13 Apr 2006 07:35 WIB

eramuslim - Invasi AS ke Irak membawa rakyat negeri 1001 malam itu ke 
dalam kehidupan yang penuh nestapa. Banyak rakyat Irak yang terpaksa 
merampok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, selain itu banyak rakyat 
Irak yang menderita gangguan mental akibat trauma perang 
berkepanjangan di negeri itu.

Tiga tahun setelah invasi ilegal AS ke Irak, kekerasan, 
ketidakstabilan keamanan dan kekacauan jumlah pasien sakit jiwa yang 
menghuni Al-Rashad Mental Institute terus bertambah, seiring dengan 
pertambahan ratusan pasien yang menderita trauma. Sedikitnya ada 800 
pasien yang membutuhkan terapi pemulihan mental.

"Dulu, Saddam menyiksa kami dan kemudian Bush (Presiden AS George W. 
Bush) mengirim tentaranya untuk menyiksa kami, dan sekarang ayah saya 
menyiksa saya. Saya sudah tidak tahan lagi," begitu ungkapan seorang 
pasien pada dr. Ali Farhan, direktur Al-Rashad. Pasien itu dipukul 
ayahnya karena ketidakstabilan perilaku dan tindak kekerasan yang 
kerap dilakukannya.

Farhan menyatakan, "Setelah tiga tahun invasi di Irak, seluruh Irak 
butuh terapi. Situasinya menjadi tidak terkendali. Pemandangan akan 
pertumpahan darah di jalan pada siang hari dan di televisi pada malam 
hari membuat orang jadi 'gila'."

Al-Rashad yang terletak di pinggiran kota Sadr berusaha untuk 
menyaring sebanyak mungkin latar belakang kekerasan yang setiap hari 
terjadi di kota Baghdad. Di tampat pemulihan itu, televisi yang 
diletakkan di bangsal-bangsal harus dilindungi dengan jeruji besi. 
Program acara yang diperlihatkan juga terbatas pada program acara 
musik Irak dan Arab.

"Kami tidak memperlihatkan siaran berita karena semua kekerasan yang 
terjadi di negeri ini tidak banyak menolong dalam proses penyembuhan," 
ujar Farhan.

Al-Rashad merupakan tempat pemulihan pasien penyakit jiwa terbesar di 
Irak. Didirkan pada 1950 dan awalnya tempat perawatan bagi para pasien 
yang menderita paranoid Schizophrenic yang tidak bisa lagi berfungsi 
di masyarakat. Setelah rejim Saddam Husain tumbang, pasukan AS 
mengobrak-abrik rumah sakit ini, empat orang wanita diperkosa dan para 
pasiennya banyak yang kabur. Rumah sakit itu kemudian dikelola 
kembali, dan setelah tiga tahun invasi AS pasiennya yang dulu kabur 
banyak yang kembali bersama dengan pasien-pasien baru.

"Banyak warga Irak yang mengalami depresi. Mereka mengalami itu pada 
saat pemerintahan rejim Saddam Hussein yang penuh darah dan sekarang 
depresi itu berubah menjadi gangguan syaraf akibat penderitaan yang 
mereka alami sehari-hari," sambung Farhan.

Kompleks rumah sakit itu terbagi menjadi dua, satu bagian untuk pasien 
laki-laki dan bagian lain untuk pasien wanita. Rumah sakit tersebut 
memiliki taman yang sangat luas di mana sekitar 1.000 pasien bisa 
bebas berkeliaran.

Di barak-barak pasien yang panjang dengan lantai keabu-abuan namun 
nampak bersih itu, para pasien nampak duduk-duduk di sudut-sudut 
sambil menghisap rokok dengan pandangan mata kosong.

"Saya melihat seorang laki-laki dibunuh di depan mata saya. Saya 
ketakutan dan saya pikir dia adalah abang saya yang ditembak. Kemudian 
saya menemukan diri saya di rumah sakit ini," kata seorang pasien yang 
berprofesi sebagai ahli geologi bernama Khalid Tuma.

Dr. Fadel, salah satu dari delapan dokter yang merawat para pasien 
mengatakan, rumah sakitnya menerima dua tipe pasien, yaitu pasien yang 
menderita persoalan psikologis dan pasien yang mengalami gangguan 
mental parah.

"Mereka yang mengalami masalah psikologis lebih mudah ditangani, tapi 
mereka yang secara mental tidak stabil, lebih sulit," kata Fadel.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Association of Psychologist selama 4 
bulan di Irak dan hasilnya dirilis bulan Februari lalu menyebutkan, 92 
persen dari 1.000 anak yang disurvei mengalami kesulitan belajar. 
Kesulitan belajar ini terkait dengan situasi yang menimbulkan 
ketakutan dan ketidakamanan di Irak.

Upaya pemulihan mengalami hambatan, karena persepsi di kalangan 
masyarakat Irak seperti juga masyarakat dunia pada umumnya yang 
beranggapan bahwa rumah sakit jiwa hanya untuk merawat orang-orang 
gila.

"Banyak pasien yang tidak mau datang ke rumah sakit. Kebanyakan para 
keluarga membawa anak-anak mereka ke seorang syeikh dan menjalani 
pengobatan tradisional. Mereka pikir gangguan setan yang telah 
menyebabkan sakit itu. Ketika kondisi pasien makin parah, baru dibawa 
ke rumah sakit," papar dr. Fadel.

Hambatan lainnya adalah, seorang dokter bisa menyatakan seorang pasien 
'sembuh' dengan tujuan agar keluarganya tidak membawa kembali pasien 
tersebut. Penyebab lainnya adalah masalah keuangan.

"Secara finansial, mereka tidak mampu berobat kembali. Akibatnya 
banyak pasien sendiri yang kembali ke rumah sakit karena 
ketidakstabilan di luar rumah sakit. Mereka merasa lebih aman di sini,
" kata dr. Raghid Isa.

Untuk menjalankan operasionalnya, rumah sakit ini pernah mendapat 
bantuan dari komite palang merah internasional, namun ketika markas 
palang merah itu dibom pada 2003, Al-Rashad menjalankan operasionalnya 
sendiri.

Menurut dr. Khaldun Faiq, dulu, banyak tenaga dokter asing yang 
membantu rumah sakit itu. Tapi setelah terjadi gelombang penculikan di 
Irak, dokter-dokter itu tidak berani datang lagi. (ln/
middleeastonline)

Sebelumnya:





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke