dari desa di Jawa datang ke Jakarta diajak pak lik (paman)- nya   
(Lukman Sardi) karena ingin melanjutkan pendidikan. Sedangkan Ming   (Dominique 
A Diyose) baru berusia 19 tahun dan bekerja sebagai   pelayan di warung bebek
 panggang Koh Abun (Tio Pakusadewo).    Cerita dimulai dari kisah Salma yang 
beranak satu, Nadim (Winky   Wiryawan, saat Nadim dewasa). Kejutan pertama dia 
terima ketika Pak   Haji mengajaknya meluncurkan perusahaan real estat bernama 
Salma   Lestari. Di tengah acara, lampu padam dan terdengar suara anak   
perempuan mencari ayahnya. Ketika menyala kembali, Pak Haji sudah   menggendong 
anak perempuan yang datang ke acara itu bersama ibunya,   Indri (Nungki 
Kusumastuti).    Potret kedua adalah keluarga Pak Lik, sopir perusahaan rumah 
produksi   yang punya dua istri, Mbak Sri (Ria Irawan) dan Mbak Dwi (Rieke Dyah 
  Pitaloka), serta lima anak. Pak Lik ternyata membawa Siti ke rumah   Sri 
untuk memperkenalkan Siti kepada dua istrinya, sebab dia ingin   beristri lagi. 
   Kisah Ming diawali ketika dia menjadi kembang di warung Koh Abun dan   
istrinya, Cik Linda (Ira Maya Sopha). Ming yang muda dan cantik   menarik 
banyak pelanggan laki-laki muda usia, termasuk calon   sutradara, Firman
 (Reuben Elishama). Koh Abun yang kaku rupanya juga   tertarik pada Ming dan 
memintanya menjadi istrinya, walaupun agamanya   sebetulnya melarang poligami.  
  Aktual    Kekuatan film ini adalah pada tema ceritanya yang aktual serta   
kefasihan Nia sebagai sutradara dan penulis skenario menangkap   konflik yang 
terjadi di dalam tiap individu yang terlibat dan   memadukan cerita tiga 
perempuan itu dalam berbagai perjalanan   kehidupan. Nia juga mampu mengarahkan 
pemain "baru", seperti Shanty   dan Dominique, untuk tidak canggung memerankan 
tokoh mereka. Meskipun   digambarkan secara satire, kegetiran muncul dari 
kalimat dan pilihan   adegan.    Istri ketiga Pak Haji, Ima (Atiqah Hasiholan), 
bertemu dengan Salma   dan Indri justru di rumah sakit ketika Pak Haji 
terserang   stroke. "Cita-cita Abah semua istrinya berkumpul akhirnya 
terkabul,"   kata Nadim kepada Salma saat menunggui Pak Haji di rumah sakit. 
Atau   pertanyaan Salma ketika suaminya menemui dia di tempat berlatih   berkuda
 dengan membawa Icha, anak dari Indri. "Hai Icha," sapa Salma   pada Icha. 
"Ibunya tidak diajak sekalian?" tanya Salma menyindir Pak   Haji.    Meskipun 
tak senang dipoligami, Salma, yang digambarkan mandiri dalam   karier, menerima 
kehadiran istri-istri suaminya yang berpoligami   dengan alasan menghindari 
zina.    Siti yang lugu, bingung ketika Sri dan Dwi justru mendesaknya   
menerima pinangan dari Pak Lik. Siti yang malu dan jijik pada Pak Lik   tak 
berdaya saat Pak Lik meminta dilayani hasratnya setelah dengan   berurai air 
mata Siti menjalani pernikahannya. Meskipun tidak   dikatakan terbuka dan tidak 
memprotes, Siti menyadari dirinya   kemungkinan tertular penyakit akibat 
hubungan seksual dari Pak Lik   setelah dokter mengatakan Sri mengalami infeksi 
di alat reproduksinya.    Begitu juga Ming, yang meskipun tidak ingin 
mengikatkan diri pada   orang lain, tetap merasa sulit membagi Koh Abun yang 
perlahan dia   sayangi dengan Cik Linda. Ming yang berambisi menjadi pemain film
 itu   bersedia menerima pinangan Koh Abun menjadi istri simpanan asal   diberi 
rumah dan mobil.    Cara penuturan di mana tiap sosok yang memiliki kisah 
hidupnya   sendiri tetapi bertemu melalui perjalanan hidup masing-masing bukan  
 hal baru. Crash misalnya, menggunakan cara ini. Berbagi Suami tidak   kalah 
piawai menggambarkan pertemuan itu.    Salma dan Pak Haji ternyata pelanggan 
bebek panggang Koh Abun, dan   Salma pula yang membantu mengobati infeksi di 
organ reproduksi Mbak   Sri yang datang ke klinik diantar Siti. Ming yang 
tengah menuju rumah   kontrakan setelah diusir anak-anak Koh Abun berpapasan di 
gang dengan   Dwi dan Siti yang kabur dari Pak Lik.    Untuk menggambarkan 
waktu kejadian, Nia memanfaatkan peristiwa   tsunami yang menimpa Aceh pada 26 
Desember 2004 sebagai salah satu   latar cerita. Nia juga dengan fasih 
berpindah dari satu latar   belakang sosial ke latar yang lain. Dari rumah 
mewah dan klasik Pak   Haji, ke rumah sempit di gang milik Sri, lalu ke warung
 bebek dan   apartemen Ming yang bergaya kontemporer.    Tidak satu    Lepas 
dari kekurangan kecil, seperti sedikitnya tamu pada acara   peluncuran 
perusahaan Salma Lestari, Ming yang menggunakan kawat   gigi, atau Salma yang 
tas dokternya terus terlihat baru, film ini   berhasil menggambarkan bahwa 
perempuan tidak satu dan dunia mereka   tidak hitam-putih. Ini menunjukkan Nia 
secara serius meriset tema   film ini.    Ada Salma yang terus berusaha 
menerima kehadiran istri-istri Pak Haji   dan membenarkan pilihan hidupnya 
dengan alasan agama, meskipun   akhirnya dia berontak dengan menolak menemani 
Pak Haji mengirim   bantuan ke Aceh. Bahkan Ima yang lebih cocok jadi anak Pak 
Haji itu   ternyata seorang aktivis.    Lalu Sri yang begitu bersemangat 
membagi suaminya dengan Dwi dan Siti   dan mereka bertiga saling menyayangi, 
meskipun ternyata di antara   Siti dan Dwi tumbuh kasih sayang satu sama lain. 
Motivasi Santi,   istri keempat Pak Lik, menikah adalah supaya bisa diajak ke
 Jakarta,   sedangkan Ming meskipun mau menjadi istri gelap Koh Abun berambisi  
 mengejar cita-citanya bermain film dan sehebat aktris pujaannya, Gong   Li dan 
Zhang Ziyi.    Meskipun demikian, akhir film ini tidak tegas mengambil sikap   
mengenai tema film ini sendiri. Tetapi, ini adalah pilihan   Nia. "Melalui film 
ini, aku ingin membuka wacana mengenai poligami   dengan menggambarkan 
kehidupan tiga perempuan itu. Selebihnya, aku   serahkan penonton untuk membuat 
penilaian."  

Kompas, 26 Maret 2006

  http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0603/26/utama/2541109.htm  



Click:

http://www.mediacare.biz

or

http://mediacare.blogspot.com

or 

http://indonesiana.multiply.com

Mailing List: http://www.yahoogroups.com/group/mediacare/join
                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2ยข/min or less.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke