Situasi itu sebenarnya sudah meresahkan. Peneliti Prof WF Wertheim
pernah mengatakan, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal
menunggu "tutupnya meledak". Meski demikian, ada juga yang sependapat
dengan Prof C Geertz bahwa kaum tani Jawa tidak akan menuju situasi
eksplosif, tetapi akan puas dengan "berinvolusi" karena sudah terbiasa
"berbagi kemiskinan".
-----Original Message-----
On Behalf Of Ambon
REFLEKSI : Sebagusnya penulis mengajukan pertanyaannya kepada Pak
Presiden yang telah menulis thesis doctor tentang pertanian.
http://kompas.com/kompas-cetak/0604/20/nasional/2590769.htm
Nenek Moyang Kita Petani Padi
ANDREAS MARYOTO
Ketika petani padi Korea Selatan dan Jepang berunjuk rasa
menentang liberalisasi pasar beras, mereka berteriak keras, usaha tani
padi harus dilindungi. Mereka menyatakan, perlindungan itu terkait
keyakinan dan penghormatan terhadap nenek moyang mereka, yaitu petani
padi.
Mereka menyatakan, meski negara mereka sudah maju, mereka tetap
menghormati nenek moyang mereka. "Nenek moyang kami adalah petani padi,"
kata mereka di majalah Time beberapa waktu lalu.
Apakah nenek moyang bangsa Indonesia juga petani padi?
Penelitian kosakata budaya yang diduga digunakan pada masa
prasejarah memberi petunjuk bahwa cocok tanam padi sudah dilakukan pada
masa itu. Kosakata yang diteliti adalah kosakata yang diduga termasuk
dalam bahasa Melayu Purba, yang merupakan leluhur bahasa Melayu modern
dan bahasa Indonesia.
Ahli bahasa Robert Blust dalam sebuah tulisannya di dalam buku
Masa Lampau Bahasa Indonesia, Sebuah Bunga Rampai (1991) menyatakan,
dari penelitian kosakata budaya itu diketahui bahwa penutur bahasa
Melayu Purba memiliki orientasi kelautan yang kuat. Pada saat yang
bersamaan, rakyat mempraktikkan hortikultura ladang, padi gogo, dan
umbi-umbian.
Peneliti JC Anceaux dalam buku yang sama mengutip penelitian
Hendrik Kern asal Belanda, menyebutkan bahwa kosakata yang terkait
dengan padi ditemukan penutur di bagian barat Austronesia-asal nenek
moyang bangsa Melayu-namun tidak ditemukan di wilayah timur.
Keyakinan Kern makin kuat ketika menemukan kata beras di Indonesia
dan kata bras di Tibet yang memiliki arti yang sama. Ia mengatakan,
orang Tibet meminjam kata bras dari bahasa Austronesia, yaitu ketika
penutur kedua bahasa berhubungan di satu tempat. Tempat pertemuan itu
kemungkinan berada di Asia Tenggara.
Prof Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa (1984)
menyatakan, cocok tanam padi dengan sistem peladangan diduga berasal
dari Birma Utara. Sistem itu kemudian menyebar ke Semenanjung Melayu
hingga di Kepulauan Nusantara (Indonesia dan Filipina) pada saat
migrasi.
Teknologi
Sampai awal abad Masehi, pertanian padi di Nusantara diperkirakan
masih sederhana. Pertanian padi masih tetap berbentuk perladangan,
seperti padi huma yang masih ditemukan di sejumlah daerah di Jawa Barat.
Relatif tidak ada sentuhan teknologi.
Sentuhan teknologi cocok tanam padi mulai muncul ketika pengaruh
India masuk. Di dalam beberapa tulisan di jurnal Orissa Review, sebuah
jurnal yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Orissa di India,
disebutkan bahwa bangsa Kalinga (nama sebelum Orissa) yang berada di
India selatan itu masuk ke wilayah Jawa sekitar abad keempat. Kedatangan
mereka yang terdiri dari berbagai kasta membawa pengaruh dalam teknologi
penanaman padi.
Kasta brahmana yang berkuasa atas ilmu pengetahuan antara lain
membawa metode penanaman padi dengan pengairan. Kaum brahmana
memperkenalkan sejumlah teknologi yang memungkinkan produksi padi
meningkat.
Setelah itu, nenek moyang kita mulai menanam padi dengan cara
pengairan atau yang sekarang dikenal dengan sawah. Sejumlah kakawin dan
kidung berbahasa Jawa Kuno (abad ke-8-14) yang diteliti oleh Prof PJ
Zoetmulder di dalam buku Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang
(1983) telah menyebut keberadaan sawah. Di dalam kakawin itu dikisahkan,
raja mendatangi kawasan pedesaan dan melihat sejumlah orang menanam
padi.
Dalam salah satu kakawin juga disebutkan, beberapa biarawan
terlihat menanam padi. Ada juga penyebutan keberadaan lumbung padi.
Sayang sekali jumlah informasi mengenai budidaya padi memang sangat
minim di dalam kakawin ataupun kidung karena karya sastra ini lebih
banyak berbicara dalam tataran keraton.
Catatan yang agak lebih komplet terdapat di dalam kitab
Desawarnana atau Negarakertagama. Di dalam kitab ini diceritakan tentang
raja yang memanggil rakyatnya untuk membuka hutan, kemudian
menjadikannya lahan untuk sawah. Rakyat yang mendapat hak untuk
mengelola lahan itu harus membayar pajak ke raja. Sawah beririgasi juga
sudah disebut dalam kitab itu.
Selama masa Majapahit, ekspor beras juga sudah dilakukan. Meski
demikian, Koentjaraningrat telah menyebut adanya petani miskin di desa
yang serba miskin, di samping mereka yang bergaya hidup keraton dengan
segala kemewahannya.
Setelah Majapahit, catatan mengenai budidaya padi terdapat di
Mataram. Di dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya (1996) karya Dennys
Lombard terdapat catatan mengenai kepemilikan sawah. Di Mataram, sawah
tidak hanya dimiliki oleh raja, tetapi juga oleh bangsawan. Bangsawan
berhak mengelola lahan yang kemudian dikerjakan oleh rakyat biasa.
Di dalam buku yang sama disebutkan, tahun 1804 Residen Yogyakarta
Matthias Waterloo mencatat mengenai kondisi produksi padi. "Cukuplah
kita bandingkan daerah penghasil padi sekarang dan dua puluh tahun
sebelumnya," katanya.
Ketika Inggris berkuasa di Jawa, Gubernur Jenderal TS Raflles
(1811-1816) juga menulis, sedikit negeri yang rakyatnya bisa makan
sebaik di Jawa. Jarang orang pribumi yang tidak dapat memperoleh satu
kati beras yang dibutuhkan per hari. Di dalam bukunya berjudul History
of Java (1817), Raflles merinci berbagai alat yang digunakan untuk
budidaya padi.
Catatan oleh penulis lainnya menyebutkan, di Kesultanan Yogyakarta
beras masih merupakan komoditas ekspor utama, selain produk lainnya
seperti tembakau, batik, dan kain.
Di samping berbagai catatan di atas, keberadaan mitos mengenai
dewi pelindung pertanian, yaitu Dewi Sri, membuktikan bahwa budidaya
padi merupakan bagian hidup yang penting dari masyarakat di Nusantara,
terutama Jawa. Hingga kini pemujaan terhadap Dewi Sri masih dilakukan
petani di berbagai daerah.
Di dalam buku Serat Cariyos Dewi Sri disebutkan, cerita tentang
Dewi Sri merupakan salah satu hasil karya sastra Jawa. Cerita itu
mengisahkan turunnya Dewi Sri dari surga ke dunia dengan membawa benih
padi yang kemudian menjadi bahan makanan pokok orang Jawa. Dewi Sri
dianggap sebagai tokoh mistis yang dapat memengaruhi kehidupan manusia
sebagai pelindung pertanian.
Kemiskinan
Kisah-kisah petani padi setelah pertengahan abad ke-19-sejak tanam
paksa diberlakukan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch
(1830)-makin banyak diwarnai kisah pilu. Pada masa itu mulai terdapat
kelaparan di berbagai daerah seperti di Cirebon akibat konversi sawah
menjadi lahan perkebunan.
Peneliti Peter Boomgard dalam disertasinya tahun 1989, yang
kemudian menjadi buku dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
judul Anak Jajahan Belanda, menyebutkan, meski selama tahun 1815-1880
mayoritas terbesar penduduk Jawa bekerja di sektor pertanian, makin
banyak penduduk di daerah pedesaan terlibat dalam kegiatan nonpertanian
sebagai sumber penghasilan.
Citra Jawa pada abad ke-19-yang juga terus terjadi hingga
kini-adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau itu memang dihuni jutaan
petani yang harus hidup dari petak-petak tanah mereka yang kecil dan
jutaan kuli yang berusaha untuk hidup di daerah perkotaan yang padat
penduduk. Laporan kelaparan kembali terjadi setelah krisis ekonomi 1930.
Situasi itu sebenarnya sudah meresahkan. Peneliti Prof WF Wertheim
pernah mengatakan, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal
menunggu "tutupnya meledak". Meski demikian, ada juga yang sependapat
dengan Prof C Geertz bahwa kaum tani Jawa tidak akan menuju situasi
eksplosif, tetapi akan puas dengan "berinvolusi" karena sudah terbiasa
"berbagi kemiskinan".
Koentjaraningrat pernah mengusulkan suatu studi mengenai para
petani miskin yang tidak memiliki tanah ini dapat menyesuaikan diri
dengan suatu kehidupan yang penuh kesengsaraan dan dapat bertahan hidup
di daerah pedesaan di Jawa.
Agraris
Apa pun situasinya pada masa lalu dan masa sekarang, pengakuan
terhadap nenek moyang kita yang adalah petani padi tidak bisa dihindari.
Bila pembaca kurang percaya dengan kenyataan ini, telitilah nama
orangtua kita atau kakek-nenek kita sendiri, dengan mudah ditemukan
bahwa nenek moyang kita memang petani padi.
Bila saja pendahulu kita bernama tidak jauh dari nama Ponimin,
Parjiman, Mujinem, Mujirah, Parijan, dan lain-lain, sebenarnya asal-usul
kita memang dari generasi petani padi masa lalu. Seorang peneliti
bernama R Hatley (1977) pernah menyelidiki sejumlah nama penduduk di
Jawa. Ia menemukan beberapa nama yang menunjukkan asal lingkungannya
adalah dusun-dusun agraris.
Dari kenyataan ini, masihkah kita membiarkan petani padi sengsara,
padahal kita tahu persis mereka adalah nenek moyang kita? Korea Selatan
dan Jepang menggunakan kisah, sejarah, dan tradisi nenek moyangnya dalam
berdiplomasi di forum internasional agar para petani mendapat
perlindungan yang memadai
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

