--- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > 1. klaim kalah menang gak ada gunanya. sing penting kelihatan dari > argumennya. kalo pake argumen, ini lho ayat tuhan, terus secara operasional gak memungkinkan atau gagal, ya udah, lewat. soalnya yg naamnya argumen kalo gak ada realita, ya jelas masih sama sama awang awang. dan ide ide HTI memang banyak dalam bidang ini. toh ngelesnya gampang, ini keinginan tuhan, dan ini harus dipilih. masalah kapabilitas dan kemungkina pelaksanaan bukan urusan HTI. > > > 2. bagi yg nanya masalah negara lain yg gak ngakui kekhalifahan sudah jauh jauh hari HTI mendukung jihad efensif. kalo khalifah memerintahkan menyerang, ya di serbu lah. soalnya nabi jaman dulu juga pernah main serang tombongan dagang yg melintas (pas perang salib orang kristen juga melakukan yg sama, ini karena masalah kebudayaan jaman itu yg masih memperbolehkan menyerang kapal dagang, kalo dalam hukum perang jaman sekarang ini udah gak boleh lagi). jadi dianalogikan kalo ada daerah yg gak tunduk, ya boleh di serbu. inilah yg dirahasiakan HT selam ini, dibilangnya jalan HT adalah > jalan damai. gimana nih, mbak Aris ??? > > 3. Kalo masalah desentalisasi kekuasaan dan otonomi daerah, HT belum punya konsep. termasuk revisi struktur kenegaraan dari HT yg terbaru. > > salam, > Ari Condro
-------------------- DH: Mungkin sekali, mas Ari dan kawan kawan, apa yang terjadi dengan gaya diskusi mbak Aris dan HTI adalah cara menyoroti sesuatu semata dari sisi yang menyenangkan ataupun mendukung thesis sendiri. jadi bukan gaya dialektis: thesis, antithesis sampai pada synthesis. Seperti kita ketahui dari penelitian sejarah, tak ada satu system kenegaraan apapun yang a. langgeng, b, selalu dapat diulangi apalagi ratusan/ribuan tahun kemudian, dan c. tak bercacat. Demikian pula dengan kekuasaan, dan perluasan kekuasaan ke wilayah lain. Apakah ini pure kekuasaan seperti Dschengis Khan, ataupun perluasan ideologi keagamaan seperti Kristianisasi benua Amerika, dan perluasan iedologi komunisme ke Eropa timur pasca PD II. Tak mungkin tanpa kekerasan. Demikian juga perluasan Islam dan wilayah kekhalifatan. Kalau perlu dengan kekerasan. Gaya diskusi mbak Aris yang sering berputar melingkari thesis yang diperdebatkan mungkin menyenangkan bagi mbak Aris sendiri, namun, tak membawa penjelasan bagi publik, bagaimana idee yang ditawarkan itu akan berfungsi. Kita sendiri mempunyai bukti hidup yang menarik mengenai upaya penterapan SI: Aceh. Disini kita dapat analisa dengan tajam, tanpa emosi, dimanakah propinsi ini berkat SI beda dari propinsi lain yang masih "gelap gulita". Disini akan kita buktikan, bahwa system SI akan automatis menghasilkan pemimpin pemimpin yang diridhai sang Pencipta. Yang utama, adalah kejujuran akademis, dalam menilai apapun yang dibahas, menggunakan info yang obeyektif. Dan...analisa selalu harus bebas dari emosi dan mimpi salam danardono *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

