ini dia wawancara ansyaad mbai setelah bom
meledak di kuta dan jimbaran.

antara lain ia menyinggung tentang:
1. ancaman membunuh ulil
2. kotbah berisi kebencian
3. ikatan perkawinan dalam jaringan jamaah islamiyah



Ansyaad Mbai:

Keliru Kalau Hanya Jamaah Islamiyah Saja

TERORIS kembali beraksi. Mereka meledakkan bom yang menewaskan 22 orang di 
Jimbaran dan Kuta, Bali. Tudingan mengarah kepada intelijen yang dianggap 
kecolongan. Aparat telik sandi dituding tak awas sehingga bom yang terjadi 
saban akhir tahun ini terulang kembali.

Kepala Desk Antiteror Kantor Menteri Koordinator Politik dan Keamanan 
Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai tak menyanggah. Namun, dia 
mengingatkan bahwa terorisme itu melawan negara. "Jadi, semua komponen dan 
potensi yang dimiliki negara ini harus dikerahkan melawan terorisme," katanya.

Mantan Kepala Polda Sumatera Utara ini mengakui lembaga yang dipimpinnya 
tak cukup bertaji. Desk Antiteror memang tidak memiliki kewenangan 
bertindak sendiri. Mereka bertugas memfasilitasi staf di lingkungan Menko 
Polkam untuk mengkoordinasi instansi-instansi yang bertanggung jawab dalam 
pemberantasan terorisme. Desk ini dibentuk 29 November 2002 dan anggotanya 
dilantik sebulan kemudian oleh Menko Polkam saat itu, Susilo Bambang 
Yudhoyono. Mereka beranggotakan 58 orang: 15 anggota tetap dan 43 anggota 
tidak tetap. Pembentukannya merupakan implementasi dari Peraturan 
Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 dan Instruksi Presiden Nomor 4 
Tahun 2002.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang peran intelijen dan upaya pemerintah 
melawan terorisme, wartawan Tempo Agung Rulianto dan Widiarsi Agustina 
mewawancarai Ansyaad Mbai di kantornya, Jumat pekan lalu.

Pagi-pagi Anda sudah menyimpulkan pelaku pengeboman adalah Jamaah 
Islamiyah. Mengapa?
Mengapa harus terkejut? Mereka ini kan pemain lama. Kita melihat 
meledakkannya dengan cara bom bunuh diri seperti pada bom Bali I yang 
memakai rompi. Terorisme saat ini memang berbeda dengan masa lalu. Pada 
masa lalu, setelah melakukan aksinya, mereka langsung menunjukkan 
identitas, karena tujuannya menunjukkan eksistensi. Selain itu mereka 
umumnya memberi peringatan terlebih dulu untuk menghindari banyaknya jatuh 
korban. Sekarang berbeda sama sekali. Mereka melakukan serangan dengan 
tujuan untuk tidak diketahui. Target mereka menimbulkan korban sebanyak 
mungkin.

Dari awal Anda sudah meyakini ini bom bunuh diri. Mengapa?
Dilihat dari kepala yang terpisah dengan kaki. Kita lihat jasadnya: kepala 
seperti tercabut begitu saja karena dorongan ledakan yang begitu kencang. 
Pemilik kepala itu merupakan sumber ledakan sehingga bisa dipastikan bom 
itu ledakannya melayang (terletak di badan pembawa bom). Lalu di titik 
ledakan tidak ditemukan crater atau bekas ledakan di tanah.

Apakah dari jenisnya dan caranya bisa terdeteksi bom itu buatan Dr Azahari?
Memang, tidak bisa dipastikan, karena bom itu barang kimia yang bisa dibuat 
siapa saja.

Bom sebelumnya selalu menggunakan mobil. Mengapa tidak sama dengan bom kali 
ini?
Bom mobil itu perlu bahan peledak yang sangat banyak, karena ledakannya 
harus bisa menghancurkan mobil. Kali ini kelihatan mereka kekurangan bahan, 
atau bisa juga karena kurang dana. Selain itu di Jimbaran dilakukan di 
daerah berpasir, sehingga tidak mungkin mobil bisa masuk. Sementara kalau 
di jalan, jaraknya terlalu jauh sehingga target korbannya tak bisa sebanyak 
itu.

Apakah intelijen menilai kekuatan mereka melemah?
Kalau dikatakan makin lemah, nyatanya masih bisa melakukan pengeboman.

Bukankah sebagian besar anggota jaringan ini telah ditangkap setelah bom 
Bali I?
Pelaku pengeboman kali ini jaringan baru. Di Solo mereka sempat merekrut 
orang baru tapi keburu ditangkap (ada 13 tersangka, tujuh orang ditangkap 
di Solo sisanya di Jakarta, pada awal Juli. Dari para tersangka polisi 
menyita empat pucuk pistol, ratusan butir peluru, tiga sirkuit bom siap 
pakai, serta dokumen aksi terorismeRed.) sehingga mereka lepas jaringan ini 
dan merekrut yang baru lagi.

Seberapa besar jaringan teroris ini?
Mereka ini sudah bermetamorfosa menjadi kelompok-kelompok kecil. Sekarang 
kalau Anda cari anggota JI an sich tidak bakal ketemu. Kalau kita lihat 
selama ini para pelaku pengeboman bukan anggota JI. Mereka ini direkrut 
dari kelompok radikal lain yang punya ideologi sepaham. Keliru kalau kita 
hanya melihat JI saja.

Bagaimana intelijen kita mendeteksinya?
Kita bisa membuat patokan dari orang-orang alumni perang Afganistan dan 
Moro (Filipina Selatan). Tetapi ingat, bukan berarti semua mantan Afgan dan 
Moro pasti  teroris, sebab mereka tidak otomatis masuk JI. Sebagian ada 
yang pulang ke DI (Darul Islam, sebuah gerakan membentuk Negara Islam 
IndonesiaRed.). Meskipun mereka tetap menghendaki dilaksanakannya syariat 
Islam, ada juga yang tidak setuju dengan cara-cara kekerasan. Mereka ini 
saya sebut DI normatif. Sebenarnya, dari kelompok DI normatif inilah 
peluang kita untuk mencegah kekerasan.

Bagaimana caranya?
Orang-orang ini harus kita tangkap dan kita empowering. Mereka ini 
sebenarnya cukup punya pengaruh dan wibawa. Melalui mereka, kita potong 
pola rekrutmen dan meyakinkan bahwa (kekerasan melalui teror) itu tak benar.

Bagaimana pola organisasi mereka ?
Mereka ini mengembangkan leadership-nya sendiri. Pemimpin mereka tamatan 
Afgan dan Moro, plus orang-orang yang punya success story selama di Ambon 
(Maluku) dan Poso (Sulawesi Tengah). Mereka ini the real leader dan berasal 
dari orang-orang yang seangkatan. Kita keliru kalau mengasumsikan membina 
dan menggalang tokoh tua di antara mereka. Orang tua-tua itu sudah mereka 
anggap sebagai pemimpin yang gagal karena dianggap sudah berkolaborasi 
dengan pemerintah dan jadi alatnya polisi atau intelijen.

Siapa yang lebih berpengaruh, yang garis keras atau yang normatif?
Garis keras ini sebenarnya sangat minoritas, sementara yang normatif 
jumlahnya lebih besar. Masalahnya, yang normatif ini cenderung diam. Saya 
contohkan saat pemimpin laskar jihad, Jafar Umar Thalib, di Ambon 
menjalankan hukum rajam. Polisi menangkapnya di Bandara Juanda, Surabaya. 
Saat itu saya sebagai asisten intelijen mencoba mencari opini dari beberapa 
kiai. Mereka saya telepon untuk menanyakan apakah cara hukum rajam itu 
dibenarkan? Kiai-kiai itu menjawab, memang ada dalam hadis, tetapi Rasul 
tidak pernah mempraktekkannya. Itu juga harus dilakukan dalam kapasitas 
pemimpin agama sekaligus pemimpin pemerintahan. Kalau di Indonesia harusnya 
dilakukan pemimpin pemerintahan. Nah, saya minta dia untuk bicara di media, 
tetapi jawabnya, "Jangan saya, Pak." Mereka saling lempar. Mereka semua 
bilang cara itu salah, tetapi mayoritas cenderung diam. Situasi ini yang 
bikin runyam. Sampai-sampai orang moderat yang vokal seperti Ketua Jaringan 
Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla, juga diancam bakal dibunuh.

