http://www.indomedia.com/bpost/032006/27/opini/opini2.htm


Budaya Birokrasi Dan Politik

Oleh: HM Thamrin Asan



Max Weber dalam pandangannya tentang perbedaan budaya 
birokrasi dan budaya politik adalah: Seorang politikus tidak puas untuk 
mempengaruhi saja jalannya pemerintahan itu, tetapi sedapat mungkin ia ingin 
menguasai atau memegang sendiri pemerintahan itu agar ia dapat secara leluasa 
menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Di bidang pemerintahan yang sudah diatur negara, seorang politikus berusaha 
menggunakan peraturan yang berlaku apabila menguntungkannya. Apabila peraturan 
itu menghambat atau mempersulit tercapainya tujuan yang diinginkan, ia berusaha 
mengubahnya. Sebaliknya di bidang kehidupan masyarakat yang belum sepenuhnya 
diliputi peraturan negara, permainan politik dapat dilakukan dengan lebih 
leluasa. Di bidang inilah seorang politikus dapat bergerak bebas.

Kalau kita melihat pada sifat dan kegiatan seorang birokrat, tampak gambaran 
yang lain. Seorang birokrat adalah anggota suatu birokrasi yang merupakan suatu 
organisasi, dengan tugas melaksanakan kebijaksanaan (policy) yang ditentukan 
pembuatnya (policy makers). Untuk melaksanakannya diperlukan undang-undang, 
peraturan lain yang berisi petunjuk dan pedoman yang harus diikuti. Agar tugas 
birokrasi dapat dijalankan dengan efisien dan efektif, maka setiap anggotanya 
harus dipilih atas dasar keahlian yang cocok dengan tugas khusus yang menjadi 
tanggung jawabnya. Karena itu, kecakapan dan keahlian perlu dipupuk melewati 
pendidikan dan pelatihan.

Dengan demikian, seorang birokrat hanya dapat bekerja dalam bidang yang sudah 
ada aturannya. Apabila belum ada perturannya, seorang birokrat tidak akan 
merasa dirinya berkompeten untuk melaksanakan tugasnya. Namun tidak dapat 
diingkari, birokrat yang memegang jabatan pimpinan tinggi memiliki banyak 
pengetahuan tentang tugas yang diserahkan kepadanya.

Konsep Birokrasi

Konsep birokrasi dimunculkan oleh M De Gourney. Melalui surat tertanggal 1 Juli 
1764 yang ditulis Baran de Grim, merujuk pada gagasan Gourney yang mengeluh 
tentang pemerintahan yang melayani dirinya sendiri. De Gourney menyebutkan 
kecenderungan itu sebagai penyakit yang disebutnya bureaumania.

Ide tentang birokrasi bukan sesuatu yang baru. Merupakan kekeliruan kalau kita 
mengira konsep ini baru muncul. Keluhan atas pemerintah pun bukan hal baru, 
yaitu setua usia pemerintahan itu sendiri. Juga, prinsip pemerintah harus 
dijalankan orang-orang yang baik dan cakap merupakan ide yang sudah lama 
berkembang di lingkungan filsuf baik Barat maupun Timur.

Machiavelli, misalnya. Dalam nasihatnya kepada pangeran, meminta pangeran 
memilih menteri yang cakap dan menggaji mereka agar mereka tidak mencari 
penghasilan dari sumber lain. Bahkan ide tentang pemerintahan yang efisien, 
sangat akrab di Cina jauh sebelum masehi. Di antaranya ide tentang senioriotas, 
sistem 'merit' statistik resmi dan laporan tertulis dipraktikan secara luas. 
Sementara pada 337 SM, Shen Pu-Hai menulis serangkai prinsip yang sangat erat 
terkait dengan prinsip yang dikembangkan dalam Teori Administrasi abad 20.

Sejak kemunculan gagasan de Gourney, istilah birokrasi diadopsi secara luas 
dalam kamus politik di Eropa selama abad 18. Istilah Perancis Bureaucratie ini, 
dengan cepat diadopsi dalam makna yang sama di Jerman dengan sebutan 
bureaukratie (kemudian menjadi burokratie), di Italia menjadi burocrazia dan 
Inggris menjadi bureaucracy.

Derivasi dari istilah birokrasi juga berkembang secara luar biasa selepas 
periode de Gourney ini. Muncul istilah birokrat, birokratis, birokratisme, 
birokratik, dan birokratisasi.

Kamus Perancis, 1798, mendefinisikan birokrasi sebagai kekuasaan, pengaruh dari 
pemimpin dan staf biro pemerintahan (governmental bureaux). Sedangkan Kamus 
Jerman edisi 1813 merumuskan birokrasi sebagai kewenangan atau kekuasaan, di 
mana aneka departemen pemerintahan dan cabangnya merebutnya dari warga negara 
bagi diri mereka sendiri. Padahal istilah dasarnya adalah bureau artinya meja 
tulis, yang bermakna tempat pejabat bekerja.

Meski demikian, penggunaan awal sekaligus penyebarluasan istilah birokrasi 
justru dilakukan novelis. Balsac, salah seorang yang paling bertanggung jawab 
dan konsisten dalam penyebaran istilah ini lewat novelnya Les Employes (1836). 
Kemudian diadopsi sebagai konsep yang serius oleh Frederic Le Play pada 1864, 
ketika ia membicarakan tentang birokratisme yakni tingkah laku dan sepak 
terjang dari pejabat profesional yang merugikan warga negara. Karenanya, Le 
Play --sosialis besar Perancis-- harus meminta maaf atas penggunaan istilah 
hibrida yang diciptakan dalam novel ringan.

Tema ini (birokratisme) dielaborasi secara mendetil oleh Josef Oldszenki 
(1904), seorang pembela Polandia yang berutang pada pemikiran dalam esai Mohl 
yang banyak membicarakan tentang penyalahgunaan yang dilakukan birokrasi. 
Hingga 1896, birokrasi dalam Kamus Politik Perancis disebutkan berasal dari 
Jerman dan dipopulerkan oleh Balzac.

Konsep birokrasi ini meluas ke Inggris melalui terjemahan karya berbahasa 
Jerman. Karya Gorres 'Germany And The Revolution' (1819) diterjemahkan ke 
Bahasa Inggris dalam dua versi yang berbeda pada 1820. Istilah bureaukratisch 
dihindari untuk diterjemahkan sebagai bureaucratic. Sementara pada terjemahan 
surat perjalanan seorang pangeran (1832) menyebutkan, birokrasi telah 
menggantikan tempat dari aristokrasi dan kemungkinkan besar akan segera menjadi 
sama posisinya. Pada perkembangan selanjutnya, kamus berikutnya mulai 
menyebutkan istilah ini. Spencer, juga mulai menulisnya di bukunya tentang 
birokrasi dengan mengacu pada Prancis.

Mills dalam karyanya Principil Of Political Economy (1848), menepatkan diri 
sebagai penentang dari konsentrasi semua ketrampilan dan pengalaman serta 
kekuasaan dari tindakan yang terorganisasi di tangan manejemen kepentingan yang 
luas. Ia menyebutnya sebagai dominant bureaucracy yang muncul dalam masyarakat 
Inggris.

Mills menegaskan, kecenderungan itu merupakan a main cause of the inferior 
capacity for political life yang menandai karakteristik dari negara yang over 
governed kala itu. Mills, dalam Considerations On Representative Government 
(1861) membandingkan, di luar pemerintahan perwakilan maka bentuk pemerintahan 
yang memiliki keterampilan politik yang tinggi adalah birokrasi. Bahkan 
birokrasi berjalan dengan nama monarchi atau aristokasi sekali pun. Disini 
Mills menggambarkan esensi birokrasi sebagai pemerintahan yang dikendalikan 
oleh mereka yang profesional (governors by profession).

* Pembina Kagama Kalsel, tinggal di Banjarmasin


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke