SUARA KARYA
Survei LSI Tamparan Buat Parpol
Oleh Moh. Yamin
Senin, 3 April 2006
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI)
menunjukkan bahwa kinerja partai politik (parpol) sebagai representasi rakyat
sangat buruk. Kini parpol semakin jauh dari konstituen.
Hasil survei LSI Maret 2006 menunjukkan, hanya 48 persen pemilih
yang menyatakan kinerja parpol sudah baik. Selebihnya, 20 persen menyatakan
buruk dan 24 persen menyatakan tidak tahu dengan kinerja parpol (Suara
Karya,28/3).
Benar atau tidak tesis tersebut, yang jelas opini sebagian
masyarakat kita menyatakan bahwa parpol selama ini jauh dari konstituennya.
Parpol telah menitipkan orang-orangnya di DPR dan di birokrasi pemerintahan.
Namun ternyata mereka hanya menunjukkan sikap politik yang tidak pro rakyat.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Oktober 2005 dan gagalnya hak angket
impor beras adalah bukti riil orang-orang partai tak peduli terhadap nasib
rakyat.
Sudah jelas, parpol tidak bisa memperjuangkan kepentingan, aspirasi
dan kebutuhan rakyat. Kesejahteraan sosial, keamanan dan stabilitas politik
rakyat tidak bisa diperjuangkan oleh parpol di pemerintahan sekarang ini.
Protes rakyat di jalanan, hasil tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang
karut-marut di banyak tempat di Nusantara ini, masalah Blok Cepu dan Freeport
merupakan suatu realitas bahwa rakyat sendiri yang kemudian harus turun tangan
dan turun ke jalan. Rakyat terpaksa turun ke jalan karena parpol diam seribu
kata, ketika pemerintah melahirkan kebijakan yang tidak pro-rakyat.
Dengan perkataan lain, parpol sudah lebih mengedepankan kepentingan
diri dan kelompoknya, yakni bagaimana bisa langgeng di medan kekuasaan. Parpol
dengan realitas demikian itu jelas menyengsara kehidupan rakyat. Parpol sendiri
yang menambah jumlah orang miskin. Parpol sendiri yang menyebarkan virus
kemelaratan rakyat.
Lebih ironis lagi, parpol sudah terlibat jauh dengan orang-orangnya
di elit pemerintahan yang mengeruk habis uang negara. Parpol bersama
personelnya menjadikan kesempatan tersebut -kesempatan duduk di lembaga
legislatif dan lemabaga birokrasi- untuk menumpuk kekayaan sebanyak mungkin,
tanpa memperhatikan kehidupan ekonomi rakyat yang semakin terpuruk sekarang
ini. Orang-orang parpol kini lupa atas jasa rakyat yang telah memilih mereka
menjadi pemimpin dan pejabat. Parpol memanfaatkan kondisi tersebut sebagai
ladang empuk guna menikmati harta negara demi kemakmuran dan kesejahteraan
golongannya sendiri.
Tak salah bila penulis katakan, parpol kini telah menjadi pengancam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Barangkali ungkapan itu ekstrim, tapi
begitulah kenyataannya. Karena itu sangat sulit upaya kita untuk mewujudkan
kemakmuran bersama. Harta negara yang seharusnya diperuntukkan kesejahteraan
rakyat, ternyata dirampok oleh orang-orang parpol yang duduk di DPR, DPRD I,
DPRD II dan pejabat-pejabat pemerintah.
Karena itu, adanya parpol, bahkan banyaknya parpol, tidak identik
dengan banyaknya lembaga atau institusi yang memperjuangkan kesejahteraan
rakyat. Sangat sedikit orang partai yang betul-betul memperjuangkan kepentingan
rakyat. Hanya sedikit orang partai yang mau hidup prihatin, seprihatin
kehidupan rakyatnya. Parpol yang awalnya dibentuk untuk mewakili kepentingan
rakyat ternyata kemudian hanya mewakili kepentingan kelompok dirinya sendiri an
sich. Bahkan tak jarang parpol hanya melampiaskan nafsu politiknya demi
kepentingan golongannya sendiri.
Langkah LSI melakukan penelitian mengenai citra parpol layak
mendapatkan acungan jempol. Kita hanya bisa berharap agar hasil survei LSI bisa
menjadi cambuk bagi parpol guna memperbaiki dan membenahi menajemen parpol,
memacu wakil-wakilnya di lembaga legislatif untuk benar-benar aspirastif dan
memperbaiki kinerja aparat birokrasi. Hasil survei LSI hendaknya bisa merupakan
tamparan politik yang konstruktif buat parpol, bahwa realitas tersebut adalah
satu kenyataan di banyak tubuh partai.
Ada kesan kuat bahwa banyak orang kini melakukan petualangan
politik di parpol. Boleh jadi itu yang menyebabkan perilaku orang-orang parpol
semakin jauh dari idealisme parpol.
Yang mengecewakan, menurut hemat penulis, parpol tak memiliki
kesadaran politik bahwa ia telah banyak berdosa kepada konstituen. Parpol sudah
bergelimang dengan noda dan dosa sosial politik yang destruktif. Ia telah
menghianati amanat konstituen untuk benar-benar memperjuangkan nasib mereka.
Parpol menginjak-injak hak konstituen untuk meminta jasa politiknya karena
telah memilih mereka (orang-orang partai) duduk di kursi pemerintahan.
Kalau parpol masih ingin mendapatkan tempat di hati rakyat, mau
tidak mau dia harus mau mengubah kelakuan-kelakuan politiknya yang buruk
tersebut. Kalau masih ingin dicintai rakyat, maka parpol mau tidak mau harus
bisa mengubah arah perjuangan politiknya yang sangat destruktif dan rakus
kekuasaan menuju arah semula: menjadi alat perjuangan rakyat (konstituen).
Pada mulanya, parpol dibentuk untuk suatu perjuangan suci dan
mulia, yakni mewujudkan cita-cita menuju kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
Ide dasar ini tidak boleh bergeser. Semua elite politik harus menyadari betapa
pentingnya parpol bagi perjuangan rakyat. Semua elite politik harus menyadari
betapa penting dan strategisnya parpol dalam pengembangan demokrasi, amanat
reformasi.
Partai untuk kesejahteraan rakyat, ini cita-cita, ideologi. Parpol
bukanlah sekadar lembaga politik untuk mencari kekuasaan, jabatan dan uang
semata. Sebagai lembaga publik, parpol harus betul-betul diperuntukkan bagi
kepentingan publik. Garis perjuangan parpol adalah tidak diperuntukkan bagi
segelintir orang, melainkan bagi banyak orang, yakni masyarakat yang
diwakilinya.***
Penulis adalah pegiat Perbukuan
FKIP Universitas Islam Malang
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/