Apakah ada hubungan informal di antara mereka?
Mereka menjalin kekerabatan melalui jalur perkawinan. Muchlas kawin dengan 
adiknya Nasir Abas yang orang Malaysia. Sawal Yasin, teroris nomor satu 
dari dalam daftar 20 teroris yang dikeluarkan PBB, kawin dengan anak 
Abdullah Sungkar, pendiri JI bersama Abu Bakar Ba'asyir. Ada juga Thalib, 
salah satu yang di Ngruki itu, pamannya Jafar Umar Thalib. Jadi, pertalian 
mereka lewat perkawinan seperti itu.

Mengapa intelijen masih juga kebobolan sehingga bom Bali II meledak?
Intelijen belum dapat berperan optimal karena ada resistensi yang sangat 
besar dari masyarakat, terutama dari politisi, karena ada trauma masa lalu. 
Kita semua punya kesalahan masa lalu, termasuk juga intelijen. Mengapa dulu 
sangat powerful dan dianggap melanggar hak asasi manusia? Karena 
undang-undangnya memang begitu. Selain itu, social control juga tidak ada. 
Memang, hal seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi, tetapi tidak ada 
negara yang tidak memakai intelijen. Nah, sekarang social control jauh 
lebih kuat ketimbang eksekutif. DPR sekarang makin galak, LSM (lembaga 
swadaya masyarakat) dulu baru nongol langsung ditangkap. Sekarang malah LSM 
yang nangkapi pejabat hahaha....

Ada ketakutan intelijen akan melakukan tindakan seperti masa lalu. 
Bagaimana mengatasinya?
Tidak ada alasan khawatir dengan intelijen. Apalagi, pimpinan daerah kan 
sekarang dipilih langsung. Partai politik juga sangat kuat. Kenapa sekarang 
mesti takut? Kita kontrol dan buatlah undang-undang yang intelijen tak bisa 
melanggarnya. Jadi, intelijen berperan, tetapi tak lepas dari supremasi hukum.

Apa yang dilakukan untuk mengurangi kekuatan kelompok teroris ini?
Pertama kita harus melakukan identifikasi secara benar. Sekarang yang 
mereka teriakkan ketidakadilan. Saat Amrozi diwawancarai Pak Da'i Bachtiar 
(Kapolri waktu itu) di Bali, dia mengatakan: "Pak Da'i, selama 
ketidakadilan masih ada di luar sana, maka seribu Amrozi baru akan muncul 
dan tak bisa diberantas." Mereka melihat ketidakadilan bukan hanya di 
Indonesia. Mereka juga melihat ketidakadilan Israel dan Amerika Serikat 
terhadap Irak atau Palestina. Pemikiran seperti itu ditanamkan pada mereka. 
Kalau kita bicara preventif, siapa yang menanamkan dan mencuci otak mereka 
ini?

Maksud Anda?
Sekarang kita lihat saja setiap khotbah Jumat. Saya berani bertaruh 50 
persen menyebarkan kebencian. Orang-orang inilah yang harus jadi target 
kita. Kita butuh orang yang dengerin mereka ini melaporkan, lalu kita 
tangkap. Toh, di KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) mereka yang 
menyebarkan permusuhan di kalangan penduduk ancaman hukumannya bisa lebih 
dari lima tahun. Masalahnya, polisi juga tidak berani menangkap. Jadi, 
jangan salahkan hakim kalau mereka menjatuhkan vonis hukuman yang ringan. 
Itu masalah kita sekarang.

Apakah kemampuan intelijen kita kalah dibandingkan kepintaran Dr Azahari 
atau para teroris lainnya?
Kemampuan kita sudah lebih dari dia. Kita punya banyak orang-orang di 
Laboratorium Forensik dengan standar internasional.

Apa persoalannya sehingga mereka tak juga tertangkap?
Ada kecenderungan seakan-akan melawan terorisme hanyalah tugas polisi dan 
intelijen. Teroris itu melawan negara. Jadi, semua komponen dan potensi 
yang dimiliki negara ini, dalam arti pemerintah dan masyarakat, mestinya 
dikerahkan melawan terorisme.

Mengapa hal itu tidak dilakukan?
Saya tidak pada tempatnya menjawab pertanyaan itu.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah?
Pemerintah sedang memproses peningkatan Desk (Antiteror) ini menjadi sebuah 
lembaga tingkat nasional, karena pemerintah menyadari bahwa terorisme itu 
perlu dihadapi lintas departemen bersama masyarakat. Untuk itu, perlu ada 
lembaga yang mengkoordinasi ini. Tak bisa dilakukan secara sektoral.

Apakah menurut Anda Desk Antiteror tak cukup?
Ya, tidak cukup. Saya akui itu. Misalnya, kita perlu melakukan penertiban 
identitas penduduk, paspor juga jangan mudah dipalsukan, termasuk 
penertiban travel dokumen. Juga, harus ada penertiban distribusi 
bahan-bahan dasar yang bisa dijadikan bom. Kemudian masalah early warning 
sistem dari masyarakatitu juga diperlukan. Ini kan diperlukan keputusan 
politik. Diperlukan pemahaman bersama. Dalam negara demokrasi kan bukan 
hanya pemerintah, tetapi semua partai politik perlu berperan bersama.

Apa yang sudah dilakukan desk yang Anda pimpin ini?
Sesuai dengan tugasnya, Menko Polkam melakukan dan memformulasikan 
kebijakan nasional soal terorisme, kemudian mengimplementasikan langkah 
operasional yang banyak sekali. Sejak bom bali, kita koordinasi antara 
aparat penegak hukum, tetapi koordinasi itu menjadi istilah baru. Ada 
substansi baru, bagaimana supaya ada kesamaan persepsi dan apresiasi. Itu 
sangat membutuhkan koordinasi antara penegak hukum dan intelijen serta 
kepolisian sehingga laporan intelijen bisa dipakai.

Pada bagian mana koordinasi itu terhambat?
Yang paling penting, koordinasi ini bukan di tingkat bawah, tetapi terutama 
decision maker level di atas. Lembaga koordinasi itu levelnya harus 
nasional. Di negara mana pun, lembaga yang dikoordinasikan ini langsung di 
bawah kantor kepresidenan atau perdana menteri.

Jadi, upaya pemerintah dalam menangani teroris masih sektoral?
Idealnya memang tidak begitu, tetapi kenyataannya masih begitu. ***

Daftar Riwayat Hidup

Nama            : Irjen (Pol.) Drs Ansyaad Mbai
Jabatan         : Ketua Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme Kantor 
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
Tempat/tanggal lahir : Buton, Sulawesi Tenggara, 2 Juni 1948

Pendidikan:

Akabri Pol Kepolisian 1973)
Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (1981)
Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian (19871988)
Advance Course For Senior Pol ADM, Tokyo (1989)
Sekolah Komando ABRI (1995)

Jabatan sebelumnya:

Kepala Direktorat Reserse Polda Jawa Tengah
Wakil Kepala Polda Jawa Tengah
Wakil Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
Direktur Reserse Umum Polri
Wakil Kepala Korps Reserse Polri
Asisten Intel Kapolri
Kepala Polda Sumatera Utara



At 04:27 PM 4/13/06 +0700, you wrote:
>1. tradisi pesantrennya pak dhofier memang buku babon untuk memahami NU.
>
>2. pak agus sunyoto dan pak arif, kemarin dulu sempat bikin penelitian ttg
>darul arqam di malaysia.  yg lucu lucu, keliatan kalau ashaari muhammad ini
>masih jalurnya syarikat islam.  pola pola yg dia kembangkan masih ngikuti
>pola sarikat islam ini.  jalur keagamaan nyambungnya ke pesantren buntet,
>pak cokro, sampai pangeran diponegoro.
>
>3. salafi sendiri di indonesia ada 5 aliran.  oom jafar dulu masih keturunan
>ulama arab di malang, masih sodaraan juga ama habib al habsyi yg tunanetra
>yg dulunya ngebom borobudur, oom ja'far mudanya suka mabok mabok gitu, gagal
>sekolah bolak balik, di lipia, dan beberapa tempat lagi, sampai akhirnya
>ikutan main petasan di afghan.  pulang jadi alim deh (dalam ilmu perang
>perangan).
>
>4. btw, ulil tuh s1 nya di lipia ternyata.  satu sekolah ama anis matta.
>padahal orang lipia biasanya kalo gak berat ke wahabi, ya berat ke
>tarbiyah.  selalu ada outlier dalam komunitas :D
>
>salam,
>Ari Condro



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke