http://www.suaramerdeka.com/harian/0604/17/opi04.htm

Menyikapi Penerbitan Playboy
Oleh Jamal Ma'mur Asmani

DEMONTRASI, ancaman, dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam terhadap 
terbitnya Majalah Playboy menarik untuk dikaji. Argumentasi moral agama selalu 
menjadi senjata ampuh mereka dalam meneriakkan tuntutan agar hal-hal yang 
berbau pornografi dan pornoaksi dilarang di negeri yang mayoritas Islam ini. 

Isi majalah itu dianggap akan merusak moralitas bangsa, menyuburkan praktik 
kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman. Juga pemerkosaan, perzinaan, pergaulan 
bebas, narkoba, miras, dan judi akan marak di mana-mana.

Indonesia akan menjadi negara bodoh, terbelakang, dan hancur nantinya. Generasi 
muda yang harus dipupuk dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas 
tinggi dipaksa menjadi manusia konsumtif, hedonis, dan materialistis.

Di pihak lain orang mengusung demokrasi yang berintikan liberasi (kebebasan), 
emansipasi, kreasi, sekuler, materialis dan kompetisi. Indonesia bukan negara 
Islam melainkan negara demokrasi, di dalamnya tidak hanya umat Islam, ada juga 
Kristen, Buddha, Hindu. 

Iman, kedalaman ilmu, dan moralitasnya juga berbeda-beda. Jadi kalau dilakukan 
standardisasi ketat justru akan mengakibatkan radikalisasi massa. 

Biarlah masyarakat yang memilih. Kalau mereka tidak membeli Majalah Playboy 
akan gulung tikar, tapi kalau mereka membeli, itu hak publik yang dijamin oleh 
undang-undang. 

Fenomena iklan di media cetak/elektronik yang mengeksploitasi kemolekan tubuh 
wanita yang bisa dinikmati masyarakat setiap detik adalah salah satu contohnya. 
Masyarakat tidak merasa tabu melihat pemandangan ini. Justru ada sinyalemen, 
kalau acara televisi sesuai norma agama, semua perempuan memakai jilbab rapat, 
pasti tidak laku, orang akan bosan menontonnya, dan perusahaan televisi 
lama-lama akan bangkrut total. 

Karenanya, biarlah konsumen sendiri yang menghukumi/menyeleksi semua produk 
yang mereka terima. 

Pertarungan dua kelompok ini memang tidak akan berakhir. Kelompok pertama 
didukung oleh mayoritas umat Islam, walaupun dengan perspektif yang berbeda. 
Kelompok kedua didukung oleh kekuatan super power dunia, 
kapitalis-neoliberalis-sekuler. Kekuatan super power ini sudah lama melakukan 
ekspansi moral, ekonomi, dan politik yang bebas tak beretika, jauh dari 
tuntunan agama. 

Mereka adalah kaum sekuler yang mengedepankan rasionalitas, liberitas, 
materialitas, hedonitas, dan seksualitas. 

Hegemoni Barat 

Pertanyaannya sekarang, mampukah kelompok pertama yang saat ini menjadi 
kelompok marginal dunia menghadapi kekuatan super power tersebut ? Barat yang 
menjadi simbol peradaban dunia kontemporer sudah melakukan dominasi, 
intervensi, dan hegemoni struktural dan kultural dalam durasi waktu yang cukup 
lama. Semua instrumen mereka kuasai, mulai media informasi, cetak maupun 
elektronik, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, sosial, teknologi, militer, 
dan keamanan. 

Semua instrumen itu mencerminkan perilaku Barat yang dominatif dan hegemonik 
yang tidak pernah terikat moral agama. Agama yang mereka anut sudah tidak mampu 
memayungi aspek publik, pascadominasi gereja waktu dulu yang sentralis, 
hegemonik, dan dominatif. 

Agama bagi mereka hanya urusan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia 
adalah urusan manusia itu sendiri. Tuhan tidak berhak ikut campur, biar manusia 
menentukan nasibnya sendiri, karena kalau Tuhan intervensi, kreativitas manusia 
tidak berkembang secara optimal (Jarot, 2006)

Hal ini sangat berbeda dengan Islam yang masih meyakini universalitas nilai dan 
ajarannya. Islam bagi penganutnya adalah agama yang mengurusi seluruh aspek 
kehidupan manusia, mulai ekonomi, pendidikan, politik, sosial, budaya, dan 
lain-lain. Bahkan kalau berbicara moral agama, mulai bangun tidur sampai tidur 
lagi, Islam mengatur segalanya. 

Tidak ada satu perilaku mansuia sedikit pun yang lepas dari ajaran Islam. Semua 
mengandung dosa-pahala, surga-neraka. Selain disaksikan Allah Swt sebagai 
pencipta, ada dua malaikat yang selalu mencatat seluruh gerak-gerik manusia, 
Roqib dan Atid. Dalam bahasa Syafi'i Ma'arif, Islam mempunyai cita-cita sosial 
yang ingin ditegakkan di muka bumi ini, oleh sebab itulah, manusia menjadi 
fungsi kholifatullah fil ardl, mandataris Allah di muka bumi ini yang 
berkewajiban menegakkan ajaran Allah secara total dalam semua aspek kehidupan. 

Pendekatan

Gus Dur pernah mengemukakan bahwa pendekatan itu sesuatu yang penting yang 
sudah dilupakan umat Islam. 

Mereka hanya terfokus pada tujuan, tujuan, dan tujuan. Sedangkan strategi dan 
pendekatan yang digunakan untuk realisasi tujuan tersebut tidak pernah 
dikoreksi, akhirnya banyak yang tidak efektif, menghabiskan energi dan stamina 
tanpa buah yang berarti. 

Berbicara soal moral agama yang menjadi dasar argumentasi umat Islam melarang 
terbitnya majalah Playboy, saya pikir semua agama sepakat bahwa hal-hal yang 
berbau sensual dan seksual harus dilarang peredarannya, karena menghancurkan 
moralitas manusia. 

Islam radikal, moderat, dan fundamental pun saya pikir pendapatnya sama. 

Ormas NU dan Muhammadiyah misalnya, kalau merujuk pada Alquran, Hadis, dan 
khazanah klasik (kitab kuning) jelas bahwa aurat (sesuatu yang harus ditutup 
rapat), baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh ditampakkan ke luar.

Aurat itu harus dijaga, karena kalau dibuka akan mengakibatkan fitnah. Apalagi 
kalau perempuan fitnah yang ditimbulkan sangat besar. 

Namun kalau berbicara bagaimana strategi atau pendekatan yang harus digunakan 
untuk sosialisasi atau penegakan moral agama ini, masing-masing mempunyai cara 
dan metode sendiri. 

Golongan Islam radikal-fundamental lebih memilih show of force dalam bentuk 
demonstrasi, sweeping, dan sejenisnya. Jihad fi sabilillah (berjuang di jalan 
Allah) dan amar maĆ­ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang 
kemungkaran) adalah jargon utama yang didengungkan. Sedangkan Muhammadiyah dan 
NU lebih memilih pemberdayaan masyarakat terlebih dahulu dalam aspek 
pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi. Internalisasi dan substansialisasi 
moral adalah garapan utama. 

Menurut Muhammadiyah dan NU, sebaik apa pun undang-undang, kalau aparat penegak 
hukum dan rakyatnya belum terdidik, tidak akan banyak manfaatnya. Maka 
rakyatlah yang harus diprioritaskan. Kalau rakyat sudah cerdas, terdidik, 
mereka dengan sendirinya akan menyeleksi semua produk peradaban yang datang. 

Filter agama, moral, dan psikologis akan membuatnya selamat dari maraknya 
pornografi dan pornoaksi. 

Gus Dur (1997) membagi strategi dakwah Islam menjadi tiga. Strukturalisasi, 
masuk dalam struktur kekuasaan; kulturalisasi, memberdayakan umat Islam; dan 
sosio-kultural, dengan mengembangkan pandangan dan perangkat kultural yang 
dilengkapi dengan membangun sistem kelembagaan masyarakat yang sesuai dengan 
wawasan budaya yang ingin dicapai.

Manakah pendekatan yang efektif digunakan dalam kasus terbitnya Majalah 
Playboy, apakah demonstrasi, sweeping, ancaman dan sejenisnya, atau 
memberdayakan masyarakat sehingga mereka menyeleksi sendiri, atau dua-duanya. 
Berkaca pada dakwah Nabi, penguatan basis dan pemberdayaan umat harus 
dikedepankan. Namun, menghadapi hegemoni kaum kapitalis-liberal saat ini, satu 
pendekatan saja tidak cukup. Di sinilah perlunya multi pendekatan disinergikan.

Yang penting adalah menjunjung tinggi hukum nasional sebagai konsekuensi logis 
dari konsensus nasional, tidak main hukum sendiri yang berakibat 
kontraproduktif bagi sosialisasi nilai Islam yang ramah, moderat, humanis, dan 
proyektif. (11)

-- Jamal Ma'mur Asmani, pengurus harian Rabithotul Ma'ahid Islamiyah cabang 
Pati. 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke