boljug séh! gaya bahasa pak asahan sinis-tragis, membelah kegelapan bahasa basa-basi.
dengan alur cerita yg ketat, ironi tetap terjaga rapih.
salam, heri latief
BISAI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Asahan Alham Aidit:
(8A) YANG BERGANTUNGAN DI SEKITAR JENDELA*
Kelenteng yang kami diami hanya mempunyai dua buah jendela. Jendela yang pertama tidak bisa dilihat oleh para kami yang kaum Adam karena ia terletak di kamar seorang teman putri yang menghadap ke barat dan dihalangi oleh sebuah dinding yang juga merupakan sebuah kamar satu satunya yang ditempati temana putri itu. Jendela ke dua menghadap ke utara yang kebetulan persis berdekatan dengan tempat tidur saya atau lebih persis lagi tempat pembaringan saya terletak di bawah jendela yang ke dua ini. Salah satu pemandangan sehari-hari yang bisa saya lihat, disampung sebuah kandang babi yang jaraknya dari jendela saya itu hanya sekitar dua puluh meter, lalu sumur tempat kami bersiram juga tampak dari jendela saya itu, tapi bukan hanya tempat mandi khusus bagi kami saja tapi juga seluruh prajurit maupun perwira yang mengabdi pendidikan kami, mandi di sumur yang sama. Di luar jam mandi dua prajurit wanita yang memasak di dapur, selalu mencuci piring-mangkuk kotor atau semua
peralatan makan dan masak memasak, di sumur ini. Lalu pemandangan terahir adalah tualet atau kakus yang berdekatan dengan kandang babi. Praktis, bila semua kami telah di dalam rumah atau kelenteng ini, dunia luar .kami saksikan dari jendela ini. Pada setiap jam cuci piring , tempa tidur saya selalu menerima banyak tamu untuk menyaksiksan dua gadis prajurit muda yang selalu menyingsingkan celana seragamnya tinggi-tinggi hingga mencapai betis untuk menghindari percikan air tentunya, tapi diluar atau mungkin juga di dalam pengetahuan mereka, itu adalah semacam peragaan kontes betis yang indah. Dua pasang betis Ken Dedes Vietnam ini kadang tampak berdiri, kadang tampak jongkok yang kadang -kadang menghadap ke arah jendela kami yang membuat kami para Ken Arok pelarian politik ini, terbit satu gairah penuh fantasi di hadapan medan terbuka yang tampak menjanjikan itu. Di luar perkiraan semula, pergaulan antara lelaki dan perempuan di antara intern mereka sangat bebas. Mereka
juga bergurau dengan fisik seperti memeluk, berpegangan tangan, bahkan hingga bergelut, bahkan di tengah khalayak. Dan di antara kami ada seorang teman yang oleh karena temperamentnya memang bebas malu dan bebas canggung, bila ada kesempatan, juga menggunakan kesempatan legal memeluk tubuh salah seorang dari prajurit wanita muda di kesatuan kami. Itu tampaknya normal normal saja dalam saling bergurau dan tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang Vietnam lainnya. Dari yang Maha Kuasa, saya tidak menerima temperament yang saya anggap penuh risiko itu. Tapi saya memang merasa cemburu. Setiap Bich Nhu datang mengantarkan makanan ke ruang makan, teman yang berbakat mahal itu dengan tanpa keraguan memeluk Bich Nhu seperti memeluk adik perempuannya sendiri. Kecuali dia, tak seorangpun di antara kami yang berani berbuat demikian.Suatu waktu saya pernah mendapati mereka atau teman yang berbakat itu berdua dengan Bich Nhu di tempat yang sepi dan terlindung. Saya tanpa ragu
ingin menderngarkan apa yang mereka bicarakan dan juga apa yang akan mereka perbuat selanjutnya.Ternyata tema pembicaraan teman saya itu, politik. Bich Nhu hanya mendengarkan. Keingintahuan saya lebih lanjut menjadi sirna bahkan rasa cemburu sayapun luntur dengan sendirinya dan saya biarkan teman itu melanjutkan diskusi monolognya dengan Bich Nhu.
Dalam satu diskusi grup, seorang teman tiba-tiba mengajukan banyak keluhan yang beberapa diantaranya cukup aneh. Dia memprotes jemuran prajurut wanita disampirkan di muka jendela kami. Memang, secara horizontal ada tali jemuran yang terentang di depan jendela tempat setiap orang menyampirkan jemurannya masing-masing. Tapi yang diprotes teman itu adalah jemuran celana dalam, kutang, dan yang kadang-kadang perca putih yang harus diucuci dan dijemur sebulan sekali bagi setiap perempuan yang mengalami masa terhalangnya. Tapi kami tidak terlalu heran akan semua keluhan yang diajukan teman anti jemuran lingeri yang mengganggu fantasinya itu . Dia sudah lama mendapat gangguna syaraf di antara kami-kami yang sesungguhnya juga pasien penyakit sejenis yang masih dalam stadium ringan. Kami para biarawan revolusioner yang berseragam militer sedang mengalami masa pemeraman untuk dimatangkan bagi keperluan revolusi dan pembebasan tanah air, kader-kader yang sedang dibajakan
meskipun terbikin dari daging-daging lunak.Setiap yang memancing panggilan kodrat, bagi mereka yang terlalu peka, akan juga menimbulkan trauma ideologi. Lalu teman itu mengatakan bahwa ia merasa diteror oleh teman-temanya sendiri dengan bermacam cara, merusak benda-beda miliknya di luar pengetahuannya, mencurigai dirinya sebagai mata-mata musuh dan macam-macam lagi.Sebuah syndrom yang sudah hampir komplit untuk diantarkan ke seorang psikiater.Tapi bila hendak jujur apakah dia saja yang merasa "tersadisi"dengan pemandanga jemuran eksotis yang hampir setiap hari melambai-lambai di depan jendela kelenteng kami yang terpencil di tengah-tengah sawah.
Suatu hari saya bercakap dari hati ke hati dengannya. Begitulah istilah yang populer ketika itu yang lahir dari pernyataan bahwa soal ideologi tidaklah mudah dan sering-sering harus menggunakan metode pendekatan dari hati ke hati. Tapi bukan maksud saya untuk mengurusi ideologi teman itu. Sekedar bicara dan omong-omong biasa sehabis pelajaran. Dia bilang: "suatu hari saya hampir memutuskan untuk meledakkan semua bahan peledak dalam kelenteng ini supaya cepat selesai". Besoknya saya bilang pada teman putri yang satu-satunya di antara kami agar dia mengatakan kepada dua prajurit wanita yang memasak di dapur agar tidak menjemur peralatan lingeri mereka di depan jendela kami karena sudah ada yang protes. Seminggu kemudian teman yang protes itu di antarkan ke Hanoi ke sebuah rumah sakit penyakit syaraf. Yang dijemur memang berpindah tempat. Sekarang di samping ruang kami belajar karena di sana juga ada tali jemuran dan kami bisa menyaksikannya paling tidak lima jam sehari .
Itu hanyalah benda-benda manis kepunyaan dua gadis manis di hadapan kehidupan kami yang mengandung kepahitaan, hidup dalam pemeraman yang belum jelas apakah ketika telah matang akan berguna atau cuma akan membusuk dan tercampak.
* Dari kumpulan Cerpen-memoar Asahan Alham Aidit.
http://www.geocities.com/herilatief/
[EMAIL PROTECTED]
Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
Klik: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

