mau tahu cost perang iraq sampai saat ini, silahkan kunjungi :

http://nationalpriorities.org/index.php?option=com_wrapper&Itemid=182

atau 

http://www.anitaroddick.com

Bush meamng setan besar yang harus dijadikan penjahat perang koboy gia dari 
teksas...

koktanyasih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:    13 Apr 2006 07:35 WIB
 
 eramuslim - Invasi AS ke Irak membawa rakyat negeri 1001 malam itu ke 
 dalam kehidupan yang penuh nestapa. Banyak rakyat Irak yang terpaksa 
 merampok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, selain itu banyak rakyat 
 Irak yang menderita gangguan mental akibat trauma perang 
 berkepanjangan di negeri itu.
 
 Tiga tahun setelah invasi ilegal AS ke Irak, kekerasan, 
 ketidakstabilan keamanan dan kekacauan jumlah pasien sakit jiwa yang 
 menghuni Al-Rashad Mental Institute terus bertambah, seiring dengan 
 pertambahan ratusan pasien yang menderita trauma. Sedikitnya ada 800 
 pasien yang membutuhkan terapi pemulihan mental.
 
 "Dulu, Saddam menyiksa kami dan kemudian Bush (Presiden AS George W. 
 Bush) mengirim tentaranya untuk menyiksa kami, dan sekarang ayah saya 
 menyiksa saya. Saya sudah tidak tahan lagi," begitu ungkapan seorang 
 pasien pada dr. Ali Farhan, direktur Al-Rashad. Pasien itu dipukul 
 ayahnya karena ketidakstabilan perilaku dan tindak kekerasan yang 
 kerap dilakukannya.
 
 Farhan menyatakan, "Setelah tiga tahun invasi di Irak, seluruh Irak 
 butuh terapi. Situasinya menjadi tidak terkendali. Pemandangan akan 
 pertumpahan darah di jalan pada siang hari dan di televisi pada malam 
 hari membuat orang jadi 'gila'."
 
 Al-Rashad yang terletak di pinggiran kota Sadr berusaha untuk 
 menyaring sebanyak mungkin latar belakang kekerasan yang setiap hari 
 terjadi di kota Baghdad. Di tampat pemulihan itu, televisi yang 
 diletakkan di bangsal-bangsal harus dilindungi dengan jeruji besi. 
 Program acara yang diperlihatkan juga terbatas pada program acara 
 musik Irak dan Arab.
 
 "Kami tidak memperlihatkan siaran berita karena semua kekerasan yang 
 terjadi di negeri ini tidak banyak menolong dalam proses penyembuhan," 
 ujar Farhan.
 
 Al-Rashad merupakan tempat pemulihan pasien penyakit jiwa terbesar di 
 Irak. Didirkan pada 1950 dan awalnya tempat perawatan bagi para pasien 
 yang menderita paranoid Schizophrenic yang tidak bisa lagi berfungsi 
 di masyarakat. Setelah rejim Saddam Husain tumbang, pasukan AS 
 mengobrak-abrik rumah sakit ini, empat orang wanita diperkosa dan para 
 pasiennya banyak yang kabur. Rumah sakit itu kemudian dikelola 
 kembali, dan setelah tiga tahun invasi AS pasiennya yang dulu kabur 
 banyak yang kembali bersama dengan pasien-pasien baru.
 
 "Banyak warga Irak yang mengalami depresi. Mereka mengalami itu pada 
 saat pemerintahan rejim Saddam Hussein yang penuh darah dan sekarang 
 depresi itu berubah menjadi gangguan syaraf akibat penderitaan yang 
 mereka alami sehari-hari," sambung Farhan.
 
 Kompleks rumah sakit itu terbagi menjadi dua, satu bagian untuk pasien 
 laki-laki dan bagian lain untuk pasien wanita. Rumah sakit tersebut 
 memiliki taman yang sangat luas di mana sekitar 1.000 pasien bisa 
 bebas berkeliaran.
 
 Di barak-barak pasien yang panjang dengan lantai keabu-abuan namun 
 nampak bersih itu, para pasien nampak duduk-duduk di sudut-sudut 
 sambil menghisap rokok dengan pandangan mata kosong.
 
 "Saya melihat seorang laki-laki dibunuh di depan mata saya. Saya 
 ketakutan dan saya pikir dia adalah abang saya yang ditembak. Kemudian 
 saya menemukan diri saya di rumah sakit ini," kata seorang pasien yang 
 berprofesi sebagai ahli geologi bernama Khalid Tuma.
 
 Dr. Fadel, salah satu dari delapan dokter yang merawat para pasien 
 mengatakan, rumah sakitnya menerima dua tipe pasien, yaitu pasien yang 
 menderita persoalan psikologis dan pasien yang mengalami gangguan 
 mental parah.
 
 "Mereka yang mengalami masalah psikologis lebih mudah ditangani, tapi 
 mereka yang secara mental tidak stabil, lebih sulit," kata Fadel.
 
 Sebuah studi yang dilakukan oleh Association of Psychologist selama 4 
 bulan di Irak dan hasilnya dirilis bulan Februari lalu menyebutkan, 92 
 persen dari 1.000 anak yang disurvei mengalami kesulitan belajar. 
 Kesulitan belajar ini terkait dengan situasi yang menimbulkan 
 ketakutan dan ketidakamanan di Irak.
 
 Upaya pemulihan mengalami hambatan, karena persepsi di kalangan 
 masyarakat Irak seperti juga masyarakat dunia pada umumnya yang 
 beranggapan bahwa rumah sakit jiwa hanya untuk merawat orang-orang 
 gila.
 
 "Banyak pasien yang tidak mau datang ke rumah sakit. Kebanyakan para 
 keluarga membawa anak-anak mereka ke seorang syeikh dan menjalani 
 pengobatan tradisional. Mereka pikir gangguan setan yang telah 
 menyebabkan sakit itu. Ketika kondisi pasien makin parah, baru dibawa 
 ke rumah sakit," papar dr. Fadel.
 
 Hambatan lainnya adalah, seorang dokter bisa menyatakan seorang pasien 
 'sembuh' dengan tujuan agar keluarganya tidak membawa kembali pasien 
 tersebut. Penyebab lainnya adalah masalah keuangan.
 
 "Secara finansial, mereka tidak mampu berobat kembali. Akibatnya 
 banyak pasien sendiri yang kembali ke rumah sakit karena 
 ketidakstabilan di luar rumah sakit. Mereka merasa lebih aman di sini,
 " kata dr. Raghid Isa.
 
 Untuk menjalankan operasionalnya, rumah sakit ini pernah mendapat 
 bantuan dari komite palang merah internasional, namun ketika markas 
 palang merah itu dibom pada 2003, Al-Rashad menjalankan operasionalnya 
 sendiri.
 
 Menurut dr. Khaldun Faiq, dulu, banyak tenaga dokter asing yang 
 membantu rumah sakit itu. Tapi setelah terjadi gelombang penculikan di 
 Irak, dokter-dokter itu tidak berani datang lagi. (ln/
 middleeastonline)
 
 Sebelumnya:
 
 
 
     

  ***************************************************************************
 Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
 ***************************************************************************
 __________________________________________________________________________
 Mohon Perhatian:
 
 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
  

           
      
---------------------------------
   YAHOO! GROUPS LINKS 
 
    
    Visit your group "ppiindia" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 
 
    
---------------------------------
 
 
     

                
---------------------------------
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2ยข/min 
with Yahoo! Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke