Ini adalah suatu cerita perjalanan yang sangat mengasyikkan dari seorang konco 
yang selain punya hubungan business dengan kedua negara 
tersebut(M'sia&Thailand) juga tidak malas untuk juga memberikan pokok2 
pikirannya tentang masalah minoritas (Tionghoa)di kedua negara tersebut. Dengan 
input yang koncoku bawa dari perlawatannya yang ber-kali2 ke kedua negara itu, 
aku coba mengumpulkan beberapa data soal minoritas yang berdiam di kedua negara 
itu. Mungkin ada baiknya untuk bisa dibandingkan dan diambil hikmahnya agar 
persoalan etnis Tionghoa di negeri kitapun bisa mendapatkan perhatian 
sepenuhnya.
   
  Input yang aku dapat memang begitu relevan dalam sikonnya dunia saat ini, 
atau lebih mengecil scope-nya bagi daerah negara Asteng yang di huni oleh 
minoritas yang datang dari utara, dari China chususnya. Begitulah memang kedua 
negara dalam pembicaraan kali ini adalah M'sia dan Tahiland. Kedua negara ini 
mempunyai kasus minoritas Tionghoa ini yang datang beberapa generasi yll. Kedua 
negara ini menghadapi masalah ini baik yang berdampak negatip maupun yang 
berdampak positip. Kedua negara M'sia dan Thailand  mengupayakan dengan 
pendekatan dengan cara2 pengaturan dengan memakai undang2, baik yang drakonis 
maupun yang bersipat anjuran atau persuasi. 
   
  Di zamannya Raja RamaVI di Thailand mulailah diupayakan untuk 
meng-integrasikan etnis Tionghoa kedalam masyarakat pribumi. Cara2 yang 
digunakan oleh Raja RamaVI ini tidak beda banyak dengan apa yang pernah 
di-upayakan oleh LPKB,yakni pembauran total etnis Tionghoa kedalam masyarakat 
pribumi. Bahkan tulisan dan aksara Tionghoapun dilarang oleh raja ini semasa 
pemerintahannya, demikian juga nama2 yang disandang orang Tionghoa di"siam-kan" 
Rupanya  politik integrasi/asimilasi ini berhasil dengan baik tanpa menumpahkan 
darah. Apa sebenarnya atau apa saja komponen yang mempermudah 
integrasi/asimilasi di Thailand ini antara etnis pendatang Tionghoa dan etnis 
pribumi Siam ini? 
   
  Dalam sejarah setelah bangsa Mongol menaklukan seluruh benua Tiongkok, banyak 
yang menghindar ber-hijrah ke luar, antara lain orang2 Tionghoa yang berdiam di 
barat daya masuk ke daerah yang kemudian dikenal dengan Siam. Mereka para 
imigran ini membawa selain kultur Tionghoa juga ajaran Khonghuchu dan agama 
Buddha. 
  Berdasa warsa berlalu dan pendatang2 yang kemudian dari Tiongkok ini rupanya 
tidak sukar untuk ber-integrasi/asimilasi dengan penduduk setempat yang 
mempunyai banyak /atau berdekatan dalam kultur dan agama. Apakah ini yang 
memicu suatu pendekatan yang berhasil, yakni persamaan agama dan kultur? Dalam 
skala kecilnya, dua etnis, si pribumi dan si Tionghoa adalah sama2 pemakan 
babi, ini kalau di tinjau secara popnya saja. Sama2 pork eater ya tidaklah 
sukar bisa sama2 duduk se-meja, bersantap bersama.
   
  Bagaimana dengan keadaan di Malaysia? Si Tionghoa dan si pribumi tidak banyak 
mempunyai persamaan, tidak kultur dan tidak juga soal agama. Anggapan pop 
bilang kalau M'sia itu adalah negara Islam, betulkah itu? Suatu anggapan yang 
sukar disimak kebenarannya apabila kita teliti realita di lapangan. Misalnya 
kita terima bahwa M'sia adalah negara Islam tapi ini adalah gejala diluar 
normnya. Biasanya negara Islam itu negara yang deldel duwel. Mengapa mereka 
(M'sia) bisa membanggakan kemajuan ekonominya apabila kita tinjau salah satu 
aspeknya. Tidak lain ini adalah policy dari pemerintah M'sia yang berhasil 
dalam peng-integrasi-an etnis Tiongoa ini ,terutama dalam lapangan ekonomi. 
Etnis Tionghoa diserahi atau diberi peranan penting dalam pengaturan ekonomi 
negara. Tidaklah ber-lebihan kalau pemerintah M'sia mau tidak mau harus 
mengikut sertakan etnis Tionghoa ini yang tidak sedikit jumlahnya sekitar 1/3 
penduduk M'sia.
  Tapi apakah asimilasi , apabila ini kita anggap ada usaha menuju kearah ini, 
apakah berhasil dalam melebur etnis  Tionghoa dalam masyarakat luas dengan 
pribumi di M'sia?. Rupanya hal ini tidak terjadi. Apakah karena adanya 
perbedaan yang besar dalam kultur dan agama? Rupanya ini suatu realita tanpa 
kita perlu terjebak dalam masalah SARA. Soalnya SARA akan mencuat keluar 
apabila kita coba memaksakan suatu pendekatan ataupun peleburan etnis secara 
artifisial.
   
  Tanpa melangkah ke soal arogansi  ataupun chauvinism, rupanya bisa dibilang 
....halangan etnis Tionghoa  yalah adanya kultur yang sudah ribuan tahun yang 
di-emban oleh suku Tionghoa, maka dengan alasan satu kriteria ini saja, orang 
Tionghoa akan sukar meninggalkan kulturnya secara mudah dan terjun ke proses 
asimilasi total.
  Di saat2 kesukaran dan pembatasan oleh Orde lama, dimana orang Tionghoa 
dilarang secara resmi untuk ber-kultur sebagai orang Tionghoa tapi nyatanya 
dalam lingkungannya sendiri secara tertutup orang Tionghoa masih hidup dalam 
hirupan kultur ke-Tionghoa-annya. 
   
  Bahkan sekarang dimasa keterbukaan dini hari dimana bisa  dikatakan bahwa 
aspirasi yang terpendam lama se-masa Orba mencuat kembali dengan segala 
kegiatan masyarakt Tionghoa memerankan ke Tionghoa-annya secara terbuka. Ini 
adalah sebagai bukti bahwa kultur Tionghoa tidak pernah luntur dalam keadaan 
kesempitan apapun. Suatu kultur yang ribuan tahun tidak mudah luntur ke telan 
keadaan/zaman apalagi penindasan  yang artifisial .
   
  Sejarah Tiongkok membuktkan, walaupun  Tiongkok di jajah bangsa Mongol, tapi 
raja2nya rupanya takluk dan terjajah oleh kultur Tionghoa. Sejarah memberikan 
bukti bahwa Kublai Khan,Jenghis Khan meng-adopsi kultur Tionghoa dan hidup 
seperti orang Tiongoa.
   
  Apa yang bisa kita tarik sebagai pelajaran dalam hal ini, etnis Tionghoa yang 
hidup di negara2 lain selain Tiongkok? Tidak lain yalah cara M'sia rupanya 
adalah paling cocok. Berikanlah peranan, dimana orang Tionghoa itu bisa 
menunjukan "keboleh-an"nya. Dalam meninjau perjalanan sejarah  ternyata memang 
orang Tionghoa punya "kelebihan" dalam mengatur per-ekonomian.  Pendekatan 
hanya bisa tercapai dan keharmonisan bisa tercapai apabila semua warga 
diperlakukan sama dan tugas diberikan kepada orang yang memang punya 
ketrampilan dalam suatu tugas negara. Asimilasi tidak akan pernah berhasil, 
apalagi meng-asimilasi suatu etnis yang punya ciri2 dalam aspek budaya dan 
agama yang sangat berlainan dengan etnis lain. Bangun suatu masyarakat yang 
multikultural, dan tugas negara adalah menjaga ketentraman agar semua etnis 
bisa ber-interaksi dengan wajar dengan hukum dan keadilan yang berlaku bagi 
semua warga.
   
  Harry Adinegara
   

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke