Meski saat ini digaungkan liberalisasi perdagangan
atau perdagangan bebas, namun AS tetap saja
mengembargo Indonesia untuk produk militer tertentu
dengan alasan keamanan.

Bangsa Indonesia saat ini memang import-minded
sehingga akhirnya hampir tidak mampu memproduksi
barang sendiri, termasuk produk2 militer yang canggih
seperti rudal, radar, apalagi pesawat tempur. Begitu
diembargo, maka nasibnya bagaikan paria. Nyaris tidak
bisa apa2. Tidak bisa memproduksi rudal seperti
sidewinder, membeli juga tidak bisa...:)

Indonesia juga terlalu tertipu oleh jargon kaum
neoliberalis untuk menjual aset negara seperti indosat
dan telkom ke swasta termasuk asing.

Coba saja Indonesia membeli perusahaan produsen produk
militer di AS, boleh tidak? Kan tidak boleh. Beli
produk militernya saja tidak boleh apa lagi
perusahaannya:). Ada faktor keamanan nasional dan
kemandirian yang belum jadi pertimbangan bangsa
Indonesia. Hanya jual dan jual... Privatisasi!

Tapi itulah Indonesia. Kita kurang punya harga diri
sehingga jadi bangsa yang hina. AS bebas menguras
emas, minyak, gas, tembaga, dsb di negara kita. Tapi
Indonesia tidak bebas membeli produk militer dari AS.
Bangsa apakah kita?

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/20/utama/2598634.htm

Pasar Senjata
TNI AU Tidak Pernah Beli Senjata secara Ilegal


Jakarta, Kompas - Kepala Staf Tentara Nasional
Indonesia Angkatan Udara Marsekal Herman Prayitno
menegaskan, TNI AU tidak tahu dan tidak terlibat
kegiatan PT Ataru Indonesia di Hawaii dalam menjajaki
pembelian berbagai jenis senjata dari perusahaan
Amerika Serikat, Orchard Logistic Services.

"Markas Besar (Mabes) TNI AU hanya menugaskan dua
perwira menengah, Letkol (Lek) Edi Supriyanto dan
Letkol (Lek) Hadi Suwito, untuk mengecek suku cadang
pesawat tempur F-5, card/modul radar APQ-159 senilai
355.519,92 dollar AS yang sudah disetujui akan dibeli
TNI AU," ujar Herman, Rabu (19/4).

Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), kedua
perwira itu berangkat atas permintaan PT Ataru
Indonesia (AI). Perusahaan rekanan TNI AU itu meminta
bantuan untuk memeriksa kesesuaian barang yang akan
dibeli. "Itu prosedur biasa karena, jika ada
kesalahan, PT AI-lah yang harus menanggung atau
mengganti," ujarnya.

Seperti diberitakan, otoritas Amerika Serikat
menangkap empat pengusaha, dua di antaranya warga
Indonesia, yaitu Direktur PT AI Hadianto Djoko
Djuliarso dan Ignatius Ferdinandus Soeharli. Mereka
dituduh akan menyelundupkan senjata ke Indonesia lewat
Singapura.

Menurut KSAU, kedua perwira menengah itu berangkat 6
April dan tiba di Honolulu esoknya. Setiba di sana, PT
AI mengajak mereka melihat demonstrasi senjata jenis
MP-5, sebelum mengecek suku cadang radar.

"Karena merasa tidak ada kaitan dengan acara itu,
keduanya hanya pasif menonton. Setelah itu baru mereka
mengerjakan tugas utama mengecek suku cadang radar.
Hasilnya juga sudah dilaporkan setibanya di Tanah Air
pada 11 April lalu," kata Herman.

Herman menyangkal pernah mendapat proposal tawaran
berbagai senjata senilai 40 juta dollar AS dari
Orchard Logistic Services lewat PT AI. TNI AU hanya
membeli item tertentu sesuai kebutuhan dengan cara
legal lewat tender. "TNI AU tak akan membeli senjata
ilegal," katanya.

Meski demikian, KSAU mengakui, adalah hal lumrah jika
rekanan mengajukan proposal penawaran. Mabes TNI AU
sendiri punya program pengembangan lima tahun. Jika
proposal yang ditawarkan sesuai, bukan tak mungkin TNI
AU akan membeli. "Ke depan kami akan lebih hati-hati.
Mabes TNI dan Dephan (Departemen Pertahanan) akan
membentuk tim evaluasi. Rekanan tak boleh bermasalah
secara hukum," ujar Herman.

Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Moh Sunarto
secara terpisah menyatakan, "Sungguh tidak tepat
pernyataan bahwa TNI cuci tangan karena faktanya TNI
memang tak terkait dengan persoalan di luar pembelian
radar pesawat F-5 Tiger."

Moh Sunarto dalam pernyataan persnya menegaskan, di
luar kontrak pembelian radar pesawat F-5 Tiger itu,
transaksi yang dilakukan Djuliarso adalah kegiatan
pribadi yang sama sekali tak berkaitan dengan TNI.

Di DPR, Komisi I menyatakan akan memanggil Menteri
Pertahanan dan Panglima TNI sehubungan dengan kasus
itu. Alasannya, kasus itu bisa memengaruhi kepercayaan
atas TNI yang untuk tahun 2006 mendapat anggaran
besar, Rp 28 triliun dan kredit ekspor 5,5 juta dollar
AS.

"Informasi dari TNI dan Dephan simpang siur sehingga
menimbulkan spekulasi. Adakah agenda tersembunyi,
apakah ada penyelundupan senjata, atau kepentingan
pihak ketiga. Ini perlu klarifikasi," kata Happy Bone
Zulkarnaen (Fraksi Partai Golkar).

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Arief Mudatsir Mandan
(Fraksi Partai Persatuan Pembangunan) mengusulkan, di
masa mendatang jual beli senjata dilakukan
antarpemerintah untuk meminimalkan praktik ilegal.

Pasar abu-abu

Pengamat militer Andi Widjajanto menjelaskan, pasar
senjata dunia memang mengenal tiga cara pembelian,
yaitu cara legal antarnegara, lewat pasar abu-abu
(grey market), dan cara ilegal di pasar gelap.

Pasar senjata di AS mengenal ketiga cara tadi. Bentuk
penjualan G to G (government to government) harus
melalui persetujuan Kongres AS, sedangkan mekanisme
grey market biasanya dilakukan industri senjata AS
dengan menjual produknya ke perusahaan tertentu. "Dari
perusahaan itu, senjata dipasarkan lagi ke negara
tertentu, yang sesuai dan didukung Pemerintah AS atau
CIA. Selain itu, ada pasar gelap, biasanya untuk
senjata curian atau dari operasi militer yang dijual,"
ujarnya.

Menurut Andi, meski dikenai embargo oleh AS, Indonesia
selalu mempunyai akses ke pasar abu-abu. Hal itu
dilakukan perusahaan-perusahaan vendor dan rekanan,
yang muncul memanfaatkan peluang dari embargo.

Andi menilai penangkapan dua pengusaha senjata dari
Indonesia itu berkaitan dengan niat AS untuk menghapus
pasar abu-abu karena mekanisme penjualan senjata
langsung AS-Indonesia akan dibuka.

"AS tak ingin Indonesia punya dua jalur akses," ujar
Andi. (DWA/sut)


===
Dampak Pornografi: 1 di antara 3 wanita AS diperkosa. Tiap tahun 2,3 juta wanita hamil di luar nikah di Indonesia (Dr. Boyke). Berantas pornografi dukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi - www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke