Membuang Sampah ke Wajah Kita

Oleh : Asro Kamal Rokan
Sumber Republika


Seorang sahabat baik, yang kini berada di Australia, mengirim pesan
singkat ke telepon genggam saya. Isi pesannya: Bang, saya sedang
menyaksikan televisi-televisi Australia menayangkan wawancara dengan
anak-anak Papua yang baru saja menerima suaka politik dari Australia.

Dalam wawancara itu, lanjut pesan tersebut, anak-anak Papua mengaku
dikejar-kejar tentara Indonesia, orang tua mereka ditembaki dan
dibuang ke laut. Ada yang digantung sampai mati. ''Anak-anak tersebut
menyampaikan pernyataan dengan nada sedih. Saya menduga, anak-anak
itu sengaja diwawancarai untuk menarik simpati pemirsa televisi,
memancing pemirsa menitikkan air matanya,'' tulis sahabat itu.

Selain wawancara tersebut, lanjut pesan singkat itu, televisi juga
menayangkan tempat para penerima suaka politik Papua, yang tergambar
begitu bagus. Anak-anak itu menyatakan terima kasih atas kebaikan
Pemerintah Australia. ''Bang, apa jadinya jika rekaman wawancara itu
akan disebarluaskan ke Papua dan masyarakat internasional membenarkan
informasi sampah itu,'' tulis sahabat tersebut melalui pesan
singkatnya.

Pesan singkat sahabat itu terkonfirmasi melalui pemberitaan sejumlah
kantor berita, termasuk Kantor Berita AS, Associated Pers, Senin
(3/4). Dari Melbourne, pemimpin dari ke-42 warga Papua yang menerima
suaka politik, Herman Wanggai, mengatakan telah terjadi pembantaian
besar-besaran (genosida) di Papua. Lebih 100 ribu orang Papua tewas.
Namun, Wanggai tak menjelaskan kapan dan di mana pembantaian
tersebut. Pers pun tak berupaya menanyakan hal itu. Mereka menerima
saja informasi yang tak jelas tersebut.

Saya berusaha khidmat membaca pesan singkat dan berita tersebut,
meski jantung saya terasa berdetak lebih keras. Ini kebohongan yang
sangat telanjang. Pers Australia tidak saja menelan bulat-bulat
informasi itu tanpa melakukan cek dan cek ulang unsur paling utama
pers jujur dan beradab tetapi juga menyebarluaskan kebencian terhadap
Indonesia.

Dengan kekuasaannya yang besar, pers telah membuat wajah Indonesia
menjadi sangat menakutkan. Wajah pembunuh yang keji, menggantung
orang hingga mati dan membuang mayatnya ke laut. Di sisi lain, mereka
menempatkan wajah Australia yang teramat manis, baik hati, dan
pelindung mereka yang terzalimi. Mereka sedang membelah bambu:
mengangkat belahan satu dengan tangannya, menginjak sebelahnya dengan
kakinya. Yang diinjak itu, kita bangsa besar ini.

Pers Barat, yang telah mengajarkan kepada pers Dunia Timur tentang
etika, demokrasi, kebebasan, kejujuran dan bahkan belakangan ini
mengampanyekan peace journalism telah membunuh dalil-dalil yang
selama ini mereka jadikan sebagai kitab suci.

Sembilan Elemen Jurnalisme, yang ditulis Bill Kovach dan Tom
Rosenstall kemudian disebarluaskan Kedutaan Amerika Serikat ke
seluruh media massa Indonesia menjadi tidak berati ketika pers itu
diselimuti kebencian dan agenda politik. Bagaimana pers Australia itu
menempatkan elemen penting jurnalisme ini: kewajiban pertama
jurnalisme adalah pada kebenaran; intisari jurnalisme adalah disiplin
dalam verifikasi; pers harus menjaga independensi terhadap sumber
berita; dan harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional.
Pers Australia dengan agenda politiknya, sedang membuang sampah ke
wajah kita (dan sebagian kita mengatakan itulah kebebasan yang harus
dihormati).

Begitu selalu kita: mudah terpesona, mudah menerima kebohongan
sebagai kebenaran, tanpa kita sadar bahwa mereka telah menjadikan
Tanah Air kita sebagai keranjang sampah, kotor dan busuk. Dan, kita
senyum saja.

Mansyur Alkatiri
CORDOVA Bookstore Online
www.cordova-bookstore.com
www.cordova-bookstore.com/maduarab.htm
  ----------

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.289 / Virus Database: 265.0.0 - Release Date: 08-11-2004


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke