--- New York Times Orang Papua Berkata, Tanah Ini dan Batuan Bijihnya Adalah Milik Kami Oleh JANE PERLEZ Diterbitkan: 5 April 2006 JAKARTA, Indonesia, 2 April Titus Natkime, 31 tahun, putra seorang kepala suku yang pertama kali bertemu dengan orang-orang Amerika yang menjelajah hutan belantara hampir 50 tahun yang lalu, jelas sangat kecewa terhadap majikannya, sebuah perusahaan pertambangan Amerika, Freeport- McMoRan. Selama bergenerasi-generasi, klan Natime mengklaim pemilikan atas lahan di Papua yang sementara ditambang oleh Freeport lahan yang mengandung salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia. Sekarang saatnya mereka membayar kami, demikian Titus Natkime. Ia menunjukkan sebuah konsep dokumen yang berisi tawaran Freeport: 250.000 dolar Amerika Serikat untuk mendirikan sebuah yayasan bagi klan tersebut, ditambah pembayaran sebesar 100.000 dolar setiap tahun suatu jumlah yang lumayan besar bagi provinsi paling terpencil dan yang penduduknya paling miskin di Indonesia ini. "Kenapa saya harus menerima tawaran itu?", tanya Natkime. Natkime adalah karyawan Departemen Hubungan Pemerintah (Government Relations) perusahaan tersebut, walaupun ia sebenarnya bukanlah seorang yang senang bekerja di tempat itu. "Ini penghinaan." Kalau dibandingkan, menurutnya, Freeport meraup keuntungan berpuluh-puluh juta dolar setiap hari. Akhirnya keluarga Natkime menerima uang tersebut, demikian katanya, tetapi ia berencana untuk menggugat ke pengadilan dan menuntut untuk memperoleh royalti dari keuntungan perusahaan. `Pemberontakan' seperti itu menggejala di Papua yang terus bergelojak, di mana empat orang tewas baru-baru ini dalam suatu rangkaian protes terhadap Freeport. Dan, hal tersebut menunjukkan bahwa keadaan sudah tidak sama lagi seperti dahulu ketika perusahaan-perusahaan multinasional dan pemerintah bersepakat atas konsesi-konsesi di daerah terpencil dengan mengabaikan hak-hak masyarakat setempat. Pada bulan Maret, Citigroup mengangkat soal ini, dengan menyatakan dalam suatu laporan bahwa perusahaan-perusahaan seperti itu tidak bisa lagi mengabaikan isu-isu lingkungan dan sosial. "Dalam beberapa tahun belakangan ini, opini publik yang meluas telah mengakibatkan pembangunan berkelanjutan sebagai suatu pertimbangan bisnis bagi para investor," demikian ditulis laporan tersebut. Mark Logsdon, seorang ahli geokimia, yang telah berkunjung ke kawasan pertambangan Freeport setuju dengan hal tersebut. Perusahaan-perusahaan pertambangan harus menemukan dan benar-benar serius dengan "ada tidaknya persetujuan dari mereka yang didampaki," demikian Logsdon. "Tidak peduli itu di Indonesia, Amerika Latin, atau di Afrika meningkatnya kemampuan untuk berkomunikasi berarti bahwa mengisolasi `koloni-koloni sumberdaya' adalah bagian dari masa lalu." Protes di Papua memberikan suatu contoh tentang apa yang bisa terjadi kalau suatu perusahaan sumberdaya, yang ditopang oleh pemerintah pusat yang tidak populer dan militer yang menggunakan tangan besi, gagal memberikan perhatikan yang serius kepada masyarakat setempat yang hidupnya telah begitu diganggu, dan yang merasa bahwa kekayaan yang di dalam tanah adalah milik mereka, dan bukan milik orang-orang asing. Ada suatu ketika, sulit menemukan suatu tempat seterpencil Papua, di mana para penjelajah Freeport yang pertama bertemu dengan orang-orang Papua yang bersenjatakan busur dan anak panah dan mengenakan koteka cara hidup yang masih ada sampai saat ini. Tetapi, upaya pemerintah untuk terus mengisolasikan permasalahan itu dalam dua tahun belakangan ini pemerintah Indonesia melarang wartawan asing untuk mengunjungi provinsi Papua, dan hanya memberikan izin bagi sejumlah asing wartawan saja jelas tidak mungkin. Pada bulan Maret, ketegangan yang bergejolak lama itu meletus ketika polisi anti huru-hara dan beberapa ratus pemrotes Papua bentrok di Jayapura, ibukota provinsi itu, yang berakibat tiga orang polisi dan seorang perwira Angkatan Udara tewas. Keuntungan Freeport terus membumbung akibat harga emas mencapai titik tertinggi dalam 25 tahun terakhir, melebih nilai 550 dolar per ons. Perusahaan ini, yang markas besarnya berkedudukan di New Orleans, dan bermitra dengan grup Rio Tinto di Australia dalam menambang di Papua, adalah salah satu pembayar pajak terbesar Indonesia, dan status itu sudah lama digenggamnya. Tetapi, orang- orang Papua mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima bagian yang adil dari manfaat langsung dan tidak langsung sebesar 33 miliar dolar Amerika yang diklaim oleh perusahaan itu telah diberikan kepada Indonesia dari tahun 1992 sampai 2004. Kami telah berkali- kali berusaha untuk menghubungi juru bicara perusahaan, Siddharta Moersjid, tetapi tidak berhasil. Sebagai bukti dari pengabaian itu, orang-orang Papua, yang adalah orang-orang asli Melanesia dengan postur yang tegap dan berambut keriting, yang berbeda dengan kebanyakan orang-orang Indonesia keturunan Melayu, menunjuk pada kemajuan kesejahteraan mereka yang relatif lebih lambat dibandingkan bagian- bagian Indonesia yang lain. Dalam situasi yang memburuk sekarang ini, masyarakat setempat yang bermukim di sekitar pertambangan mencemooh klaim Freeport bahwa perusahaan itu telah menghabiskan lebih dari 150 juta dolar dalam program-program pengembangan masyarakat. Sebaliknya, mereka marah karena telah kehilangan harta yang paling berharga: tanah mereka; sistem sungai mereka, yang digunakan sebagai tempat pengelolaan sampah; dan hutan sagu mereka, yang lenyap ditelan 90 mil-persegi sampah tambang, yang terakumulasi dari jumlah sekitar 700,000 ton per hari. Ketidaksenangan masyarakat itu diperburuk oleh kehadiran militer Inodnesia, yang hampir semuanya adalah orang-orang non-Papua, yang seringkali maksud utamanya adalah untuk merebut jatah mereka dari sumberdaya di provinsi itu, yang tidak hanya berasal dari emas dan tembaga tetapi juga kayu. "Freeport disandera oleh hubungannya dengan angkatan bersenjata dan polisi," demikian Agus Sumule, dosen pertanian di Universitas Cenderawasih (sic), perguruan tinggi utama di provinsi itu. "Tidak mungkin Freeport dapat beroperasi tanpa angkatan bersenjata, dan itu terjadi karena hubungan perusahaan itu yang buruk dengan masyarakat setempat." Cengkeraman yang kuat oleh militer ini mengakibatkan tuntutan kemerdekaan di mana-mana, yang membuat para penguasa Indonesia ketakutan, kata Sumule. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa mereka sekarang berada dalam posisi yang sulit. Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono, membenarkan pada bulan Februari tentang adanya pelarangan terhadap para wartawan asing. Menurut Sudarsono, para wartawan asing itu menggunakan standar- standar HAM yang tidak mesti bisa diterapkan di Papua. "Papua adalah isu yang sangat sensitif bagi kami," kata Sudarsono. Sejak awal, hal tersebut juga sensitif bagi Freeport. Contohnya adalah kasus keluarga Natkime itu. Freeport sudah membayar perjalanan Titus Natkime keliling Amerika Serikat, membiayai kursus bahasa Inggrisnya di New Zealand, dan memberikannya sebuah rumah di Jakarta. Dan, untuk lebih membuat Titus membatalkan klaim keluarga besarnya, Freeport memberikan pekerjaan bagi Titus di departemen hubungan pemerintah. Tetapi Titus menuntut lebih banyak, bukan bagi dirinya sendiri, tetapi untuk semua orang Papua. Hal ini sangat berbeda dengan cara yang digunakan perusahaan itu untuk menyogok Tuarek Natkime, ayah Titus, pada tahun 1967. Balfour Darnell, seorang pekerja yang membangun base-camp Freeport yang pertama, menenangkan kecurigaan Tuarek Natkime terhadap orang-orang luar dengan memberikan kepadanya sebuah alat sederhana yang setengahnya berfungsi sebagai palu, dan setengahnya lagi untuk mencabut paku. "Wah, alat itu membuatnya betul-betul senang," demikian Darnell mengomentari Tuarek yang tampak begitu puas, seperti yang dituturkan dalam buku "Grasberg" karya George A. Mealey, seorang mantan petinggi Freeport. "Alat itu membuatnya seperti di langit ketujuh." Dengan janji akan memperoleh beberapa bungkus garam, Tuarek, kepala suku itu, mengatakan bahwa ia akan membuka lokasi untuk tempat pendaratan helikopter perusahaan. "Jadi, kami bubar, dan itulah akhir pertemuan itu," kata Darnell dengan puas. "Kami aman." Sekarang, ketika anak Tuarek Natkime telah lebih berpendidikan, dan lebih mengetahui dunia ini, menjadi tidak jelas seberapa jauh Freeport masih aman.
--- End *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

