Kyai Mbeling

AboeprijadiSantoso                                                   
                                
Pekan silam saya bertanya kepada seorang Kyai apakah dia sudah 
melihat majalah Playboy versi Indonesia. Kyai yang satu ini tidak 
marah. Dia memang bukan macam preman yang langsung naik motor untuk 
berdemo, atau ambil batu untuk melempari lawan bicaranya – seperti 
yang disebut "Front Perusak Indonesia" alias "Fasis Pura-pura 
Islam". 

Tapi, sudahkah Kyai itu melihat-lihat majalah Playboy yang bikin 
heboh itu? Separo tersipu-sipu, dia menjawab. "Wuaah, sayang, kita 
ini sudah bukan boy lagi, .. he, he..". 

Inilah "Kyai Mbeling", begitu citra dan sebutannya. "Mbeling" adalah 
sebuah konsep Jawa yang unik. Maknanya bukan 
sekadar "nakal". "Mbeling" di Jawa Tengah, dari mana Kyai tadi 
berasal, diucapkan dengan nada kasih dan menyayangi, jauh dari 
sesuatu yang dibenci atau menjengkelkan. Di sini, "Mbeling" juga 
bermakna menyimpang dari pola yang baku – jauh dari ortodoksi. Tapi, 
untuk seorang Kyai atau Ustadz, "mbeling" berkonotasi bebas dan 
liberal. 

Nah, Kyai Mbeling yang akrab dijuluki Cak Nun alias Emha Ainun Najib 
ini giat bermasyarakat. Maka pembicaraan kita pun segera bergulir, 
dari kasus Playboy, sampai ke masyarakat Samin, Islam 
berwarna "fasis", sampai Islam liberal.

Masyarakat Samin zaman sekarang, yang sering dikunjungi Emha, 
semakin berkurang jumlahnya. Namun budayanya masih tegar, meski 
erosi mulai merongrong dengan mekarnya generasi baru. Dulu, dan juga 
kini, para petani Samin dan keluarganya yang bertebar di Cepu, 
Rembang dan Bojanagoro di Pantura, suka menjauh dari dunia luar, 
khususnya dari lembaga kuasa yang menggerayangi kehidupan desa. 
Mereka-lah sebenarnya kelompok pertama penentang kolonialisme 
Belanda dengan membelot pajak. Sebab Belanda menghujani masyarakat 
petani dengan berbagai pajak, dari pajak tanah, sampai pajak pohon 
kelapa, pajak palawija dsb. 

Tapi Saminisme utamanya anti negara. Bukan dalam artian anarkhisme 
Eropa Abad IX gaya Michail Bakunin, yang menekankan antithesis 
terhadap wewenang dan lembaga negara, melainkan sedikit mirip 
anarkhismenya rekan Bakunin, Proudhon. Kalau Karl Marx berpostulat 
bahwa hak milik itu adalah sendi dasar kapitalisme, maka Proudhon 
berpendapat hak milik itu adalah "hasil curian" negara terhadap 
warga. 

Saminisme pun beranggapan serupa. Meski tak punya Nabi, fisuf atau 
pendekar, tapi pendirian mereka jelas. Mereka melawan pajak karena 
menganggap harta milik mereka adalah sepenuhnya milik mereka, tak 
boleh diusik orang atau lembaga di luar mereka. 

Nah "proudhonisme"-nya para Saminis inilah yang membuat mereka alot, 
tegar, gigih, tapi damai. Berbeda dengan petani Jawa lainnya yang 
budayanya rapuh, mereka konsisten dalam perlawanan mereka - 
termasuk, menurut Emha, dalam protes terhadap proyek raksasa minyak 
Exxon di Cepu. Banyak anggota masyarakat menyambut proyek Blok Cepu 
karena mengharap peluang kerja, tapi kalangan Samin tetap membelot, 
mereka "atos" (keras), simpul peneliti kasus Blok Cepu, George 
Aditjondro.

Saminisme juga menjauhi segala ideologi mapan. Tidak hanya negara 
mapan, tapi juga doktrin agama mapan dijauhinya. Mereka menjauhi 
Islam dan Islam politik. Tak suka diorganisir oleh orang lain, tapi 
juga tak suka mengorganisir diri. Para peneliti mecatat bahwa partai 
partai seperti PNI, NU, bahkan PKI gagal merangkul para "proudhonis" 
dari pesisir Jawa itu. Dan di masa Orde Baru, mereka ini "golput".

Satu hal membuat Emha alias Kyai Mbeling angkat topi. Persaudaraan, 
kesetiakawanan dan kemandirian para Saminis itu kuat. Mereka tak mau 
dibantu. Disumbang dana pun menolak. Tapi kalau Anda di tengah 
mereka, Anda harus berjabat tangan dengan semuanya satu per satu, 
termasuk kepada anak-anak balita keluarga-keluarga Samin. Ini 
menarik, sebab di Jawa umumnya anak kecil diremehkan dan tidak 
diperkenalkan kepada tamu. 

Esensinya, para Saminis-proudhonis ini insyaf sekali akan hak hak 
perorangan-nya. Adnan Buyung Nasution tak perlu banyak berkoar soal 
HAM di depan mereka. 

Kaum santri, sebutlah para Muslimin yang kental, di mata Saminis, 
sudah meloncat, yaitu meloncat dari landasan sistim nilai di Jawa. 
Tapi, di mata Emha, di sini, kaum Saminis ini malah "lebih dewasa". 
Saminis amat sadar keindividuan dan kemanusiaan mereka. Artinya, 
mereka pun menyadari keragaman dan lebih toleran. 

Tapi, paling menakjubkan, kaum Saminis ini tak suka menuding, mencap 
dan menuduh. "Jadi," ujar Emha, "mereka tak pernah mengklaim dan 
menyisihkan orang lain…"

"Mereka mirip Jamaah Tabliq di Pakistan", yang menurut 
Emha, "sifatnya internasional, menjelajahi Australia dan Amerika. 
Suka keliling ke mana mana, namun (para Tabliq ini) 
mengkonsentrasikan diri pada dua hal, "tidak menyakiti orang lain 
dan beribadah kepada Tuhan. Itu tok!" Malah, perihal ibadah itu, 
Jamaah Tabliq pun tidak mengharuskan orang di luar mereka untuk 
mengikuti tafsir dan ritual mereka. Yang penting mengajak orang 
beribadah serta menolak empat tema: tak mau berbicara tentang 
politik, tentang dana, tak mau berdebat, dan tak mau berbicara 
tentang wanita." 

"Waah, kalau soal terakhir ini, saya nggak ikut-ikut deh," tukas 
Kyai Mbeling  terkekeh-kekeh.

Berbicara mengenai kemelut Playboy dan RUU Porno, Kyayi Mbeling 
mencatat, "pokoknya, saya merasa lebih aman dengan kaum Jemaah 
Tabliq ini dari pada dengan teman teman Islam yang agak fasis."

"Islam yang fasistik," lanjut Emha, "adalah mereka yang tidak tahu 
bahwa di dunia ini ada tafsir sebanyak ummat manusia itu sendiri. 
Jadi, di Indonesia, Islam itu ada Nadhatul Ulama, Muhammadyah, 
Ikhwanul Muslim, Hizbut Tahrir, Islam Liberal, dan segala macem".
Hakekat demokrasi agama adalah pengakuan keberagaman itu. 
Artinya "orang boleh menafsirkan sendiri, dan menjalankan tafsir 
itu," tandas Emha.

Gus Dur, alias Abdurrachman Wahid, belakangan ini baru baru ini juga 
memper-kaya khasanah Islam dan tafsir Islam. Usai nonton wayang, dia 
ngobrol panjang lebar dengan sang dalang, dan menyimpulkan, saya 
kutip, "sekarang saya baru sadar, sebenarnya, Kejawen (kepercayaan 
Jawa) sebenarnya adalah salah satu bentuk Islam.

"Mbeling" bukan monopoli Cak Nun dan Gus Dur. Ada keragaman yang 
diakui dan dihormati banyak kalangan, termasuk kalangan Muslim. 

Pengakuan itulah yang dimaksud oleh orang-orang semacam Kyayi 
Mbeling dengan "Islam Mbeling" yang jauh dari ortodoksi … - yang 
pasti, jauh dari front-front yang bermotor dan bersenjata batu …

Sumber: digubah dari Kolom Ahad Radio Nederland, 06-04-14







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke