Semoga di suatu masa Anda keinginan mulia Anda menjadi salah satu dari 4 istri yang dimiliki suami terwujud. Atau mungkin Anda sudah mengalami masa itu?
aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MAs Ambon yang baik,
Rupanya mas agak malas membaca dibawah padahal ada jawabannya dibawah
Aris coba ulaskan dari bawah :
Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa
Jawa
> itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa
Allahlah
> yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya
> (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan
kata-
> kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada
> cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya,
> dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah.
> Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali
> mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena
> Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata
> ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht".
> Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat
> Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini-
> menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat
> Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut
> sebenarnya dipetik dari Al-Q}iuran.
> Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal,
> kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya,
karena
> diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah
> Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.
> Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai
> berubah :
> "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat
> Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada
> taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap
> masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di
> balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-
> hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"
> [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]
salam,
Aris
btw: Mas bisakah aris dipanggil aris saja atau mbak kayaknya lebih enak dan tepat
Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Aris yang budiman,
Anda menulis "bagian bab dari gelap menuju terang berasal dari Isnpirasi
sebuah ayat Al Quran", jadi saya yang saya tanyakan ialah, ayat mana?. Coba
kalau saya teruskan apa yang katakan itu kepada orang lain, lantas ditanya
ayat mana, apa yang akan saya jawab kalau saya sendiri tidak tahu. Itu saja.
Wassalam,
----- Original Message -----
From: "aris solikhah"
To:
Sent: Friday, April 21, 2006 10:27 AM
Subject: Re: kartini tidak menangis Re: [ppiindia] Muslimah Menolak
Pornografi-Pornoaksi
> Mas Ambon,
> Pernahkah mas membaca biografi KArtini yang tebelnya masya Allah. Aris
> kutipkan beberapa hal uraian dibawah mengenai KArtini. Yang diabwah memang
> sudah banyak dianalisa versi Islam. Sedangkan di buku itu bila kita
> objektif... maka kita pun akan menemukan hal yang tak jauh berbeda.
>
> Kartini saat beliau akhirnya bisa mempelajari Al Quran......maka jiwanya
> yang haus makin terdewasakan. Mas bisa membaca dari surat-surat yang ia
> kirim pada sahabat2nya. Surat Kartini sebelum mendapatkan kajian Islam
> (tercerahkan) berbeda sekali setelahnya. Kartini setelah mendapatkan
> kajian Al Quran lebih berbobot, PD dan berisi serta dewasa, sangat
> kelihatan beliau punya pegangan kuat. Aris kadang berfikir... bagian bab
> ini kenapa jarang sekali disinggung oleh rekan-rekan yang memperjuangkan
> kesetaraan gender.
>
> Satu hal mas Ambon yang patut diketahui.... Kartini menikah dengan
> bupati yang sudah beristri...yah kartini mau dipoligami. Memang Kartini
> menjadi istri yang paling dicintai diantara semua istri-istri yang lain.
> Apakah ini disinggung oleh rekan-rekan kesetaraan jender... apa perlu
> lecek biografi Kartini yang saya baca itu berbohong, padahal buku itu
> dibuat oleh rekan-rekan yang mengaku bahwa buku ini merupakan bukti
> kartini memperjuangkan kesetaraan perempuan. Ah.... sedang didalamnya
> diuraikan kartini menikah dengan bupati yang sudah punya Istri. Kartini
> setuju dipoligami... dan memang Kartini menikah tidak dengan paksaan, dia
> ridhlo dan rela.
>
> selamat membaca semoga bermanfaat.
>
> salam,
> aris
> http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1992/04/22/0012.html
>
>
>
>
> K A R T I N I
> (bagian 1)
>
> 1. Mukadimah
> Bismillahirrahmanirrahiim.
> Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-
> wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari
> emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi.
> Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya,
> dan ingin kembali kepada fitrahnya. Perjalanan Kartini adalah
> perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini
> masih dalam proses.
> Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas
> dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak
> dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini bukan anak
> keadaan, terbukti bahwa dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang
> kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini.
> Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang
> tersirat dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang
> terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang".
> Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) - mengartikan
> kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju
> Cahaya" yang bahasa Arabnya adalah "Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur".
> Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari
> dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah
> atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk
> atau kebenaran). Di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah : 257, ALLah
> menegaskan:
> ALLah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan
> mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir
> pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari
> cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka
> kekal didalamnya.
> Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun
> cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena
> terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah
> kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk
> mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya:
> Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat
> agama lain memandang agama Islam patut disukai.
> [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]
> Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah
> mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun
> melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang
> yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari
> lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-
> gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi,
> mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang
> teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk
> mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.
> Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah
> menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau
> bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari
> Barat, untuk mengubah keadaan.
> Manusia itu berusaha, Allah lah yang menentukan.
> [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900]
> Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang
> tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha
> dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak
> kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu
> perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita
> tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang
> sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang
> sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa.
> Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya
> dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai
> pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.
> [Al-Quran, surat Al-Baqarah : 134]
> 2. Siapakah Kartini?
> Kartini lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A
> Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya
> bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji
> Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial
> waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.
> Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah
> lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja
> Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi
> bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan :
> R.A.A. Tjitrowikromo.
> Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari
> kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.
> Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario
> Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini,
> Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu
> singkat pendidikannya di Belanda, ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa-
> bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat.
> Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada
> tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran
> yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu
> itu. Dengan nota yang berjudul: " Berilah Pendidikan kepada bangsa
> Jawa", Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua
> Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan
> Laut (Marine). Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen
> Kesehatan adalah sebagai berikut:
> Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk
> melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat
> menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang
> menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat
> menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang
> sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam
> menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan
> mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah
> suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai
> sebagai obat. Soalnya, sebetulnya sangat sederhana : penyakit-
> penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari
> negeri itu sendiri.
> Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa
> Eropa, teristimewa yang menderita penyakit disentri atau
> penyakit lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tak
> dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita
> yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, belum
> lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter
> dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu
> mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan 2 pekan dan akan
> meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus
> asa, ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati. Dan
> gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dan
> dapat bicara kembali. Apa obatnya? Serangga-serangga kecil
> yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang emas.
> Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu
> menolong, sedang obat dokter tidak.
> Dokter-dokter kita, sebenarnya dapat mengumumkan kasus-
> kasus seperti itu, tetapi mereka tidak pernah melakukan hal
> demikian. Mungkin karena khawatir akan ditertawakan oleh para
> sarjana? Seorang dokter bumiputera yang pengetahuannya setaraf
> dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya
> harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.
> Dengan membaca petikan nota Kartini yang ditujukan kapada pemerintah
> Hindia Belanda tersebut, kita dapat memperkirakan daya nalar Kartini
> untuk ukuran jamannya.
> [bersambung]
> keyword: kartini
> K A R T I N I
> (bagian 2)
> 3. Kartini Mendobrak Adat
> Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit.
> Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau
> adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun
> duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak
> kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau
> kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa ~rkromo
> inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang
> diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.
> Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga
> bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih
> tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di
> dekatnya sajalah yang dapat mendengar.
> Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-
> pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak
> cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar".
> [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]
> Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala
> peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja.
> Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia
> keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara
> kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara
> lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-
> batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.
> [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]
> Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk
> mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama
> di Jawa, keningratan sesorang diukur dengan darah. Semakin biru darah
> seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Kartini menentang
> keningratan darah.
> Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran
> dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh
> menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan
> asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang
> yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh
> pikiranku yang picik ini.
> [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]
> Keningratan darah sekarang ini hanya tinggal sebagai barang antik
> di museum. Sebagai gantinya sekarang muncul keningratan-keningratan
> baru: keningratan pangkat, keningratan jabatan dan semacamnya.
> Puncak dari segala keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa
> yang paling banyak menyimpan harta, dialah yang paling ningrat. Semua
> dapat diatur olehnya. Keputusan dan kebijaksanaan semua orang akan
> berjalan merunduk-runduk di hadapan keputusan dan kebijaksanaan orang
> tersebut.
> Anehnya lagi, mereka yang mengaku sebagai Kartini-Kartini Masa
> Kini, tidak menentang keningratan-keningratan baru tersebut. Bahkan
> sebagian besar mereka menjadi korbannya, kalau tidak boleh dikatakan
> sebagai abdinya yang setia.
> 4. Kartini Memandang Ke Barat
> Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-
> baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan
> mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa.
> [Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899]
> Diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda terhadap bumiputera,
> telah menjatuhkan moral mereka. Kartini meskipun berasal dari kaum
> ningrat, tapi pendidikan Barat yang dikenyamnya telah mengajarkan
> kepadanya bahwa Timur itu rendah dan Barat itu mulia. Kartini
> bukannya tidak menyadari indoktrinasi ini, tapi kenyataan yang
> dilihatnya belum lagi dapat dibantah. Dalam dunia pendidikan
> misalnya, Kartini melihat perbedaan yang menyolok, antara apa yang
> dimiliki oleh Belanda dengan apa yang baru dapat dicapai oleh
> Bumiputera.
> Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-
> tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan
> pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja
> Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari
> pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku
> pelajaran sekolah.
> [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]
> Dari sini nampak bahwa Kartini menyadari pentingnya peranan buku
> dalam mencerdaskan kehidupan anak manusia. Kalau masa kini,
> kebudayaan membaca terkalahkan oleh kebudayaan video, apakah jawabnya
> adalah Kartini masa kini sudah lebih maju dalam hal mendidik anak-
> anak mereka?
> Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan
> menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih.
> [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900]
> Agar setaraf dengan Barat, Kartini merasa perlu untuk mengejar ilmu
> ke Barat. Barat adalah kiblat Kartini setelah melepaskan diri dari
> kungkungan adat.
> Pergilah ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang
> terakhir.
> Surat Kartini kepada Stella [12 Januari 1900]
> [bersambung]
> keyword: kartini
> K A R T I N I
> (bagian 3)
> 5. Sahabat-sahabat Dekat Kartini
> Adat pada dewasa itu tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul
> lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal
> seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para
> ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya,
> menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas;
> sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak
> tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa. Dalam situasi
> demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada
> lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan
> orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap
> lebih ningrat daripada orang Jawa.
> Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke
> depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa
> Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri
> Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun
> pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah "musuh-musuh dalam selimut"
> yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya.
> Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering
> terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya :
> - J.H. Abendanon
> Abendanon datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900. Ia ditugaskan
> oleh Nederland untuk melaksanakan Politik Etis. Tugasnya adalah
> sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena
> 'orang baru' di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan
> masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia
> memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta
> nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronye, seorang
> orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-
> Belanda dalam Perang Aceh.
> Lebih jauh, Hurgronye mempunyai konsepsi yang disebut sebagai
> Politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam
> mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut keyakinannya,
> golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan
> Islam, terutama golongan santrinya. Memasukkan peradaban Barat dalam
> masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk membendung dan
> akhirnya mengatasi pengaruh Islam di Hindia Belanda. Tidak mungkin
> membaratkan rakyat bumiputera, kecuali jika ningratnya telah
> dibaratkan. Untuk tujuan itu, maka langkah pertama yang harus diambil
> adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk
> kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati
> Kartini, dan untuk tujuan itulah Abendanon membina hubungan baik
> dengan Kartini. Kelak, Abendanonlah yang paling gigih berusaha
> menghalangi Kartini belajar ke Nederland. Ia tidak ingin Kartini
> lebih maju lagi.
> - E.E. Abendanon (Ny. Abendanon)
> Dia adalah pendamping setia suaminya dalam menjalankan tugasnya
> mendekati Kartini. Sampai menjelang akhir hayatnya, Kartini masih
> membina hubungan korespondensi dengannya.
> - Dr. Adriani
> Keluarga Abendanon pernah mengundang keluarga Kartini ke Batavia.
> Di Batavia inilah, Ny. Abendanon memperkenalkan Kartini dengan Dr.
> Adriani. Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas
> menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Dr Adriani berada di
> Batavia dalam rangka perlawatannya keliling Jawa dan Sumatera. Untuk
> selanjutnya, Dr. Adriani menjadi teman korespondensi Kartini yang
> intim.
> - Annie Glasser
> Ia adalah seorang guru yang memiliki beberapa akta pengajaran
> bahasa. Ia mengajarkan bahasa Perancis secara privat kepada Kartini
> tanpa memungut bayaran. Glasser diminta oleh Abendanon ke Kabupaten
> Jepara untuk mengamati dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini.
> Tidak mengherankan jika kelak Abendanon dapat mematahkan rencana
> Kartini untuk berangkat belajar ke Nederland, dengan mempergunakan
> diplomasi psikologis tingkat tinggi. Semua pihak telah gagal dalam
> segala upaya untuk menghalangi kepergian Kartini ke Belanda. Kartini
> telah berbulat tekad untuk ke Belanda. Tapi, tiba-tiba, Abendanon
=== message truncated ===
pustaka tani
nuraulia
---------------------------------
Blab-away for as little as 1¢/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn Indonesian language course
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

