"Dalam salah satu tulisannya di The Age, 13/4/2006, wartawan Australia
John Martinkus menulis pada 2003 saat dirinya berkunjung ke Papua,
"The intimidation and attacks on human rights workers by the
Indonesian military and the outrage of the West Papuan leaders."
Peristiwa itu berkaitan dengan akan diberlakukannya otsus Papua 2001.
Kerusuhan demi kerusuhan sebagai akibat terpecahnya suara rakyat Papua
mengenai otsus itu mengakibatkan dilarangnya wartawan asing
mengunjungi Papua. Larangan tersebut juga diberlakukan untuk
akademisi, LSM, wakil-wakil gereja, pemantau HAM, dan perwakilan Uni
Eropa setingkat Dubes. Sampai saat ini pun, menurut Martinkus,
larangan tersebut masih berlaku. "
---------------
Saya pikir kita mesti lebih fair.
Sebenarnya bukan dilarang. Tapi lebih tepat screening pemberian visa.
Para jurnalis dan angggota LSM Indonesia kalau mau masuk ke Australia
apa juga ngak di screening sebelumnya? Toh orang seperti Haidar Baqir,
republika, samapai sekarang juga dilarang masuk Australia. Tapi apa
ini berarti pelarangan total?
Bukan. Bukan pelarangan total.
Karena kalau pelarangan total, jelas orang seperti John Martinkus
tidak bisa masuk. Tapi buktinya dia bisa masuk dan melapor panjang
lebar, bahkan sampai terakhir, orang seperti Peter Wood juga bisa
masuk dan melapor kerusuhan kemarin.
Anehnya, yang bersangkutan melapor ada 'genosida', tanpa ada
bukti-bukti kongkrit sama sekali. Semua hanya berdasarkan 'katanya'
dan 'konon'. Sementara yang benar-benar "kongkrit", lima nyawa polisi
dan tentara Indonesia melayang. Sama sekali tidak ada bekas dan laporan.
Salam,
> Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=221935
>
> Kamis, 20 Apr 2006,
>
>
>
> Genosida di Papua?
> Oleh Baiq L.S.W. Wardhani
>
>
> Untuk mempertahankan kebijakan tentang pemberian visa kepada 42
pencari suaka politik asal Papua, pemerintah Australia mengembuskan
isu genosida (genocide, pembunuhan masal) atas warga Papua (Jawa Pos,
19/4/2006). Seperti diketahui, pemberian izin tinggal selama tiga
tahun bagi warga Papua tersebut telah memicu perseteruan diplomatik
antara Indonesia dan Australia yang sampai detik ini masih memanas.
>
> Bahkan, dalam perkembangan paling baru ketegangan Jakarta-Canberra,
PM John Howard menolak meminta maaf karena menganggap tindakannya
benar secara prosedur hukum maupun standar moral yang berlaku di
Australia.
>
> Menarik untuk ditilik, benarkah terjadi genosida di Papua dan
mengapa Howard bersikeras mempertahankan kebijakannya tersebut? Warga
Australia sangat sensitif terhadap isu yang menyangkut keselamatan dan
nyawa manusia. Apalagi, hal itu terjadi di Papua, salah satu zona
penyangga pertahanan Australia.
>
> Pandangan Warga Australia
>
> Keberhasilan diberikannya visa bagi 42 warga Papua itu tidak bisa
dilepaskan dari keberhasilan lobi Papua yang terdiri atas berbagai
kelompok masyarakat di Australia. Lobi Papua dengan suksesnya bisa
meyakinkan para pejabat imigrasi Australia bahwa nyawa mereka terancam
jika kembali ke Indonesia.
>
> Dalam salah satu tulisannya di The Age, 13/4/2006, wartawan
Australia John Martinkus menulis pada 2003 saat dirinya berkunjung ke
Papua, "The intimidation and attacks on human rights workers by the
Indonesian military and the outrage of the West Papuan leaders."
Peristiwa itu berkaitan dengan akan diberlakukannya otsus Papua 2001.
>
> Kerusuhan demi kerusuhan sebagai akibat terpecahnya suara rakyat
Papua mengenai otsus itu mengakibatkan dilarangnya wartawan asing
mengunjungi Papua. Larangan tersebut juga diberlakukan untuk
akademisi, LSM, wakil-wakil gereja, pemantau HAM, dan perwakilan Uni
Eropa setingkat Dubes. Sampai saat ini pun, menurut Martinkus,
larangan tersebut masih berlaku.
>
> Dan, yang menarik dalam tulisan Martinkus, seperti halnya di Aceh
dan Maluku, daerah-daerah tersebut sangat rawan karena genosida masih
terus berlangsung.
>
> Hal tersebut, menurut dia, bertolak belakang dengan yang ditulis
salah seorang diplomat yang menyatakan, di tengah era komunikasi
global seperti saat ini, hampir tidak mungkin terjadi pembunuhan yang
tidak tercium media asing.
>
> Martinkus menyangkal, bagaimana mungkin wartawan asing mengetahui
hal yang terjadi di Papua jika wilayah itu tertutup bagi mereka?
Pertemuan Martinkus dengan Johannes Bonay, direktur ELSHAM di Papua,
semakin memperkuat keyakinannya bahwa memang terjadi genosida di tanah
Papua.
>
> Sebuah laporan setebal 52 halaman yang ditulis John Wing dan Peter
King yang diterbitkan pada 2005 oleh West Papua Project dan ELSHAM
mengungkapkan, selama 50 tahun rakyat Papua terus-menerus hidup dalam
ancaman keselamatan.
>
> Genosida yang dilakukan bervariasi, mulai pembasmian pendukung
kelompok separatis oleh militer, maraknya HIV/AIDS, sampai buruknya
gizi. Sedikit demi sedikit semua itu akan menyumbang berkurangnya
jumlah penduduk asli Papua dan akhirnya rakyat Papua akan menjadi
minoritas di tanah sendiri.
>
> Riset yang dilakukan pada 2003-2005 di beberapa kota di Papua
seperti Jayapura, Sorong, Timika, Merauke, Wamena, Mulia, dan
Manokwari juga mengungkapkan, setelah era reformasi pun, rakyat Papua
belum bisa menikmati perdamaian. Bahkan, kondisinya lebih parah karena
politik adu domba Jakarta atas sejumlah isu yang menyangkut Papua
seperti otsus dan pembagian Papua.
>
> Demonstrasi damai dilawan tindakan brutal militer dan para
milisinya. Selain itu, berbagai operasi militer yang digelar untuk
membasmi para pemberontak separatis selalu diikuti pengungsian warga
Papua dalam jumlah besar.
>
> Tingginya tingkat kematian bayi dan ibu di Papua seolah-olah
menegasikan peran pemerintah RI yang berjanji akan memberikan
kemakmuran bagi Papua. Juga, penyakit HIV/AIDS yang merebak di
berbagai tempat di Papua menghilangkan kesan bahwa pemerintah
memperhatikan kesehatan penduduk setempat. Laporan tersebut
mengesankan pemusnahan rakyat Papua adalah tindakan sistematis dan
direncanakan.
>
> Laporan itu menyebutkan bahwa xenophobia (takut pada orang asing)
telah menjangkiti sebagian besar orang Indonesia yang memandang miring
penduduk Papua. Karena itu, bukan hanya genosida yang terjadi, bahkan
etnosida (ethnocide) atau pemusnahan etnis (ethnic cleansing). Laporan
ini menyimpulkan, sumber penderitaan rakyat dan ketidakstabilan Papua
adalah militer dengan berbagai bentuk kehadiran serta kegiatannya.
>
> Bangsa Rouge?
>
> Jika ditilik dari laporan tersebut, kita patut bertanya, benarkah
Indonesia kini menjadi bangsa rouge? Stigmatisasi rouge diberikan pada
sekelompok orang yang secara terorganisasi bertindak menyalahi hukum
dan moral.
>
> Terlepas dari sampai kepentingan apa di balik laporan itu, kita
perlu bertanya, mengapa ada kesan begitu dalam dari para aktivis HAM
dan orang asing bahwa benar terjadi genosida atas orang Papua?
>
> Hal tersebut tentu tidak terlepas dari pengalaman sejarah yang
dipenuhi bermacam tindakan militer untuk menghabisi pemberontak.
Pendekatan itu dalam skala yang lebih kecil masih digunakan sampai
saat ini.
>
> Hukum internasional memang membolehkan penggunaan kekerasan oleh
negara untuk mengatasi masalah separatisme. Bahkan, di negara paling
demokratis seperti Inggris dan Kanada, praktik itu terjadi. Lalu,
mengapa Indonesia menjadi sorotan? Jawabannya tentu bisa dianalisis
dari berbagai pendekatan.
>
> Namun, secara sederhana, kita perlu menyadari, masih berlanjutnya
praktik kekerasan di Papua tidak terlepas dari kompleksitas masalah
Papua dan hubungan Jakarta-Papua. Proses integrasi nasional, walaupun
secara hukum telah selesai, secara kultural masih berlangsung. Proses
ini belum berhenti sampai menemukan bentuk yang diharapkan kedua pihak.
>
> Sayangnya, pencarian bentuk itu mengalami kendala yang
penyelesaiannya sering menggunakan kekerasan serta memakan jiwa
manusia dan dilakukan alat negara. Kita menjadi bangsa yang sakit
dengan cara memelihara tradisi kekerasan.
>
> Lebih disayangkan, alat negara seolah-olah mengambil kesempatan
dalam kesempitan dengan cara memelihara konflik tersebut. Militer
sering terlibat berbagai kegiatan bisnis, legal maupun ilegal, di
wilayah konflik. Bisnis ilegal menjadi semacam pembenar bagi
kehadirannya di wilayah konflik. Kondisi tersebut ditunjang kecilnya
gaji militer. Sehingga, keadaan itu melahirkan keruwetan masalah yang
sulit dicari penyelesaiannya.
>
>
> Baiq L.S.W. Wardhani, staf pengajar jurusan hubungan internasional
FISIP Unair, menempuh program pascasarjana di Australia
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
***************************************************************************
>
__________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
> Visit your group "ppiindia" on the web.
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

