http://www.indomedia.com/bpost/042006/6/opini/opini1.htm

Konflik Jakarta - Canberra Dan Kemandirian Bangsa

Oleh: Asiandi

Hubungan RI dan Australia kembali menghangat, setelah reda dari beberapa 
konflik lain yang sayup-sayup menghilang bak tertiup angin. Menghangatnya 
hubungan ini, kini dilatarbelakangi keputusan pemerintahan Australia yang 
memberikan visa tinggal sementra (temporary protection visa) melalui DIMA 
(Departement of Imigration and Multicultural Australia) kepada 42 dari 43 
pencari suaka asal Papua.

Keputusan Australia ini jelas menimbulkan beragam tanggapan dengan bobot 
masing-masing. Ada yang mengecam dan meminta pemerintah RI memutuskan hubungan 
diplomatik, tapi lebih banyak yang cenderung tidak proaktif pada sikap wait and 
see. Apa pun yang kita tunjukkan atas sikap Australia ini, semua menilai 
keputusan Australia ini tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran ringan atau 
biasa dari sudut pandang politik luar negeri dan hubungan antarbangsa.

Bagi Indonesia, sikap Australia ini dapat diartikan sebagai keinginan kuat 
Australia untuk melakukan campur tangan (intervensi) atas kedaulatan 
(sovereignity) Indonesia. Intervensi suatu bangsa terhadap bangsa lain seperti 
ini, hanya dimungkinkan apabila ada bangsa merasa dirinya lebih berkuasa dan 
digdaya atas bangsa lain.

Tesis ini tak terbantahkan dengan tindakan PM John Howard yang tidak berniat 
untuk meminta maaf atas kekeliruannya, bahkan sebaliknya menegaskan tak akan 
membelokkan hukum negaranya. Australia sungguh-sungguh berani, merasa berkuasa 
dan merasa digdaya.

Hal ini mungkin ada relasinya dengan ketergantungan Indonesia selama ini 
terhadap Australia, yang banyak memberikan bantuan dalam beragam bentuk. 
Bagaimana mungkin Indonesia mampu bersikap tegas terhadap Australia yang hampir 
setiap tahun memberikan beasiswa (scholarship) kepada ratusan anak negeri 
Indonesia, untuk melanjutkan studi di negeri Kanguru ini. Belum lagi 
ketergantungan Indonesia terhadap dana bantuan pembangunan dan kemanusiaan 
dalam jumlah yang tidak sedikit.

Beralih Kuadran

Melihat keberanian Australia yang melakukan intervensi terhadap urusan dalam 
negeri Indonesia, sudah saatnya Indonesia sebagai bangsa yang beradab, 
bermartabat, dan berkemampuan menunjukkan jati diri sebagai bangsa menolak 
campur tangan, tekanan politik, penindasan ekonomi, penjajahan berpikir dan 
segala bentuk penjajahan bangsa lain. Sekaligus agar dapat memberikan warna dan 
watak asli terhadap sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, 
menolak segala bentuk penjajahan (intervensi) sebagaimana amanat Pembukaan UUD 
1945.

Agar mampu mengukuhkan kemandirian sebagai bangsa yang beradab, bermartabat dan 
berkemampuan ini, saatnya pula bangsa ini melenyapkan segala bentuk 
ketergantungannya dengan segenap kemampuannya berupaya menjadi bangsa majikan 
dan pemilik perusahaan bernama Bangsa Indonesia.

Mengacu kepada Cash Flow Quadrant dari Robert T Kiyosaki, saatnya Indonesia 
yang kaya ini beralih dari kuadran kiri seumpama pekerja dan pekerja mandiri 
(employee dan selfemployee), menuju kuadran kanan seumpama penanam modal dan 
pemilik bisnis (investor dan business owner).

Tidak hina memang sebagai bangsa jika kita hanya mampu menjadi bangsa pekerja 
atau pun bangsa pekerja yang mandiri. Namun menjadi bangsa yang berada di 
kuadran kanan akan jauh lebih terhormat dan mulia. Sebab, akan mengantarkan 
bangsa ini kepada bangsa yang memberi bukan yang menerima. Bukankah tangan di 
atas akan lebih baik daripada tangan di bawah.

Petualangan dua dingo

Dingo adalah anjing liar yang hidup di dataran kering dan hutan Australia. 
Pakar tidak begitu jelas mengetahui dari mana asal anjing ini. Namun diyakini, 
merupakan turunan anjing lokal yang dibawa ke Australia lebih 3.500 tahun lalu. 
Secara anatomis, dingo berukuran sedang, kebanyakan pendek, berbulu coklat, 
juga bervariasi dari hitam hingga abu-abu. Bertelinga lebar, matanya tajam dan 
memiliki penciumn sangat tajam. Anjing ini tidak menggonggong tetapi kadang 
meraung, suka berburu sendiri atau dalam kelompok kecil dan paling aktif di 
malam hari (nocturnal). Merupakan pemakan daging (karnivora) yang memakan 
tikus, kanguru, burung, kelinci, kadal, dan hewan ternak. Menelan daging 
sepotong-sepotong. 

Harian Rakyat Merdeka menggambarkan PM Australia John Howard dan Menteri Luar 
Negeri Alexander Downer dengan dingo melalui karikatur yang bertajuk The 
adventure of two dingo [sic]!. Digambarkan, Howard adalah anjing yang dominan 
dengan menggoyangkan badannya ketika mengatakan kepada menteri Downer: "I want 
Papua!! Alex! Coba you mainkan! (Sidney Morning Herald, 30/3).

Karikatur ini adalah satu bentuk protes atas sikap pemerintah Australia, yang 
dengan mudah mengabulkan visa perlindungan sementara (TPV) atas 42 warga Papua 
yang meminta suaka politik. Sikap ini dianggap tindakan liar dua dingo. Dingo, 
anjing yang bertelinga lebar dapat diartikan, petinggi Australia ini 
mendengarkan semua tentang Indonesia. Matanya melihat dengan tajam dan pintar 
mengendus situasi Indonesia agar dapat dimainkan. 

Melalui dingo pula, Australia digambarkan sebagai tidak suka membuat kegaduhan 
dengan mengonggong. Meskipun kini Australia berani meraung agar internasional 
mendengar status gawat darurat di Papua, sehingga nantinya Papua menjadi kasus 
internasional sebagaimana Timor Timur pada 1999. Itulah diinginkan Australia.

Karikatur ini juga dapat diinterpretasi, Australia lebih suka melakukan dirty 
trick-nya sendiri atau bersama-sama dengan induk semangnya AS. Hal ini sejalan 
dengan keyakinan pengamat intelijen Dr AC Manulang di Jakarta, Selasa (28/3), 
sebagaimana diberitakan Suara Merdeka (Rabu, 29/3).

Menurut ia, warga Papua Barat yang mendapatkan suaka itu dibekali uang agar 
memberi pernyataan antipemerintah Indonesia dan tidak adanya kebebasan bagi 
mereka yang terus menerus dikejar aparat TNI dan Polri. Pemerintah Australia 
membayarnya melalui kantor urusan sosial.

"Muncul indikasi, ada peranan Badan Intelijen Amerika Serikat, CIA (Central 
Intelligence Agency) dalam pelarian WNI asal Papua itu. Australia adalah 
perpanjangan tangan Amerika Serikat di Asia Pasifik," tandasnya.

Kalau Indonesia ingin selamat dari mangsa Australia, selayaknya pemerintah 
melakukan tindakan tegas atas kasus suaka politik ini. Sebab, sudah jelas 
Australia tidak peka terhadap konsep hubungan bertetangga dengan damai.

Howard sama sekali tidak ingin membelokkan status hukum yang telah ditetapkan 
di negaranya. Sikapnya konsisten dengan mengatakan, keputusan pemberian visa 
kepada warga Papua tidak akan dirubah. Kepada reporter Sidney Morning Herald 
(Kamis, 30/3), Dengan tegas Howard mengatakan: "This country has great goodwill 
toward Indonesia but we have our own dignity as does Indonesia. We have our own 
rules. We are a sovereign nation and we don't bend the rules. We can't and 
won't bend the rules to any country."

Kalau saja Howard berani bersikap tegas seperti ini --dengan alasan 
kedigdayaan, demi hukum, dan kedaulatan negaranya-- bagaimana mungkin Presiden 
Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tidak memiliki keberanian melakukan tindakan 
yang memberikan efek jera bagi Canberra.

Bantuan Australia selama ini dalam bidang pendidikan atau penanggulangan 
bencana dan lainnya, tidak seharusnya dijadikan beban berat yang menggandoli 
pemerintah dalam mengambil tindakan tegas jika Indonesia masih ingin dianggap 
sebagai bangsa yang bermartabat.

* Alumnus Akper Depkes Banjarbaru Kalsel
e-mail: [EMAIL PROTECTED]




[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke